Orang Miskin Dalam Senandung Cinta Rumi


Konon, mencintai orang miskin dengan segala kekurangannya adalah cinta yang paling ikhlas, karena tak ada balas yang diharap. Berbeda ketika mencintai mereka yang berada dan berlimpah materi, bisa banyak udang di balik batu.

Jika pun ada yang mengharap pamrih dari mencintai orang miskin, maka pastilah itu cinta para politisi yang sedang kampanye dan butuh pencitraan, biar dianggap dekat dan tak berjarak dengan kemiskinan, merakyat dan peduli. Tapi, itu bukan cinta, kata Rumi, karena cinta itu berada di ruang sunyi dalam sebuah ruang yang murni.

Dalam pandangan Maulana Jalaluddin Rumi, cinta semestinya memang sunyi, karena cinta adalah mencintai semata, mencintai yang benar adalah mencintai tanpa hasrat memiliki dan menguasai, apalagi sampai mengeksploitasi, begitulah cinta, hadir tanpa syarat.

Bahkan, menurut Rumi, “Rasa manis yang tersembunyi, ditemukan di dalam perut yang kosong ini! ketika perut kecapi telah terisi, ia tidak dapat berdendang, baik dengan nada rendah maupun tinggi.”

Kata-kata Rumi ini, menjelaskan bahwa seberapa pun besar cinta yang ditunjukkan kepada orang-orang miskin, sebelum merasakan dinginnya lantai semen yang menusuk tulang sumsum orang miskin ketika terlelap, sebelum menikmati irama dan nada perut yang tak terisi setiap hari, maka sesungguhnya engkau bukanlah pencinta sejati.

Rumi memberi nasihat; Jika mencintai Tuhan, janganlah pergi ke tiang Salib, karena dari ujung ke ujung tak ada Dia di sana, tak perlu juga ke Pagoda kuno, karena tak ada tanda apapun di dalamnya, bukan pula harus pergi ke pegunungan Herat, karena Dia tak berada di dataran tinggi dan rendah, tak perlu juga mencoba mendaki Gunung Kaf, karena di sana cuma ada tempat tinggal dan legenda burung Anqa, atau berjuang datang ke Ka’bah, cukuplah engkau melihat ke dalam hatimu, karena Dia bersemayam di sana. Kata Rasul, di hati yang ikhlas untuk berada di tengah-tengah kemiskinan setiap saat.

Tuhan ada bersama orang-orang miskin, dan Tuhan memberi 'sangu’ dan memberitahu cara bagamaina mengunjungi mereka, dengan menitipkan “makan” hak orang-orang miskin itu di dalam harta orang-orang kaya. Orang miskin dilarang meminta-minta, karena memang semestinya orang kayalah yang harus menyampaikan dan mengantar amanat Tuhan itu kepada mereka, tanpa mereka minta.

Namun sayang, orang-orang miskin selalu diposisikan sebagai manusia-manusia tak bermartabat, sehingga sering mendapatkan perlakuan tak manusiawi, dibagikan kupon dan diminta berbaris panjang mengantri sedekah, bahkan ada yang terinjak berebut sembako, berebut sesuatu yang semestinya menjadi hak mereka, bukan kebaikan dan kemuliaan bos-bos besar.

Orang-orang miskin, selalu hadir dalam wajah yang penuh luka nestapa, dikunjungi hanya dalam rangka menaikkan popularitas dan citra politik, simbol-simbol kemiskinan mereka digunakan dan dieksploitasi hanya ketika ada kampanye dan pemilu, bukan didatangi dengan penuh cinta dan ajaran kasih agama, sebagaimana Rumi menganjurkannya, sebagaimana pula Rasul mengajarkannya.

Orang miskin terutama yang telah lansia, barangkali usia mereka telah udzur. Namun, ingatlah peringatan agama, menelantarkan dan tak memberi makan mereka adalah perilaku mendustakan bahkan menistakan agama, seberapapun taat dan agamisnya kita, begitu Tuhan peringatan itu tersurat dalam Al Ma’un.

Oleh karena itu, jangan sampai usia yang udzur dan telah senja, tenggelam dalam kesia-siaan karena mengabaikan mereka.

Rumi mengingatkan: Jika engkau bukan seorang pencinta,maka jangan pandang hidupmu adalah hidup, sebab tanpa cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung “Pada Hari Perhitungan” nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan di hadapan-Nya.

Rumi menulis peringatan ini buat kita semua, ia memotret soal bagaimana sejatinya mencintai orang miskin. Terutama buat kita yang berharap dan ingin memiliki makna hidup. Cinta kepada si Miskin adalah cinta yang ikhlas, cinta yang tanpa pamrih dan dusta, laksana senja yang tak pernah ingkar mengirim rindu dan menjanjikan malam. 

Cinta yang sepenuh hati dan kewarasan, menurut Rumi adalah cinta yang didasarkan pada hati dan akal sehat, sehingga ia mampu menunjuk mana duri dan mana mawar, ia tak pernah terkelabui dan terkecoh cuka yang menjelma anggur segar, tak tersesat pada cinta yang dibangkitkan oleh hayalan yang salah, memamerkan kebaikan dan kedermawanan padahal sejatinya sedang memeluk kepalsuan yang menjijikkan.


0 komentar