Kita Butuh Tapa Brata

- January 24, 2018


Kita memiliki kesadaran yang sama, bahwa jalan menuju puncak kejayaan, kesuksesan atau puncak apapun adalah jalan yang menanjak, jalan yang sarat dengan perjuangan mengatasi rasa lelah. Tak ada pendakian yang mudah, ia begitu menguras tenaga, mengatur nafas dan mengelola emosi.

Namun, dalam menjalani kehidupan menuju puncak tersebut acapkali kita melahirkan sikap yang paradoks, mengeluh dengan segala kelelahan, kesusahan dan tantangan. Tak jarang kita menyerah di tengah jalan, menggerutu sembari mencari jalan pintas. Padahal jalan pintas menuju puncak pastilah lebih curam, daripada jalan memutar yang membutuhkan waktu yang lama.

Hidup yang ditempuh menuju puncak, dengan jalan pintas tentulah memberi resiko lebih besar. Hidup instan, bukan hanya membuat kita gagal berproses tetapi juga sering membuat kita tersesat dalam lembah kehinaan, kita menduga itu adalah pendakian ke atas, padahal sebenarnya kita menjerumuskan diri pada jurang keterpurukan.

Jalan yang sunyi dari hambatan, tak melelahkan hingga tak butuh perjuangan dan pengorbanan selalu layak dicurigai bukan sebagai pendakian, bukan perjalanan menuju puncak.

Isyarat Tuhan dalam Kitab Suci, bahwa tak ada satupun orang yang sampai pada level tertinggi kehidupan, sepi dari cobaan. Selalu ada ujian baik itu berupa rasa takut, rasa lapar hingga hidup dalam kekurangan dan kehilangan.

Lantas, kenapa kita abai dan selalu melahirkan sikap paradoks antara konsepsi ideal dengan praktik hidup? Tak pandai membaca isyarat alam!

Barangkali kita memang butuh ruang sunyi, ruang meditasi untuk menyelami nilai-nilai kemanusiaan kita, menengok kembali kedalaman sadar kita, kewarasan dan normalnya kita sebagai manusia berhati dan berakal. Kita butuh ruang tapa brata.

Tapa brata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai bertarak, menahan hawa nafsu atau berpantang. Kita juga mengenal tapa brata merupakan nomenklatur dalam etika Jawa yang dilakoni untuk tujuan meraih kesempurnaan jiwa. Dalam perspektif Max Weber, Sosiolog Jerman, tapa brata serupa dengan asketisisme. Weber menegaskan bahwa hasrat untuk mendapat kekayaan yang didasarkan pada pengenduran nilai-nilai moralitas, adalah keliru dan sesat.

Menurut Weber, the wordly asceticism atau tapa brata duniawi, difokuskan melalui konsep calling (sinyal/panggilan) yang lahir dari semangat reformasi gereja. Calling merujuk pada ide awal bahwa bentuk tertinggi dari kewajiban moral individu adalah memenuhi tugas-tugasnya dalam urusan duniawi, Weber menilai kekayaan menjadi amoral jika hanya dilakukan untuk menopang kehidupan mewah dan bermalas-malas.

Dalam lakon pewayangan, kita mengenal Abimanyu yang disosokkan sebagai kesatria sejati berusia muda. Ketokohan Abimanyu terbentuk oleh dialektika hidup yang sama sekali tak sederhana, Ia lahir dan besar dalam suasana serba kekurangan, hidup dalam nestapa kemiskinan dan penderitaan.

Abimanyu adalah putra Arjuna. Ia tumbuh dalam asuhan pamannya, karena ketika itu para Pandawa termasuk ayahnya Arjuna harus menjalani pengasingan selama 12 tahun dan masa penyamaran selama setahun. Namun, penderitaan tersebab kemiskinan, justru membuat Abimanyu terkukuhkan sebagai seorang pribadi yang jernih menyimak kehidupan.

Kemiskinan yang telah mencetuskan tapabrata atau asketisisme, menghantarkan seorang Abimanyu pada kebeningan jiwa menatap segenap pernak-pernik dunia dengan hati nurani. Sisi terang dan sisi gelap dunia lalu terdeteksi secara apa adanya, tak mengambil lebih dari apa yang menjadi haknya.

