Haruskah Menua sebagai Manusia Asosial?

Bangun tidur, bekerja, makan, buang air, bermain, tidur, bangun lagi. Aktivitas yang terus berulang setiap hari, monoton dan menjenuhkan. Aktifitas mengulang yang dialami oleh hampir seluruh manusia yang hidup di muka bumi ini, meski dengan laku dan lakon berbeda-beda. Seoarang pegawai akan menjalani rutinitas hariannya dimulai dengan bangun pagi, pergi ke kantor pulang menjelang sore hari, walikota, pedagang, guru, dosen atau profesi apa saja, akan menjalani aktivitas yang mengulang setiap hari, hingga ia menua, sakit-sakitan dan akhirnya hanya berkutat dari tempat tidur dan kamar mandi, kemudian mati.

Menjadi tua memang sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak, kecuali bagi mereka yang mati muda. Masa tua adalah masa-masa di mana pendengaran dan penglihatan telah menjadi plus-minus, ingatan mulai terganggu, dan biasanya di titik ini orang dianggap menjadi tak terlalu penting bahkan barangkali tak lagi cukup dibutuhkan.

Gambaran masa tua seperti inilah yang divisualisasikan oleh Vittorio de Sica dalam film Umberto D. Menjadi tua adalah perjalanan hidup yang paling tidak diinginkan dan pasti tidak mengenakkan, memiliki kulit keriput dan tenaga yang lemah. Kehidupan yang menjadikan tokoh Umberto D, mempertimbangkan ide untuk melakukan bunuh diri, meski dia merasa ragu karena ia tak dapat menemukan sesorang yang bisa menjaga anjingnya.

Vittoria de Sica secara piawai lewat film ini menjadikan realitas kehidupan sebagai tontonan, dimana menjadi tua bukanlah kehidupan yang menarik, apalagi tanpa keluarga yang bisa membantu mengatasi kesulitan yang dialami setiap hari. Dan semua kita, saya dan anda, apapun ragam profesi dan aktivitasnya hari ini, niscaya akan menjadi tua, meski (mungkin) tak sama persis dalam film Umberto D.

Maka, menjadi sangat patut menggugat dan mempertanyakan kembali tentang segala rutinitas yang mengulang dan monoton setiap hari, sebagaimana kehidupan tokoh Umberto D, seorang pensiunan pegawai pemerintahan di Kota Roma, yang masa mudanya ia lalui dengan kecintaan luar biasa terhadap pekerjaannya, serupa kecintaannya terhadap dirinya sendiri, dengan melakukan pekerjaan yang tak jauh berbeda, karena cinta terhadap pekerjaan itu bahkan ia pun melupakan hal yang tak kalah penting, untuk menjadi manusia seutuhnya dengan berkeluarga, dan akhirnya menjadi tua sendiri, dan sosok Umberto D, memang bukanlah sosok manusia yang gemar berinteraksi dengan orang lain.

Barangkali, kita juga memiliki kehidupan yang tak jauh berbeda dengan Umberto D, bangun pagi, berangkat kerja, pulang sore dan beristirahat, atau sesekali pergi berlibur, begitu seterusnya, disibukkan dengan kehidupan dan dunia kita sendiri. Sangat mencintai pekerjaan, hari-hari kita lalui dengan terus menerus bekerja, sehingga mengabaikan ruang sosial yang juga perlu diisi, dalam benak kita adalah pekerjaan dan karir, karena di puncaknya ada materi dan kebahagiaan.

Menonton Umberto D, bagi saya menjadi medium berefleksi. Ditemani secangkir kopi, setumpuk buku yang teronggok di samping, saya kemudian menyusun beberapa pertanyaan mendasar dan menggugat tentang aktivitas-aktivitas yang mengulang itu. Membaca, menulis, menjadi tahu yang sebelumnya tidak tahu dan akhirnya tahu masih banyak yang belum diketahui, bekerja mendapatkan uang, makan dan minum, hidup dan menikmati kehidupan, kemudian menjadi tua dan tiada.

Kesuksesan memang bisa menjadi kebanggaan yang tak jarang menjebak kita kepada rasa angkuh dan sombong. Menjadi pintar, kaya, baik, benar, alim dan shaleh adalah orientasi yang di puncak pencapaian tertinggi banyak menggelincirkan manusia menjadi sombong, sehingga tak jarang mengecilkan, meremehkan, merendahkan dan menghinakan orang lain, dalam rangka sekadar mendapat pengakuan relegius, terhormat dan mulia.

Tapi, benarkah pencapaian puncak, jabatan tertinggi, pintar, kaya dan keshalehan mendorong orang untuk angkuh? Jawabannya, relatif dan subyektif, kembali kepada setiap orang untuk menilainya sendiri secara obyektif dan jujur. Bagi saya, yang doyan ngopi, menjawab pertanyaan tersebut, penting merenungkan apa yang ditulis Dee Lestari dalam Filosofi Kopi (2006), bahwa sesempurna apa pun kopi yang dibuat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin disembunyikan. Sesempurna apa pun hidup manusia, manusia adalah manusia, hidup adalah hidup, manusia yang hidup akan selalu memiliki sisi sepi dan rindu, untuk bersama orang lain, betatapun bibirnya berat membuat pengakuan.

Kopi dan buku, semestinya menjadi medium bagi saya untuk memaknai kehidupan lebih dalam. Dalam keduanya ada rasa, kopi bukan hanya soal pertemuan warna hitam dan putih yang diwakilkan oleh kopi dan air atau gula, tapi juga pertautan rasa, dan buku adalah sajian dan jendela pengetahuan, nutrisi dan pandangan yang semestinya membuat saya paham banyak hal tentang hidup dan kehidupan, bahwa hidup bukan hitam putih, bukan hanya soal baik dan buruk, benar dan salah, dalam hidup ada banyak hal yang samar, yang menuntut pemakluman untuk disikapi secara fleksibel dan penuh toleransi.

Hidup bukan hanya soal menjalani lakon harian yang mengulang, berputar-putar dari tempat kerja, tempat tidur, meja makan dan ruang buang hajat. Hidup adalah ruang sosial yang berisi banyak orang dengan ragam kepala dan isinya, yang semuanya butuh penghargaan dan kebaikan. Maka, mestinya saya pandai memberi penghargaan dan menebar kebaikan, karena saya setiap hari bersama kopi dan buku.

Hidup ini cair, semesta ini bergerak, realitas berubah, tulis Dee Lestari dalam Surat Yang tak Pernah Sampai (2001), maka seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Tanya Dee Lestari dalam Spasi (2008). Begitu pun hidup, dapatkah ia bermakna apabila tak memberi manfaat? Dapatkah ia dirasakan kehadirannya, apabila menyendiri dan teralienasi dari ruang sosialnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas penting, untuk menyambut tahun 2018 yang menyisakan 29 hari terbilang, apakah saya atau kita, akan tetap terbangun, pagi berangkat kerja, sore hari pulang dan beristirahat, dan tetap menjadi asosial?

0 komentar