Tulisan Di Sudut Taman Itu Belum Rampung

- November 13, 2017



"Sepandai-pandai tupai melompat, tak akan pernah menjadi guru olahraga!" Begitu kata pepatah yang telah mengalami bongkar pasang, ku baca di postingan instagram kawan.

Entahlah, sekarang mungkin memang sedang jamannya bongkar pasang.

Dan, mungkin kawanku ini bongkar pasang pepatah yang sudah dikenal sejak dahulu kala itu bermaksud menyindirku, "bahwa sepandai-pandai kau melancarkan kritik, kau tak akan pernah bisa menjadi kepala dinas PU." Ah, kawanku ini bisa saja.

Kawan, barangkali engkau masih ingat soal rencana pembangunan komedi putar di tengah taman, meski rencana itu batal direalisasikan karena ditentang dan dinilai kampungan, namun telah menghabiskan anggaran lumayan besar untuk studi banding. Tahukan engkau apa alasannya ketika itu, ketika publik ramai-ramai menolak pembangunan komedi putar itu, enteng dijawab, "itu kan wacana!"

Kawan, bukankah saat itu sudah ada master plan pembangunan, pengembangan dan penataan taman? Mengapa tiba-tiba muncul wacana dadakan? Bagaimana andai rencana itu tak ditolak? Barangkali, di tengah taman kota saat ini, engkau akan membaca tulisanku sambil berputar-berputar di komedi putar di tengah taman itu.

Kawan, kini berulang. Taman kota yang menjadi titik pusat perhatian, ikon, simbol bahkan representasi kehidupan kota dan kehidupan warga tiba-tiba berdiri dengan tegak di sudut taman kota itu, sebuah tulisan yang tak jelas bentuk font-nya, tak jelas pula apa yang indah dari tulisan aneh itu. Yang jelas hanya komentar kawan-kawanku dari luar kota, seolah warga kota ini tak paham seni, bahkan lebih miris lagi ada ada warga sebuah kabupaten di provinsi ini, dengan santai berkomentar, "main-mainlah ke daerah kami, Bang."

"Alamak, Jang!" Bukan hendak merendahkan kabupaten tersebut, secara rasio jumlah warganya yang mengeyam pendidikan tinggi saja jauh tertinggal di bawah warga kota ini, punya kampus perguruan tinggi pun masih berbilang tahun, alih-alih jika hendak membandingkan indeks pembangunan manusia-nya. "Jauh, neng!"

Memang sih, dalam beberapa hal, pejabat kota kami ini pernah meniru acara kalian. Soal tugu, tulisan atau segala hal yang bisa menjadi spot wefie dan selfie, diam-diam dalam hati aku memang mengakui bahwa daerah kalian memang lebih keren dari kota kami. Sudah ku bandingkan tugu gerbang masuk kota ini, telah ku sanding juga foto beberapa nama taman di kota ini dengan tugu dan tulisan di beberapa tempat kalian, hasilnya; sepertinya memang kami harus belajar dari daerah kalian.

Eits, tapi tunggu dulu. Apa yang kalian lihat hari ini, itu belum final. Itu baru usulan cover, biasakanlah untuk tidak buru-buru menilai hanya dengan melihat cover-nya. "Tunggulah hingga rampung, pembangunan itu masih dalam proses, jadi belum terlihat bagus." Setidaknya begitu kawanku mengabarkan di suatu pagi.

Aku tentu saja percaya kabar yang dikirimkan kawanku itu. Percaya dia sudah mengonfirmasi soal biaya pembangunan taman yang berjumlah 800 juta itu,percaya bahwa akan selalu ada jawaban dari setiap pertanyaan pewarta, termasuk jawaban soal font tulisan di sudut taman yang ku nilai lucu dan tak bagus itu, jawabannya; "itu belum rampung!"

Aku percaya kawanku. Aku juga percaya para pejabat di kotaku ini, pandai bersilat lidah! Aku juga percaya soal keahlian mereka.

Tabik.


Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo.