Kita dan Topeng Simulacra

- January 26, 2018

Membaca buku Hiper-realitas Kebudayaan karya Yasraf Amir Piliang mengharuskanku berefleksi, apakah dunia sekitar ini nyata dan apa adanya? Gerak laku, aku, kamu, kita dan orang-orang yang kita temui setiap hari hatta orang terdekat sekalipun, apakah gerak dan lakunya autentik, atau hanya sekadar seolah-olah autentik?

O, tentu saja kita harus percaya bahwa orisinalitas sikap itu selalu lahir dari laku-laku yang tanpa pamrih, termasuk pamrih untuk diakui sebagai tanpa pamrih. Memberi tanpa harus meminta kembali, atau berharap balasan diberi, melakukan kebajikan tanpa harus berharap diperlakukan bajik, karena tugas kita adalah memberi, berbuat kebajikan, bukan meminta dan menuntut kebajikan, apatah lagi sampai memaksa orang lain memberi dan berbuat baik kepada kita.

Tapi, benarkah segala sikap masih asli tanpa kepura-puraan, tanpa bohong, tanpa topeng? Benar kecuali yang tak benar.

Apakah kebenaran memerlukan pengakuan, baru bisa dikatakan kebenaran? Apakah kebajikan perlu dideklarasikan sehingga baru menjadi bajik? Apakah kebenaran dan kebajikan menjadi tidak benar dan tidak bajik, jika tak diakui sebagai kebenaran dan kebajikan? Apakah segalanya memang harus divoting, sehingga jumlah terbanyak yang menjadi penentu benar atau tidak, bajik atau tidak bajik?

Ada banyak sikap kita atau tontonan lelaku manusia di sekitar kita, yang selalu mengiklankan kebajikan dan kehebatannya? Tanpa kita sadari, ini sebenarnya penegas keraguan kita terhadap 'hebat' dan 'baik'nya diri kita, sehingga tak puas rasanya jika kehebatan dan kebaikan itu tak diaminkan koor oleh orang lain.

Tingginya tingkat kebutuhan terhadap pengakuan orang lain itulah, yang membuat kita rela membayar mahal, bukan hanya dengan banyaknya materi tapi juga dengan mengorbankan separuh kewarasan, merendahkan orang lain hanya untuk diakui tinggi, menyatakan orang lain goblok, hanya untuk terlihat pintar, mengatakan kelompok lain intoleran hanya agar diakui bahwa kita toleran dan demokratis, bahkan tak jarang kita 'berpura-pura' merendah hanya untuk sekadar butuh pengukuhan memiliki ketinggian pekerti.

Aku teringat apa yang pernah ditulis oleh Fukuyuma, dalam The End of History and The Last Man, bahwa kini memang ada banyak realitas sosial yang semu, realitas yang seolah-olah , seolah-olah demokratis, seolah-olah partisipatif, seolah-olah sejahtera, seolah-olah maju dan modern tetapi isinya kropos dan kosong.

Jean Baudrillard dalam buku Galaksi Simulacra mengistilahkannya sebagai "all that is real becomes simulation, semua yang nyata adalah simulasi. Namun, tentu saja itu adalah pandangan nihilisme, yang tak perlu diimani, cukup diposisikan sebagai perapian untuk menghangatkan nalar agar lebih cair dan jernih memandang realitas kebudayaan kini.

Menurut Jean Baudrillard, Simulacra yakni fenomena yang tak lebih dari sekadar iring-iringan tiruan atau model-model realitas yang tidak berkaitan sama sekali dengan realitas sesungguhnya, atau dalam istilah Yasraf Amir Piliang sebagai momentum di mana kebenaran (truth) diambil alih oleh kebenaran-kebenaran yang bersifat fiktif, retoris dan palsu (pseudotruth), di dalamnya perbedaan antara benar dan salah, kenyataan dan ilusi dibuat menjadi samar-samar, kebenaran tidak bisa lagi dibedakan dengan topeng kebenaran."

Kita bisa bayangkan, penguasa yang sebenarnya lebih layak dicurigai menyimpang karena mengelola uang rakyat, bisa setiap saat menuding rakyatlah yang layak dicurigai bahkan dituduh sebagai  sumber kejumudan, kekumuhan dan keterbelakangan dari sebuah kota,  seolah-olah rakyat yang tidak menyetujui program pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah adalah anti kemajuan dan bisa dituding sebagai anti pembangunan.

