Mengintip Rencana Penataan Taman Merdeka, Dari Koridor Sejarah Hingga Ruang Baca

- November 08, 2017

Taman Merdeka, kini menjadi salah satu ikon kota. Teramat musykil untuk membicang Kota Metro tanpa menyebut Taman Merdeka. Nyaris seperti membicang Jakarta tanpa Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Beberapa kawan dari luar kota, dengan jujur mengakui bahwa datang ke Kota Metro tujuannya hanya sekadar ingin tahu dan bermain di Taman Merdeka-nya.

Taman Merdeka perlahan menjadi identitas kota, meski dulunya merubah 'alun-alun' kota menjadi taman itu mengundang sinisme dan penolakan. Aktivitas warga di dalamnya seolah menjadi gambaran aktivitas warga Kota Metro secara keseluruhan, padahal yang mengisi ruang-ruang taman tersebut, bukan hanya warga Kota Metro.

Sekilas Cerita Masa Lalu

Taman Merdeka secara spasial tepar berada di tengah-tengah area pusat Kota Metro.Dulunya, ruang terbuka ini berfungsi untuk berbagai macam aktivitas seperti, olahraga sepakbola, upacara dan acara-acara lain yang mengundang massa yang besar.

Dalam perjalanannya, berubah menjadi taman kota, mulanya berpagas sehingga belum bisa terakses bebas oleh publik. Adalah pemerintah Kabupaten Lampung Tengah yang kala itu sukses dan berhasil menata dan menjadikan daerah Kota Metro sebagai Ibu Kota Lampung Tengah menjadi sebuah kota administratif.

Melalui Bupati, Suwardi Ramli berinisiatif merencanakan dan menjadikan alun-alun yang kala itu hanya dimanfaatkan sebagai lapangan sepak bola setiap sore, atau menjadi fasilitas umum yang hanya bisa dinikmati oleh masyarakat saat ada acara pasar malam, layar tancap dan sejenisnya, sebagai taman kota. Kota

Meskipun pada awalnya alih fungsi alun-alun ini menjadi taman, kurang didukuung oleh DPRD Lampung Tengah, karena alun-alun dianggap sebagai jati diri dan mercusuar Metro akan tergusur, DPRD juga meragukan fungsi taman itu kelak bisa maksimal, ada pesimisme taman tersebut gagal mengundang keramaian. Namun, Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah tetap mengupayakan untuk mengubah fungsi alun-alun menjadi taman kota, aneka tanaman, berbagai hiasan, tempat-tempat duduk gaya taman, dan lampu-lampu taman dihadirkan.

Bukan hanya DPRD, warga dan anak-anak muda yang biasa bermain bola di alun-alun tersebut juga acapkali menunjukkan sinisme terhadap para pekerja, dengan menunjukkan aktivitas demonstratif menenteng sepatu dan bola setiap menjelang petang, ketika para pekerja masih sibuk mengerjakan pembangunan taman. Para pemuda tersebut, hendak menunjukkan sikap protes atas kebijakan pemerintah dengan mengubah fungsi alun-alun menjadi taman kota berarti telah merenggut hobi mereka selama ini.

Untuk mengobati dan menjawab kekecawaan para pemuda tersebut, pada saat yang bersamaan, pemerintah juga membangun fasilitas lapangan sepak bola yang cukup megah dan lebih representatif kala itu, Stadion Tejosari. Bahkan, pemerintah juga memperbaiki kondisi lapangan-lapangan sepak bola di pinggir-pinggir kota. (Metro Desa Kolonis Menuju Metropolis, 2004).

Perlahan, alun-alun itu pun menjelma menjadi taman. Alun-alun yang awalnya untuk tempat olah raga atau dipakai untuk pelaksanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha, mulai bergeser. Begitupun halnya pedagang yang sejak awal, datang silih berganti juga mulai tak bisa mengakses tengah lapangan yang telah berubah menjadi taman yang berpagar, sehingga hanya bisa di akses lewat satu pintu.

Meski pembangunan taman telah selesai, pemasangan pagar di area taman memberikan kesan aksesibilitas taman menjadi terbatas, taman benar-benar gagal menjadi ruang publik, rumput-rumput tumbuh liar dan tinggi. Sempat beredar isu, bahwa beberapa kali terjadi pembuangan mayat ke dalam area taman, siang hari atau menjelang sore hari ada banyak tindakan asusila di dalam taman tersebut, konon kadang ada pasangan yang menyamar, si cowok memakai kerudung sehingga terkesan seperti dua orang cewek.

Taman menjadi ajang mesum dan asusila berlangsung hingga Kota Metro menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB), bahkan saya ingat persis di tahun 2000-an, beberapa mahasiswa perguruan tinggi di Kota Metro sempat terciduk diangkut dan dikembalikan ke kampus menggunakan mobil bak terbuka oleh Satpol PP.

Akhirnya, seiring waktu, pagar yang mengelilingi taman dihancurkan sehingga taman menjadi tempat yang terbuka dan bisa diakses bebas oleh publik, sehingga pengawasan juga menjadi lebih mudah. Taman dipercantik dan diperindah, dilengkapi beberapa ornamen yang bisa menjadi daya tarik, sebuah air mancur di tengah taman dibangun, berikutnya bangku-bangku panjang, patung gajah hingga WC bawah tanah juga dibangun.

Tahun 2012, pemerintah Kota Metro kembali mempercantik Taman Merdeka dengan merobohkan air mancur di tengah taman dan menggantinya dengan sebuah tugu setinggi 17 meter dengan bola perunggu di atasnya. Biaya pembangunan tugu yang tetap di lengkapi air mancur tersebut, konon menghabiskan anggaran kurang lebih 2 milyar rupiah.

