Tamu Kehormatan

- November 01, 2017


Ketiganya terkapar dengan mulut berbusa.

"Maafkan aku kawan, akulah yang menaburi racun pada kopimu, aku tak tahan menjadi orang miskin sehingga tergiur tawaran Tuan Saleh, menjanjikan sejumlah uang untuk membunuhmu," dalam kondisi sakarat ketiganya membuat pengakuan yang sama.

***

Sebuah undangan berwarna hitam, bertuliskan tinta putih keperakan tergelatak di atas meja ruang tamu.

Khan meraih dan membaca pelan, "undangan pernikahan," ejanya. Ia kembali meletakkannya, sembari berlalu menuju kamarnya yang berantakan. Tanpa mengeluarkan sepatu, Khan langsung membaringkankan tubuhnya di tempat tidur, terlentang menatap langit-langit kamar.

Baginya undangan pernikahan adalah petaka. Tak tersisa lagi teman sebayanya.

“Minggu besok, Maul menikah!” Ibunya masuk kamar dan melempar undangan yang tadi ia tinggalkan di atas meja. Setiap kali ibunya memberi tahu undangan pernikahan teman-temannya, Khan akan segera menyambar bantal dan menelungkupkannya di atas kepala.

Namun, ini soal Maul. Orang yang tak ingin Ia ingat sama sekali, sejak kejadian tragis di kedai kopi setahun lalu. Teman yang mencampurkan serbuk racun di kopinya karena tergiur materi dari Tuan Saleh, tawaran yang juga berlaku untuk dirinya dan Iyan.

Kejadian yang akhirnya menjadikan malam petaka bagi mereka bertiga, mereka sama-sama terkapar dengan mulut berbusa, Iyan meninggal di rumah sakit. Ia selamat sebelum akhirnya memilih balik kampung, berubah menjadi lebih pendiam dan suka menyendiri, sedangkan Maul menghilang tanpa kabar berita.
Kini, Maul yang diharapkannya juga sudah menjadi tengkorak, justeru hadir lewat undangan bersampul hitam, mengabarkan bahwa dua hari lagi ia akan menikah. Sebuah pesan yang sangat pahit daripada serbuk racun yang bercampur dengan kopi yang ia tenggak setahun lalu.

Pahit bersama gelegar celoteh Ibunya yang tak pernah bisa berhenti. Menyebutnya sebagai lelaki tak jelas, tak kunjung menikah dan bekerja. Sama sekali tak berguna.

Khan menimang-nimang kartu undangan bersampul hitam itu. Diejanya lagi nama Maul, sebagai sahabat, ada rasa rindu di sudut hatinya.

***

Khan berangkat lebih awal, agar bisa menghadiri akad nikah Maul – tak ada lagi dendam, berganti rindu pada sahabat lama, Ia ingin segara cepat-cepat sampai dan ingin memeluk Maul, meminta maaf dan bercerita banyak hal. Namun, jarak yang sangat jauh bercampur dengan kemacetan di jalan, membuat ia tetap terlambat. Akad nikah sudah selesai.

Khan memilih tempat duduk di bagian paling belakang. Sendiri.

Khan mengenang masa-masa indah kebersamaan mereka bertiga, awal mula perkenalan mereka di sebuah kampus hingga akhirnya mereka memilih pekerjaan yang sama menjadi Penjaga Kedai Kopi, karena hanya ingin menikmati kopi gratis.

Maul adalah lelaki yang paling cuek, penampilannya acak-acakan. Jarang mandi. Perawakannya kecil, tapi memiliki keberanian dan nyali paling hebat. Iyan, lelaki paling romantis dan puitis, tak pernah apatis meski telah ditolak gadis berkali-kali. Dan, Khan, menurut para sahabatnya adalah lelaki paling menawan dan rupawan, banyak perempuan yang datang, tetapi tak pernah Ia respon, alasan utamanya adalah perkawanan.

Perjalanan persahabatan yang begitu manis, hingga perkenalan mereka dengan salah seorang pengunjung bernama Tuan Saleh. Seorang pejabat penting di kota tempat mereka bekerja, anak dari seorang komisaris perusahaan besar di Jakarta, Tuan Mahodra yang kaya raya.