Abimanyu lahir sebagai tokoh teladan dalam lakon cerita pewayangan, yang penting disimak secara seksama di tengah lahirnya banyak penguasa dan pemodal yang tamak dan serakah. Nestapa kemiskinan tak membuat Abimanyu cengeng, alai dan lebai. Justru, kemiskinan menghantarkan Abimanyu pada praksis tapa brata, menghayati kemiskinan sebagai cara membentuk pribadi berkarakter, begitupun kala berada di tengah kemapanan, tak membuatnya lupa daratan dan abai terhadap perjuangan.

Abimanyu merupakan sosok dengan kebeningan nurani yang tiada tara. Jiwanya mampu mencerna kemungkinan timbulnya prahara besar, pertumpahan darah akibat perseteruan tak kunjung usai antara Pandawa dan Kurawa. Perang besar Pandawa versus Kurawa telah sedemikian rupa hadir sebagai narasi tentang kecamuk ambisi dan angkara murka. Dan, sebagaimana terdeteksi melalui kebeningan hati nurani Abimanyu, perang besar itu merupakan simbolisme dari kebengisan manusia menghancurkan sesamanya.

Abimanyu hadir sekaligus menjadi korban dari perang kekuasaan tersebut. Melawan angkara murka yang terus menerus ditebarkan Kurawa. Meski sebelumnya ia berjanji untuk tak ikut berperang, karena ia paham jika melanggar janji tersebut ia pasti terbunuh, tetapi Abimanyu tak pernah lari dari gema yang berkumandang dari kedalaman hati nuraninya, ia ikut berperang dan akhirnya terbunuh dengan gada Dursasana, setelah berhasil mematahkan formasi Cakrabyuha.

Abimanyu berjuang mengorbankan diri dan istrinya yang sedang mengandung.

Begitulah, cerita Mahabharata, dalam narasi perebutan kekuasaan dan politik selalu hadir, meski lebih sering tampil dalam wajah tunggal Kurawa, jarang dan langka kita mendapati tokoh-tokoh politisi yang duduk di lembaga parlemen dan lembaga eksekutif hadir memerankan wajah Pandawa, apalagi serupa wajah Abimanyu, meski cukup banyak tokoh-tokoh tersebut yang di kala bocah sesungguhnya bergumul dengan nestapa kemiskinan dan hidup serba kekurangan.

Wajah-wajah penguasa sekali lagi, lebih sering hadir menegaskan diri sebagai sosok Sengkuni, Duryodana, Laksmana dan Dursasana, wajah-wajah serakah, yang acapkali lelakunya penuh tipu muslihat dan kemunafikan.

Kemiskinan di masa kecil malah mengkristalisasi ratapan jiwa dan umpatan kesadaran, bukan fase edukatif mengasah nurani. Tatkala bocah miskin itu lantas dewasa dan berhasil menorehkan namanya sebagai anggota parlemen atau penguasa, maka secara reflek-psikologis terkobarkan dendam pada kemiskinan masa lampau, menjadi kemaruk, rakus dan dzalim, dengan membiarkan dirinya terseret sengkarut kejahatan korupsi.

Mereka yang dulunya adalah aktifis yang sering berkoar-koar tentang ketakadilan, kekuasaan yang dzalim, tidak sertamerta mendedahkan pengalaman tersebut sebagai atmosfer edukasi tapa brata, melainkan menjadi bekal dan latar pengalaman untuk lebih lihai mengelabui rakyat, bersandiwara dan berkamuflase sebagai pejuang rakyat, padahal sejatinya adalah pribadi dengan mental budak, menghamba pada kuasa imperialistik.

Maka, tak perlu heran jika sewaktu-waktu tokoh-tokoh yang sering menyebut dirinya wakil rakyat itu lebih mirip dengan tokoh-tokoh Kurawa atau tokoh yang penuh dengan trik tipudaya seperti Sengkuni. Mereka menjadi anggota parlemen, tetapi di saat yang sama juga menjadi pengusaha dan pemburu setoran, mulai menjadi makelar proyek, makelar jabatan atau bahkan seringpula menjadi calo dalam penerimaan PNS, sering tampil sebagai sosok yang humanis dan merakyat, tetapi sesungguhnya berhati serigala.

Jiwa yang tak pernah memaknai kehidupan sebagai tapa brata, memang tidak akan pernah puas dan cukup dengan kehidupan, sampai kapan pun!

Anehkan, jika ada manusia yang mengaku berakal sehat, memiliki hati, waras, paham mana benar dan salah, serta mengakui betapa pentingnya perjuangan untuk sebuah kemerdekaan, justeru menghambakan diri pada kapitalisme yang culas, menjadi budak imprealisme!