Rencana Penataan Taman Merdeka
Sumber : Evi Etiningsih, 2016, Rencana Penataan Taman Merdeka Kota Metro
Rencana penataan Taman Merdeka sebenarnya dengan mudah bisa dilacak, tinggal datang ke Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Metro dan lihat dokumen berjudul "Rencana Tindak Revitalisasi Kawasan Kota Metro".
Sumber : Evi Etiningsih, 2016, Rencana Penataan Taman Merdeka Kota Metro
Tak ada yang salah dari dokumen tersebut. Malah dokumen tersebut berjasa menjelaskan konsep yang terencana soal pembangunan kawan di Kota Metro, termasuk salah satunya adalah konsep rencana penataan Taman Merdeka Kota Metro. Selama dokumen tersebut dianggap tak kadaluarsa karena peninggalan penguasa yang lama.

Alasan yang klise dan sering diutarakan oleh pejabat di kota ini, seperti ketika saya menyoal pembangunan ruko dan ritel yang tak sesuai dengan Perda No. 1 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Kota, yang dengan enteng dijawab, Perdanya sudah kadaluarsa, tidak update dan harus segera direvisi. Jadi, bukan pembangunan yang tunduk pada rencana yang dituangkan dalam aturan tetapi rencana dan aturan yang wajib menyesuaikan dengan laju pembangunan. Itulah yang juga barangkali mendasari pembangunan tulisan 'lucu' di sudut Taman Merdeka yang viral itu.

Bukan soal membuat tulisan di pojok Taman Merdeka yang dipermasalahkan, meski konon menghabiskan anggaran fantastis 800 juta rupiah yang pengerjaanya dilakukan dua tahap, tapi soal substansi keindahan dan estetika yang seolah-olah seperti meledek dan merendahkan selera seni warga Kota Metro, hingga beberapa warga di luar Kota Metro ada yang dengan sinis berkomentar, "main-main ke Pringsewu biar keren" atau "kasihan ya seniman Kota Metro" dan beberapa komentar yang bernada meledek lainnya.

Padahal, jika mau guyub dan melibatkan partisipasi warga, ada banyak seniman, arsitek dan desainer di Kota Metro yang mau menyumbang ide dan desain gratis yang jauh lebih bagus dari tulisan yang kini berdiri gagah sembari merendahkan cita rasa seni warga kota itu, apalagi ketika memang ada anggarannya.

Di luar itu, hal yang lebih disayangkan adalah karena ternyata ada desain rencana penataan Taman Merdeka yang sebenarnya lebih komplit dan artistik, di mana di setiap ruang pojok Taman Merdeka telah dipertegas fungsinya masing-masing. Seperti Pojok Ruang Baca, Memory Wall dan Taman Bunga, Koridor Sejarah, dan Ornamentasi Display Elektronik (Eva Etiningsih, 2016; 70-76).
Sumber : Evi Etiningsih, 2016, Rencana Penataan Taman Merdeka Kota Metro
Rencana penataan Taman Merdeka tersebut paling tidak bisa menjelaskan beberapa hal sesuai dengan fungsi taman. Pertama, Taman Merdeka dapat berperan sebagai rest area yang nyaman bagi warga. Taman Merdeka dapat dinikmati oleh semua orang, termasuk warga berkebutuhan khusus, sehingga akses jalan seperti pedistrian wajib didesain ramah untuk semua.

Kedua, Taman Bunga, bisa memberikan unsur tanaman hijau yang dominan, baik untuk tanaman peneduh, penghias dan pelapis tanah (rumput), yang lebih tematik, serta memiliki keragaman yang lebih banyak seperti tanaman bunga yang akan memberi warna pada Taman Merdeka. Penjagaan keberadaan taman bunga ini dilakukan dengan memberikan perhatian khusus yaitu dengan memberi batasan/deliniasi yang jelas sehingga tidak mudah dijamah oleh pengunjung. Secara fisik dapat dilakukan dengan memagari beberapa bagian dalam taman kota yang berfungsi sebagai taman bunga.
Sumber : Evi Etiningsih, 2016, Rencana Penataan Taman Merdeka Kota Metro
Ketiga, Ruang Baca dan Koridor Sejarah memberi kesan Taman Merdeka sebagai ikon Kota Metro yang bervisi Kota Pendidikan. Rencana pembangunan koridor sejarah secara simbolis menghubungan antara rumah dinas Walikota saat ini dengan eks pendopo Kawedanan Kota Metro yang kini masih tersisa (tidak ikut dirobohkan dalam rangka pembangunan Metro Convention Centre), sepanjang koridor tersebut dapat dipajang display yang menceritakan sejarah Kota Metro sejak zaman kolonisasi hingga kini, sedangkan ruang baca di salah satu area pojok Taman Merdeka, akan semakin mempertegas visi Kota Pendidikan.

Andai saja, pemerintah mau fokus dan berkonsentrasi pada rencana penataan Taman Merdeka yang sudah ada, maka rencana yang cukup bagus tak hanya sekadar menjadi rencana bagus, sehingga kebijakan dan pembangunan yang direalisasikan pun tak perlu melahirkan kontroversi. DPRD Kota Metro pun sebenarnya juga bisa menjalankan fungsi pengawasan dan kontrol dengan baik atas rencana-rencana yang telah ada, sehingga tak terkesan hanya jadi stempel eksekutif atau paduan suara yang koor dengan kebijakan berjalan. Mestinya tak perlu segan dan sungkan menyemprit pemerintah jika dianggap offside dalam menjalankan kebijakan dan pembangunan.

Tabik.


Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo