Menunggu Kelahiran Kembali Cafe Mama

- November 26, 2017
Suasana parkir kendaraan Acara Kopdar Jackmania, 3 November lalu di halaman Cafe Mama.
Mama Cafe and Resto atau lebih dikenal dengan Cafe Mama adalah cafe pertama di Kota Metro. Cafe Mama pernah berjaya di masa-masa cafe belum booming seperti sekarang. Di samping terkenal dengan menu masakan, terutama pindangnya. Cafe Mama dulunya adalah pilihan warga Kota Metro dan sekitarnya untuk hangout dan nongkrong, sebelum meredup dan akhirnya vakum, karena beberapa alasan.

Namun, Jerry Joel - begitu salah satu nama putra pemilik Cafe ini dikenal - rupanya tetap merawat semangat dan mimpi agar Cafe Mama kembali meraih kejayaannya. Tiga bulan tekahir, sering berinteraksi dengan teman-temannya, berdiskusi sampai larut malam bahkan hingga pagi, akhirnya melahirkan kesepakatan untuk bareng-bareng menghidupkan kembali cafe tersebut sebagai tempat kongkow.

Awalnya, diniatkan untuk memberi ruang dan memfasilitasi acara nongkrong dan kumpul-kumpul teman-teman yang kebetulan memiliki hobi yang sama, tetapi dalam perjalananannya semua sepakat untuk mengelolanya secara serius. Akhirnya, rencana disusun, gambar dibuat, anggaran dihitung, branding baru pun ditetapkan, Cafe Mama, Cafe-nya Komunitas.

Setiap sudut dibongkar dan ditata-ulang, dalam perencanaan tergambar jelas setiap komunitas diberikan space, ada panggung untuk pentas seni, musik dan pertunjukan teater, ada pojok dialektika, pojok baca, pojok studio foto, dan ruang bioskop untuk pemutaran film-film terbaru, bahkan di bagian belakang ada ruang berbentuk garden, sebagai ruang outdor yang bisa difungsikan untuk berbagai kegiatan.

Masing-masing space yang diperuntukkan untuk berbagai kegiatan komunitas tersebut akan saya bahas berseri dalam pembahasan khusus. Kali ini saya akan membahas khusus ruang pustaka, yang rencana setiap space di Cafe Mama akan diletakan satu atau dua buah buku, selain tentunya tempat khusus yang sengaja diset sebagai Pojok Baca.

Cafe dan Pustaka

Sebenarnya ide dan konsep memadukan cafe dan pustaka bukanlah ide baru. Di beberapa kota di Indonesia sudah banyak orang yang melakukannya. Di Jakarta setidaknya ada puluhan konsep cafe yang dipadukan pustaka, begitupun halnya di Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Mereka ada yang mengusung konsep bookstore, library, movie, music dan cafe, konsep food, book and playground, konsep good foods good books, dan konsep-konsep lainnya.

Perpustakaan sebagai pusat informasi dan pengetahuan, sejatinya memang hadir dalam konsep yang lebih ramah, nyaman dan menghibur bagi setiap pengunjung yang akan membaca buku.

Zaman yang terus berubah, di tengah masyarakat urban yang bisa mengakses informasi dan pengetahuan darimana saja, kapan saja dan dengan berbagai cara, menuntut eksistensi perpustakaan untuk lebih bisa berinovasi dan berkreasi agar tetap hadir dan tidak ditinggalkan warga. Maka, di titik inilah penting menghadirkan perpustakaan yang fashionable, memiliki aksesibilitas dan nyaman.

Perpustakaan yang mau tidak mau menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat urban, yang mengait-erat dengan tren dan gaya hidup metropolitan. Dengan cara memadukan konsep cafe (makan/minum) dengan pustaka (baca/tulis/diskusi) di dalamnya, dapat membangun citra baru bagi tempat baca yang selama ini dicitrakan sebagai tempat yang serius dan tenang, bahkan terkesan angker, maka konsep padu-padan cafe dan pustaka, diharapkan dapat membuat pengunjung bisa santai membaca buku sambil menikmati hidangan, berkumpul bersama teman dan keluarga. 

Pustaka cafe di beberapa kota yang disebutkan di atas, juga menghadirkan beberapa event kreatif seperti menghadirkan beberapa kelompok musik dari akuistik hingga jazz, mini teater dan event-event berkala seperti serial diskusi, bedah buku, diskusi film dan beberapa kegiatan lainnya.

Di Kota Metro, sebenarnya pernah ada konsep cafe yang dipadukan dengan pustaka. Studio Djadjan yang berada di Simpang Kampus Iring Mulyo, telah memulainya dengan menghadirkan beberapa koleksi buku, Kedai Kopi Pojok Topten pun pernah berikhtiar memulainya, namun sayang Studio Djadjan dan Pojok Topten ini tidak bertahan cukup lama.

Kini, semangat untuk menghadirkan perpustakaan di ruang kuliner yang sekaligus menjadi tempat nongkrong anak muda zaman kini, menjadi salah satu yang digelorakan Cafe Mama. Diharapkan, cafe yang akan dilauching akhir tahun ini atau paling lambat awal tahun 2018 ini, bisa menjadi pusat informasi dan pengetahuan, sekaligus menjadi medium berkreasi anak muda dan talenta lokal Kota Metro, selain menjadi tempat usaha dan bisnis.

Direncanakan buka dari pagi, sehingga sebelum berangkat ke kantor atau tempat kerja, setiap orang bersedia duduk beberapa menit menghabiskan waktu sembari sarapan dan minum kopi, membaca informasi dari media yang secara khusus disediakan dalam bentuk koran maupun kliping media online.

Artinya, Cafe Mama yang menyediakan ruang pustaka adalah bentuk dukungan kongkrit terhadap Kota Metro yang menahbiskan diri sebagai kota pendidikan dan kota wisata keluarga ini, bahkan bukan hanya mendukung kota ini, Jerry bersama kawan-kawannya juga bercita-cita bagaimana cafe ini bisa memberikan support terhadap anak muda dan talen lokal untuk maju.

Dukungan itu, tergambar dalam beberapa agenda yang telah disusun, seperti tanggal 2 Desember 2017 yang akan datang akan ada pementasan akbar, kolaborasi 5 komunitas yang akan mementaskan pertunjukan teater dan sendratasik bertajuk "Putri Sumur Bandung", disusul dengan agenda rencana Launcing Mini Album Phyla Project, Nafas Band, dan Freedom.

Ada banyak orang yang tak sabar menunggu kehadiran kembali Cafe Mama. Semoga segera terealisasi.*