Menikmati Sejarah Sumur Putri Lewat Pertunjukan Sendratasik Seni-One

- December 15, 2017

Pertunjukan seni, drama, tari dan musik (sendratasik) rombongan Seni-One Kota Metro, Sabtu (2/12/2017) masih menyisakan kesan mendalam dalam ingatan saya, bukan karena keterlibatan saya dalam menulis naskah drama yang dipentaskan itu, tetapi bagaimana rombongan para seniman ini menyampaikan pesan lewat rasa yang halus, gerak tari yang menggetarkan jiwa.

Pertunjukan bertajuk Putri Sumur Bandung tersebut, menceritakan tentang sumur bersejarah di Kota Metro, sumur yang menjadi sumber mata air sekaligus menjadi sumber kehidupan warga yang tinggal di Metro, Trimurjo, Pekalongan dan Punggur, sebuah pertunjukan yang membuat penonton terpana saat menyaksikannya

Barangkali selama ini banyak orang sedikit bosan bila menikmati sejarah melalui bacaan atau diorama yang ditampilkan di dalam museum. Maka, pertunjukan sendratasik yang ditampilkan rombongan Seni-One yang merupakan gabungan dari lima komunitas di Kota Metro, seperti Komunitas Sentir, Komunitas Sang Saka, Keluarga Cakau, Teater UKM Impas dan Teater UKM Mentari, menghadirkan cara seru untuk menikmati sejarah yang di Cafe Mama, yaitu melalui pertunjukan seni, drama, tari dan musik bertajuk 'Putri Sumur Bandung'.

Saya begitu menikmati pertunjukan 'Putri Sumur Bandung' ini bersama dengan 700an penonton lainnya awal bulan lalu. Pertunjukan 'Putri Sumur Bandung' selama kurang lebih 45 menit ini memadukan aksi teatrikal, tarian, nyanyian, musik, hingga tata lampu, serta set panggung yang spektakuler. Penonton yang menyaksikan pertunjukan ini akan merasa ikut larut ke dalam cerita. Dalam beberapa babak pertunjukan yang menyuguhkan tarian, penonton seakan diajak berinteraksi dan ikut menari bersama dengan para pemain, terutama ketika adegan awal mula ditemukannya mata air.

Yang lebih hebatnya lagi, 35 pemain yang terlibat dalam pertunjukan tersebut menarikan koreo yang mereka ciptakan sendiri, "setiap pemeran menyumbangkan satu gerakan yang kemudian kita padukan menjadi satu koreo yang utuh," jelas Andika Septian, sang Sutradara "Putri Sumur Bandung".

Pengakuan akan kedahsyatan pertunjukan ini pun datang dari berbagai pihak. Berdasarkan komentar penontoan, mereka semua mengaku salut dan takjub. "Ini sejarah!" "Saya seperti disuguhkan masa-masa tahun 60-an", "pengen pertunjukan seperti ini rutin diselenggarakan", dan beberapa komentar positif lainnya.
Mbah Joko  Sedang Melukis Bersama 5 Putri yang sedang Menari
Cerita 'Putri Sumur Bandung' berpusat pada tokoh utama "Mbah Joko" sebagai pelukis, sebagai penutur kisah Sumur Putri. Mbah Joko dalam lakon ini sebenarnya mewakili banyak narasumber yang bercerita tentang keberadaan Sumur Putri sebagai sumur bersejarah di Kota Metro. Seluruh cerita yang disampaikan Mbah  Joko dalam lakon ini, adalah rangkuman pitutur dari Mbah Riri, Mbah Martini, Mbah Rusman dan Mbah Rijal, termasuk Fritz Anton Kasim yang masa kanak-kanaknya sering mandi dan nyemplung di Sumur Putri.

Cerita Mbah Joko ini dirangkum dalam 7 babak. Babak pertama menampilkan Mbah Joko yang sedang melukis Sang Putri, memberi prolog tentang cerita Sumur Putri di masa lalu yang dilanjutkan dengan babak berikutnya, yang menampilkan setting cerita pada tahun 1935 hingga 1942 ketika pertama kali Sumur Putri ditemukan dan dibangun menjadi sumber mata air kala itu.

Aktifitas suka cita penduduk, kegiatan mencuci, mandi, mengambil air hingga penduduk yang menjual hasil ladang berupa buah-buahan, mengambil rumput untuk pakan ternak menjadi berkah melimpah karena adanya sumber air dari Sumur Putri tersebut dihadirkan dalam bentuk tarian yang indah.

Hingga silang pendapat penamaan sumur tersebut, yang sebagian menyebutnya Sumur Bandung dan sebagian lagi menyebutnya Sumur Putri diperagakan secara apik. Minim dialog tapi sarat pesan.
Putri sedang bersedih dan dayang-dayang yang berusaha menghiburnya
Puncaknya, ketika sampai pada bagian yang menampilkan Sang Putri sedang bermuram dan menangis karena menyaksikan sumur tempat Ia biasa mandi, terbengkelai dan tak terurus, iringan musik sendu, 4 dayang-dayang menari pelan mengikuti irama musik, menghibur Sang Putri, membuat suasana pertunjukan mengharu biru, tak sedikit penonton yang mengaku menitikkan air mata terbawa suasana, bahkan saya yang tak asing dengan kisah Sumur Putri dan menyaksikan proses latihan setiap hari juga tak kuasa menahan sedih, terutama ketika menyaksikan Sang Putri menitikkan air mata sembari tersenyum dengan tatapan kosong tak bertenaga hingga bunga mawar dalam pegangannya terlepas.

Pertunjukan ditutup dengan menampilkan kembali Mbah Joko yang telah menyelesaikan lukisannya, sembari menyindir halus para pemegang kekuasaan yang senang menciptakan sejarah dengan menghancurkan sejarah.

"Memang susah memahami jalan pikiran pemerintah. Mereka bilang air sumber kehidupan.
Dulu Sumur Putri ini adalah sumber mata air, sumber kehidupan para kakek moyang mereka, Tanpa sumur ini, belum tentu mereka juga ada. Tapi, mereka lebih suka mengeluarkan dan menghamburkan uang yang banyak untuk membangun bangunan gedung yang sebenarnya belum tentu menjadi keperluan mendesak mereka. Kan, Aneh?"

"Apa perlu para putri kahyangan dan para bidadari turun mandi di sini, memakai kemban tipis, baru mereka para pemerintah itu mengalihkan perhatiannya kesini?"

"Bisa jadi!"

Kata-kata Mbah Joko tersebut, menjadi bagian penutup pertunjukan "Putri Sumur Bandung" malam itu, yang disambut dengan tepuk tangan 700-an penonton yang memadati Cafe Mama.