Awalnya, tak sedikit pun mereka tertarik untuk kenal. Apalagi Tuan Saleh seringkali marah tanpa sebab, memaki dan menyumpahi mereka bertiga dengan alasan kopi yang mereka buat tak pas takarannya, padahal mereka sangat yakin kopi yang Tuan Saleh puji beberapa hari yang lalu, takarannya selalu sama dengan kopi yang tiba-tiba meledakkan amarah Tuan Saleh.

Jika sudah marah, seluruh sumpah serapah dan nama binatang akan muncrat dari mulutnya, tanpa mengindahkan pengungjung kedai yang ramai.

“Mungkin burungnya tak bangun, padahal Ia sudah terlanjur membayar mahal lontenya!” Maul mengumpat pelan membalas caci maki Tuan Saleh, seraya berlalu ke dapur.

Tuan Saleh selalu datang bersama dua pengawal yang tinggi besar, berpakaian hitam dan berkacamata hitam, biasa mengambil tempat duduk di pojok kedai, terpisah dengan tempat duduk Tuan Saleh yang selalu memilih duduk sendiri.

***

Suatu sore, Khan melihat perubahan Tuan Saleh. Tuan Saleh terlihat sangat akrab dengan Maul, ia tak pernah lagi membentak, bahkan sangat rajin menghadiahi ketiganya dengan sebungkus rokok kretek yang dititipkan ke Maul.

“Kenapa Tuan Saleh tiba-tiba berubah menjadi sangat baik, terutama ketika mengajakmu bicara, Ul?” Khan bertanya sesaat setelah Tuan Saleh beranjak pergi, tak kuasa menahan rasa penasarannya dengan perubahan sikap Tuan Saleh.

Maul tak menjawab. Ia meneruskan pekerjaannya mencuci cangkir bekas kopi yang menumpuk.

“Maul!!!” Suara Khan meninggi.

“Aku tak tahu, tugasku hanyalah menyeduh kopi dan menyajikannya sesuai permintaan pengunjung, dengan harapan mereka semua senang. Tak lebih!” Maul menjawab datar.

Khan tentu saja tak puas dengan jawaban Maul. Suatu sore, ketika Tuan Saleh berkunjung dan sedang berbicara serius dengan Maul, Ia mengajak Iyan untuk menguping pembicaraan Tuan Saleh dan Maul. Dan, tentu saja bukan pekerjaan yang sulit bagi mereka untuk tahu, karena Tuan Saleh memang selalu mengajak Maul bicara di sudut kedai, sehingga mereka bisa mempersiapkan kemungkinan terbaik untuk menguping pembicaraan penting itu.

Dan berhasil.

Akhirnya mereka paham, alasan mengapa Tuan Saleh mendadak baik, terutama kepada Maul. Penyebabnya adalah handphone miliknya yang waktu itu tertinggal. Ternyata, diam-diam Maul membukanya, membaca pesan, melihat galeri dan menemukan video pribadi Tuan Saleh bersama teman perempuan selingkuhannya, termasuk rekaman pembicaraan-pembicaraan Tuan Saleh soal proyek dan uang-uang setoran.

“Oh!” gumam Khan.

“Jadi begitu Maul.”

Sedang Iyan menganggukkan kepalanya memberi isyarat bahwa ia mengerti.

Jelas. Kebaikan Tuan Saleh bukan tanpa pamrih! Mereka berdua kecewa dengan Maul, meski mereka tak akan melakukan apapun untuk Maul. Mereka justeru memiliki rencana untuk Tuan Saleh. Memeras Tuan Saleh atau membongkarnya pelan-pelan.

Kemiskinan yang terlalu lama menemani kehidupan mereka, membuat mereka lupa bagaimana selama ini beratnya bertahan dalam idealisme dan kebenaran. Entah setan dari mana yang telah merasuki jiwa mereka.

Namun, siapa sangka rencana itu justeru menjadi awal petaka, ketika meraka mulai menjalankan rencananya, tak ada rasa gugup dari Tuan Saleh, semua keinginan mereka diiyakan, mereka girang bukan kepalang, sehingga tanpa sadar Tuan Saleh sedang menyusun rekayasa terburuk untuk persahabatan dan kehidupan mereka.