Padahal kan wajar saja rakyat bertanya, pembangunan itu untuk siapa? Kok rasa-rasanya warga kota tak terlalu perlu gedung seharga 41 milyar, lagian toh kalau butuh memang kuat sewa? Warga butuh trotoarnya bagus, drainasenya tidak tersumbat supaya tak banjir ketika hujan deras.

Tapi, membangun yang tak terlihat wah meski norak itu sepertinya tak afdhal. Dunia sudah terlanjur dibentuk oleh permainan citra (game of image), retorika serta trik pengelabuan informasi. Menggunakan topeng-topeng kesucian ketika berada di tempat suci, kedok-kedok kerakyatan ketika berada di tengah-tengah rakyat, kamuflase demokrasi ketika berada di tengah massa. Sok lugu dan bego jika diprotes, tetapi sebenarnya cuek dan masabodo dengan keluhan rakyat!

"Persis seperti bandot tua!" Aku, kaget, entah suara darimana. Jarum jam di depanku menunjuk ke angka 11.51 malam. Aku tak percaya hantu, tapi aku percaya ada banyak topeng. Itulah salah satu alasan, pada tanggal 10 Februari nanti, aku pasti duduk di bagian depan menyaksilan si Gundoel memerankan "Monolog Topeng" di Cafe Mama.

Tapi, sebelum menyaksikan pertunjukan tersebut, saya ingin menyampaikan bagaimana topeng-topeng di sekitar kita memproduksi citra-citra palsu melalui tiga mesin.

Pertama, mesin simalacrum (simalacrum machine). Mesin yang memproduksi model realitas yang sepintas tampak nyata. Realitas disembunyikan di balik citra realitas (image of reality), sehingga antara “model” dan “kenyataan” tak dapat lagi dibedakan, bersembunyi di balik topeng.

Bahkan, jika diperhatikan baik-baik, tak jarang justeru topengnya malah lebih tampan daripada orang di balik topengnya, tak percaya datang saja tanggal 10 Februari, pada acara serap aspirasi atau musyawarah perencanaan pembangunan, agar tahu bagaimana daftar belanja (shopping list)kekuasaan yang seolah-olah disusun sangat demokratis itu cover-nya lebih baik dari isinya, kalau ke Cafe Mama datangnya jangan lupa membawa uang di dompet minimal 35 ribu, agar bisa menonton Monolog Topeng.

Kedua, melalui mesin kepalsuan (pseudo machine). Mesin ini memproduksi iklim kepura-puraan (pseudo) atau seolah-olah (as if), biasanya hal ini sering terjadi dalam dunia pertelevisian kita, artis A seolah-olah ribut dengan artis B, kepentingannya untuk menaikkan rating, atau menarik perhatian penonton untuk mengikuti sinetron atau film tertentu. Nah, di kota kita mesin kepalsuan ini bisa dilihat dari fenomena penetapan zona bebas korupsi atau pembentukan “saber pungli” sehingga pesannya sampai ke publik di kota ini tak ada korupsi, seolah-olah memang tidak ada pungli.

Ini sama seperti kelakuan kawanku, untuk mengaburkan suara kentutnya biasanya dia akan bicara dan tertawa lebih keras. Seakan-akan ia semangat terlibat dalam diskusi, padahal, mulai dari urusan seragam sekolah, setoran proyek, setoran untuk posisi jabatan tertentu hinga posisi kepala sekolah dia kentutin.

Ketiga, yang tak kalah berbahayanya. yaitu mesin disinformasi (disinformation machine). Mereka memproduksi distorsi informasi dan informasi yang dipelintir (twisting of meaning). Jadi mereka akan tampil di media dengan kesan yang sangat baik, sembari mengancam mendia-media yang kritis dengan ancaman stop berlangganan, stop iklan! Maka tambah jadilah dunia dibuatnya jungkir balik

Namanya penguasa, mereka punya segalanya untuk bisa selalu mencitrakan diri positif, baik, suci dan demokratis.

Dunia seolah-olah, menjadi panggung mereka yang suka 'ngolah'. All that is real becomes simulation