Ke Jogja, Anakku Belajar!

- December 31, 2017

Dua puluh satu tahun yang lalu, aku pernah bercita-cita untuk menimba ilmu di sini, di Jogjakarta. Kala itu aku baru saja menyelesaikan pendidikan pesantren. Namun, jalan hidup menakdirkan lain. Keluarga lebih senang jika aku pergi ke Lampung, karena ada beberapa kerabat yang lebih dulu menetap di Lampung, tepatnya di Kota Metro, menjadi alasan utama aku harus belajar di kota tersebut. "Ada yang menjaga," begitu alasan orang tuaku.


Kini, cita-cita untuk belajar di kota yang dikenal sebagai kota pelajar ini kembali menggelora, meski bukan untuk aku lagi tentunya, melainkan Rafi, anak sulungku,  generasi yang secara tidak langsung telah memosisikan diri sebagai penerus mimpi-mimpiku, setidaknya sebagai awalan, mimpi untuk belajar di kota ini.

Rabu sore, pertama kali kami sampai di Jogja. Rafi yang baru pertama kali datang ke Jogja sudah menegaskan kecocokannya dengan kota ini. Tiba sore hari, malamnya ia sudah tak sabar diajak jalan, malam aku mengajaknya untuk nongkrong di Blandongan, tempat para mahasiswa dan aktivis Jogja sekitar berkumpul menghabiskan malam, sekadar ngobrol atau nonton film. Keesokan harinya kami jalan-jalan ke Malioboro dan sekitarnya, malamnya kembali nongkrong hingga dini hari di Legend Coffee, semua dinikmatinya tanpa mengeluh.

Hari Sabtu, (30/12/2017) aku baru mengajaknya melihat sekolah di mana ia akan menimba ilmu, Muhammadiyah Boarding School (MBS) Prambanan, sebelum memutuskan untuk menuliskan namanya di formulir pendaftaran, sengaja ku minta salah seorang ustadz untuk menemani mengecek kondisi asrama, kelas dan lingkungan MBS, sekaligus menjelaskan berbagai jadwal kegiatan dan aktivitas, dengan niatan agar tak ada penyesalan dan keluhan ketika kelak ia menjalani studinya di sini.

Setelah selesai keliling, kembali ku pastikan apakah ia tak ingin mengubah niatnya? Dengan yakin ia menjawab, cocok dan ingin segera mengisi formulir pendaftaran, meski sudah dijelaskan konsekuensinya ia tak bisa langsung ikut belajar di kelas 1 SMA, karena harus ikut kelas penyesuaian (takhassus) selama satu tahun, menurutnya tertunda setahun bukanlah masalah.

Usai pendaftaran, aku mengajaknya untuk jalan-jalan ke Candi Prambanan, sengaja membiarkan berjalan sendiri, masuk ke dalam candi, sedang aku menungguinya di luar.  

Malamnya, tanpa menunjukkan rasa lelah, kami kembali nongkrong di Kopi Negeri Jurgen hingga menjelang pukul 02.00 dini hari, bertemu kawan-kawan aktifis dari berbagai latar belakang, FMN, PMII dan HMI. Ia menyimak setiap obrolan kami, meski ku tahu pasti tak satu pun dari obrolan kami yang dipahaminya, karena tentu saja obralan kami, bukan obrolan yang lazim dikonsumsi anak usia 14 tahun, namun tetap saja ia menyimak, tak menunjukkan rasa jenuh apalagi terlihat mengantuk.

Selepas nongkrong, dan kembali pulang ke tempat oom (paman)-nya, sebelum tidur dan sebelum menulis catatan ini, aku kembali bertanya, bagaimana dengan Jogja? Ia hanya menjawab singkat, keren.

Aku tak seberapa paham kedalaman jawaban keren yang terlontar dari mulutnya itu, aku hanya tahu ia suka dengan suasana Jogja, dan tentu saja aku menyukai jawaban itu. Hanya itu!

Jogja adalah mimpi masa laluku. Kini, kembali ke kota ini dengan mimpi baru. Aku berharap ia banyak belajar tentang banyak hal.

Aku sengaja tak ingin banyak menanggapi, ketika ia berkomentar soal plang penunjuk arah yang bisa ditemui di sepanjang jalan Malioboro hingga Tugu Jogja, dan membandingkannya dengan plang di Kota Metro, kota tempat ia lahir. Aku tahu, ia sering mendengarku protes soal penguasa di kota kami yang miskin apresiasi nilai-nilai lokalitas.

Di hari kedua, ia mengulang komentarnya tatkala kami berkunjung ke Taman Pintar, "Andai di Kota Metro, shopping dibuat kayak Taman Pintar ini, dan setiap tulisan-tulisannya dikasi aksara Lampung." Komentarnya. Aku hanya tersenyum dan segera mengajaknya ke halte Trans Jogja, karena hari telah hampir gelap.

Jogja adalah gudang kreativitas. Biarlah ia belajar sendiri, mengapa penting mengapresiasi kebudayaan dan nilai-nilai lokalitas. Kenapa kreativitas menjadi lebih penting dari segala materi yang sering mengecoh orang untuk terus berlomba-lomba mengumpulkan dan menumpuknya. Biarlah ia belajar menemukan jawaban atas segala penasaran dan tanya yang menumpuk di kepalanya.

Jogja, aku yakin akan memberinya lebih, tak sekadar gelar kelulusan dan pengetahuan, tetapi juga pengalaman.

Terimakasih buat kawan-kawan, Rizaul Insan mantan Ketua Cabang FMN Jogjakarta, kawan-kawan dari UIN, anak pulau dan aktivis PMII yang gagal aku ingat namanya, kawan-kawan HMI dari Lampung yang kuliah di Jogja, Ikram kerabat yang menyediakan tempat bagi kami. Meskipun aku tak yakin apa yang kalian sampaikan tak semuanya bisa dicerna anakku, M. Rafi Rausyan Fikri, tapi setidaknya telah berhasil membuatnya penasaran dan banyak bertanya.

Semoga, ia betul-betul berjodoh untuk belajar, menimba pengetahuan dan pengalaman di kota ini.*

Advertisement