Dan, akhirnya Tuan Salehlah yang menjadi pemenang.

Tuan saleh berhasil membuat mereka abai arti pentingnya persahabatan. Tuan Saleh berhasil mengadu domba mereka, menjanjikan uang 600 juta dengan syarat mereka harus berhasil menyingkirkan Maul. Janji yang diam-diam juga disampaikan Tuan Saleh ke Maul.

“Saatnya merubah nasib, kesusahan hidup ini harus segera diakhiri!” Bisikan itu begitu kuat mengangkangi akal dan nurani mereka, bertahta dengan jumawa.

Malam telah larut, para pengunjung kedai telah kembali ke tempat masing-masing. Tanpa ragu, Khan dan Iyan menaburi serbuk racun yang diberikan oleh Tuan Saleh ke cangkir kopi Maul. Mereka tak tahu, Maul juga telah menaburi serbuk racun yang sama ke kopi yang akan mereka minum.

Begitulah tragedi di kedai kopi itu berakhir. Hingga akhirnya kartu undangan pernikahan bersampul hitam itu tiba di rumah Khan.

***

“Kenapa melamun?” Maul tiba-tiba telah berada di samping Khan, menggandeng dan mengajaknya duduk di bagian terdepan.

“Ini bukan hanya pestaku, tetapi juga pestamu, pesta kita untuk merayakan pertemuan setelah 12 purnama lebih terpisah.” Lanjut Maul dengan riang, seolah dia telah melupakan kejadian setahun yang lalu.

Khan terdiam. Pikirannya menerka-nerka apa pekerjaan Maul sehingga bisa menggelar pesta sebesar dan semeriah ini – sepuluh ribu kursi lebih tertata rapi berjejer di bawah tarub yang didirikan di atas area tanah ribuan meter, di bagian depan kursi-kursi mewah dengan meja besar berisi berbagai jenis makanan dan minuman. Paling depan terdapat sebuah pelaminan, di pojok agak menyamping terdapat sebuah panggung besar dengan sebuah peralatan musik yang lengkap. Sebuah pesta megah dan mewah.

“Ayolah sudah ku siapkan tempat yang istimewa buatmu. Tempat khusus untuk orang-orang istimewa. Orang-orang miskin dan anak-anak yatim, para pemulung juga pengamen, serta pasukan kuning yang berjasa membersihkan kota ini dari sampah orang-orang kaya yang tak peduli kebersihan,” Maul menggiring Khan ke meja besar dengan kursi-kursi yang dilapisi kain beludru.

“Bukankah orang-orang seperti aku dan yang kau sebutkan tadi biasanya hanya pantas duduk di bagian belakang, kursi-kursi tanpa meja. Tempat duduk ini lebih pantas untuk para pejabat, pengusaha dan para tokoh di kota ini,” Khan protes dengan suasana tak biasa yang disampaikan Maul.

“Tidak kawan, justeru kau dan orang-orang yang ku sebutkan tadilah yang memang semestinya dihormati. Sedangkan para pejabat dan orang-orang kaya itu, sudah biasa untuk hidup enak dan serba mewah. Apalagi para kuroptor dan penerima suap itu, sudah sepantasnya malu dan mengambil duduk paling belakang, bukan malah dihormati!”

Khan terngaga. Ia hendak bertanya, bukankah Maul yang sekarang, juga menjadi bagian dari orang-orang kaya itu. Jika tidak, manalah mungkin Ia bisa menyelenggarakan pesta sebesar dan semewah ini. Namun, pertanyaan itu tak keluar dari tenggorokannya.

“Tak usah heran kawan, pesta ini tak habis 300 juta. Masih ku sisakan 600 juta yang menjadi bagianmu dan Iyan, sahabat kita!”

“Tak hanya itu, telah ku siapkan kopi spesial juga buat Tuan Saleh,” Maul terus bicara.

Tiba-tiba Khan meradang, tenggorokannya kering persis seperti kejadian setahun yang lalu, setelah Ia menenggak kopi yang telah ditaburi Maul serbuk racun.*

***


Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo. Sedang berjuang untuk bisa menulis cerpen hingga memiliki keberanian untuk mengirimkannya ke media (bukan blog pribadi). Ini adalah cerpen kedua setelah "Perempuan Senja".