Merasakan Dari Dekat Antusiasme Kader dan Pengurus HMI Cabang Metro

- January 27, 2018

Bersyukur dan ikhlas/ Himpunan mahasiswa islam/ Yakin usaha sampai/ Untuk kemajuan/ Hidayah dan taufik/ Bahagia HMI

Berdoa dan ikrar/ Menjunjung tinggi syiar islam/ Turut qur’an dan hadits/ Jalan keselamatan/
Ya Allah berkati/ Bahagia HMI

Kumandang hymne Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di atas dinyanyikan setelah selesai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pada acara pelantikan pengurus HMI dan Kohati Cabang Metro, Rabu, (24/1/2018) di Ball Room Hotel Grand Sekuntum Kota Metro. Ada ratusan kader HMI dan puluhan alumni memenuhi ruangan aula hotel milik Ketua Umum PMD KAHMI Kota Metro larut dalam kehusyukan menyanyikan hymne yang telah berumur lebih setengah abad tersebut, tepatnya diciptakan oleh aktivis HMI yang berasal dari HMI Cabang Medan, bernama R.M Akbar dan tetapkan pada Kongres ke-5 di Medan pada 24-31 Desember 1957.

Tak terhitung jumlahnya saya telah menyanyikan hymne tersebut, tetapi selalu saja bergetar dan ada rasa haru merasuk ke sanubari. Entahlah, saya selalu merasakan ada gelora perjuangan, ada keyakinan dan optimisme sekaligus ada kepasrahan absolut pada Tuhan, sebagai penentu akhir dari perjuangan dalam setiap bait syairnya. Termasuk, saat hadir di pelantikan, setelah 13 tahun lebih saya tak lagi aktif sebagai anggota HMI karena telah menjadi alumni, namun tetap merasakan gelora semangat yang sama seperti ketika saya menjadi kader.

Tak paham persis, apakah perasaan yang saya alami itu dialami juga oleh kader HMI yang lain, namun yang jelas setiap kader yang pernah berproses di HMI akan memiliki kesan tersendi, dan biarlah menjadi cara masing-masing untuk menikmati dan menjadikannya kenangan.

Saya relatif lama tak hadir di acara-acara formal HMI Cabang Metro, selain dari perkaderan. Saat memasuki area pelantikan, di halaman terpampang banyak ucapan selamat, ratusan kendaraan sepeda dua dan puluhan mobil berjejer, ada banyak orang yang hadir dalam acara tersebut, barangkali memang begitulah setiap kali pelantikan pengurus baru HMI Cabang Metro, selalu ramai.

Saya hanya bisa menilai suasana dan kondisi saat itu, antusiasme kader luar biasa. Bukan, lantaran banyaknya jumlah kader yang hadir melainkan saya menyaksikan bagaimana support mereka terhadap Ketua Umum HMI Cabang Metro yang dilantik, saya beberapa kali mendengar gemuruh tepuk tangan saat mulai ketua umum berdiri untuk menyampaikan sambutannya, hingga selesai.

"Ini baru sekali terjadi, sejak saya aktif di HMI mendengar ketua umum sambutan diawali dengan mengaji," komentar salah seorang senior sepuh yang terlibat sebagai pelaku sejarah awal kelahiran HMI Cabang Metro di tahun 1978.

Saya sendiri hanya mencatat dan menggarisbawahi sambutan singkat ketua umum, "semoga pengurus dan kader HMI kembali bangga terhadap al Quran, sebagai kitab suci dan landasan perjuangannya." Poin itu terasa sangat penting bagi saya, saat saya menemukan ada banyak aktifis Islam, yang jangankan bisa memahami al Quran dengan baik mengeja huruf hijaiyah dengan benar saja susah dan terbata-bata.

Ajakan kembali untuk berbangga dengan al Quran, bukanlah ajakan simbolik. Ajakan tersebut tak boleh menguap di ruang hampa, ia harus benar-benar masuk dalam relung hati terdalam setiap kader. Sejarah Berdirinya HMI pada hari Rabu 14 Rabiul Awal 1366, yang bertepatan dengan tanggal 5 Febuari 1947, bertolak dari dua aspek penting yaitu posisi Indonesia pasca kemerdekaan dan gelombang pemikiran dan pergerakan Islam yang dianggap statis. Sehingga rumusan tujuan HMI, dilatarbelakangi oleh kedua aspek tersebut, mempertahankan Negara RI dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam

Hal tersebut tergambar dalam pernyataan Ayahanda Lafran Pane setelah meresmikan pendirian HMI, “keputusan mendirikan HMI, kami (saya) tegaskan karena kebutuhan sangat mendesak bagi para cendekiawan muslim muda untuk ikut dalam perjuangan kemerdekaan nasional. Selanjutnya HMI juga diharapkan mampu melestarikan dan mengamankan ajaran Islam. (Agus Salim, 1997: 310).

