Geliat Panggung Teater di Kota Metro

- January 23, 2018

Jagad teater di Kota Metro sedang bergeliat. Barangkali kalimat itulah yang cukup refresentatif untuk bisa menjelaskan eksistensi teater di Kota Metro belakangan ini. Setelah sukses dengan gelaran Sendratasik (seni, drama, tari dan musik) bertajuk "Putri Sumur Bandung" di Cafe Mama, pada tanggal 10 Desember 2017 yang lalu, semangat untuk terus menggelar pementasan seakan tak bisa dihentikan.

Kali ini, acara yang dijuluk Performing Art kolaborasi Sendratasik 16 dan 17 yang mengangkat tema "Nguri Uri" digelar dari tanggal 22 hingga 23 Januari 2018, di Balai Kelurahan Mulyojati. Tak tanggung-tanggung acara tersebut menampilkan 5 (lima) pementasan sekaligus, Cintaku, Cintamu Bukan Cinta Kita, Asmoro Singo Barong, Bhineka Tunggal Ika, Jimat Mbah Tejo dan Jaka Tarub, dirangkai juga dengan pagelaran Parade Tari Nusantara, Tari Saman dan Tari Gambong.

Pementasan "Sumur Putri Bandung" yang mengangkat historitas lokal Kota Metro, tentang sumur bersejarah yang dulu menjadi sumber mata air, sumber kehidupan warga Kota Metro dan sekitarnya, memang sukses menyita perhatian publik. Ada banyak komentar, apresiasi positif dan harapan gelaran teater akan dilaksanakan rutin di kota bervisi pendidikan ini.
Pementasan Putri Sumur Bandung (10/12/2017)
Acara pementasan yang pertama kali digelar di cafe dan ruang terbuka, menjadikan kawan-kawan pegiat teater dari berbagai kalangan, perguruan tinggi, sekolah hingga komunitas warga itu, menjadi pionir yang berhasil membawa pementasan teater melompat keluar dari ruang-ruang tertutup dan eksklusif. Teater hadir ke hadapan publik dengan sarat pesan, menyampaikan kritik secara santun untuk perubahan kota, meninggalkan wasiat bahwa untuk melahirkan sejarah baru, tak perlu harus menghancurkan sejarah lama.

Sosok Putri Kahyangan yang muram dan sedih, karena sumur tempat biasa ia mandi dan bersenda gurau, kini tak terurus. Mengirimkan pesan kepada penguasa dan pengambil kebijakan agar tak abai melibatkan hati dan nurani kala menggalakkan pembangunan, hingga tak ada luka, tak ada kesedihan yang menimpa siapapun makhluk di muka bumi ini.

Pamflet Performing Art

Kini, para seniman yang turut ambil bagian dalam pementasan Putri Sumur Bandung tersebut menggelar kembali pentas di ruang publik, di Balai Kelurahan. Meski, barangkali tak seserius garapan pementasan pertama, karena pentas kali ini adalah bagian dari ujian semester mata kuliah seni, drama, tari dan musik di Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan (STKIP) Dharma Wacana Kota Metro, tetapi paling tidak pementasan ini adalah bagian dari spirit dan keberanian dari para pegiat panggung drama dan teater  untuk tampil lebih inklusif, di depan publik.

Teater tak boleh hidup dan berputar-putar di sekitar para pegiatnya saja. Ada banyak hal yang bisa dilakukan dan disampaikan, melalui panggung-panggung kesenian hatta hal-hal yang kelompok lain kadang tak mampu melakukannya.

"Teater tak boleh terkungkung dan terkekang, teater harus merdeka. Ada banyak banyak permasalahan masyarakat Indonesia yang layak menjadi naskah menarik, yang harus terus disuarakan!" Kata Rachman Sabur, kala waktu.

Andika 'Gundoel' Akan Pentaskan Monolog Topeng

"Hidup adalah kepalsuan. Sedangkan topeng adalah alat untuk mengekspresikan kepalsuan." Begitulah Andika Gundoel Septian, pegiat teater yang menjadi sutradara dalam pementasaran Putri Sumur Bandung, Desember lalu menyatakan ketertarikannya untuk kembali menyutradarai "Monolog Topeng" karya Rahman Sabur ini, sekaligus menjadi aktornya.

Rencananya, Monolog Topeng ini akan dipentaskan tanggal 10 Februari 2018 mendatang di Cafe Mama. Pemuda gondrong yang akrab disapa Gundoel ini telah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Bolak-balik memastikan tempat dan menatanya menjadi artistik untuk kepentingan pementasan adalah bagian persiapan penting yang dilakukannya.

Sekali lagi, Gundoel berusaha untuk membawa teater ke ruang publik. Mengemasnya secara apik dan layak ditampilkan di tempat nongkrong seperti Cafe. Untuk menghindari kesan murah dan minimnya apresesiasi, pertunjukan teater Monolog Topeng ini rencananya akan dibebankan biaya bagi penonton senilai 25 ribu rupiah. Sebuah angka kecil sebenarnya untuk sebuah karya besar, yang butuh latihan, keseriusan yang melibatkan rasa dan karsa.

Teater hadir di ruang publik, tentu memiliki banyak makna. Bukan sekadar hiburan dan pertunjukan, tetapi selalu menitipkan pesan, tak melulu soal tontonan tetapi juga tuntunan, di dalamnya ada kritik yang diiring musik. Maka, berterimakasihlah kita, karena geliat teater yang merambah ruang publik, bisa menikmati hiburan yang asyik tanpa perlu panik.



Advertisement