Tidak ada yang kebetulan dari berdirinya HMI. Ditengah situasi politik nasional pasca kemerdekaan dan keadaan yang masih mencekam, HMI berkomitmen untuk mempertahankan NKRI. Pada fase awal berdirinya, HMI berperan aktif dan kerap bersinggungan dengan politik nasional guna mempertahankan NKRI. HMI kerap melibatkan diri dalam upaya perlawanan fisik maupun diplomasi.

Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai landasan ideologi perjuangan HMI tentu tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kemampuan memahami dan mengamalkan al Quran secara baik. Nilai dasar perjuangan itu bertaut erat dengan iman, ilmu dan amal. iman adalah nilai, ilmu adalah dasar dan perjuangan adalah amalnya. Yakin usaha sampai bukan pula sekadar jargon dan yel-yel, sebagaimana yang dimaksudkan Walikota Metro dalam sambutannya, Yakin Usaha Sampai (yakusa) adalah ikrar ideologis. Yakin karena didasarkan pada nilai keimanan, usaha dibangun di atas pondasi/dasar ilmu dan pengetahuan, sampai karena ada amal dan perjuangan.

Hal ini penting saya sampaikan, karena tentu saya menaruh harapan besar terhadap HMI dan kader HMI, mampu bergerak sebagai organisasi modern, meretas kebuntuan atas segenap persoalan bangsa. Hadir sebagai khairu ummah, menyerukan kebajikan universal, kebajikan yang berlaku umum yang disepakati dan tak satu makhluk pun berselisih atasnya,  sebagaimana disampaikan Arif Musthafa dalam orasi ilmiahnya.

Sejarah kelahiran NDP, sebagaimana catatan Cak Nur memiliki posisi dan fungsi strategis dalam HMI. NDP berfungsi sebagai pedoman dan pegangan bagi setiap anggota serta panduan agar mampu memahami Islam dengan baik. Dua syarat utama suksesnya perjuangan ialah, pertama, Keteguhan iman atau keyakinan dasar, yaitu idealisme yang kuat yang berarti harus memahami dasar perjuangan itu.

Kedua, ketepatan penelaahan kepada medan perjuangan guna dapat menetapkan langkah-langkah yang harus ditempuh, berupa program perjuangan atau kerja , yaitu ilmu yang luas. (Nurcholis Madjid dalam Kata Pengantar Naskah Awal NDP).

NDP terdiri dari tujuah garis beasar bahasan, “Dasar-dasar kepercayaan, Pengertian dasar tentang kemanusiaan, Kemerdekaan manusia dan keharusan universal, Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan, Individu dan masyarakat, Keadilan sosial dan keadilan ekonomi, dan Kemanusiaan dan ilmu pengetahuan”. Tak terlalu rumit memahami kemana arah perjuangan HMI, ketika membaca bagian-bagian dari nilai dasar pejuangan ini.

Antusiasme kader HMI hadir di acara pelantikan beberapa hari yang lalu, dengan semangat dan kegairahan baru, menjadi langkah awal untuk tetap memberikan kepercayaan besar terhadap HMI untuk menemukan identitas sejatinya. Kemampuan mengindentifikasi diri itulah yang akan menjadi jawaban atas pertanyaan dan harapan setiap orang, termasuk harapan Walikota Metro agar HMI mengambil peran dalam mewujudkan visi kota, harapan Gubernur Lampung untuk mengambil bagian penting dari pengembangan pembangunan di Lampung, termasuk harapan para alumni yang diwakili oleh Arif Musthafa, HMI mampu menjadi bagian penting dari kebangkitan Asia. HMI, harapan masyarakat Indonesia.

Akhirnya, selamat buat pengurus HMI Cabang Metro, semoga mampu mengemban amanah, tanggungjawab dan memenuhi harapan publik.

Advertisement