Mengapa Penguasa Harus Dikritik?

- November 16, 2017
Mengapa Penguasa Harus Dikritik?

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely, demikian Lord Acton menegaskan salah satu diktum-nya yang hingga kini populer, bukan hanya di kalangan elit tetapi juga akrab di kalangan kaum alit, di bincang di kantor-kantor para pejabatnya korup hingga warung kopi yang seringkali tak dianggap.

Mengapa penguasa atau pemerintah harus dikritik? Bukan hanya karena pemerintah sedang berkuasa dan punya kecenderungan menyalahgunakan kekuasaannya, tetapi juga lantaran karena cinta. Mencintai kekuasaan dan penguasa yang amanah, sekaligus mencintai wilayah tempat kita tinggal yang sedang diamanatkan untuk diurus 'sang penguasa'.

Penguasa memiliki peluang sangat besar menggunakan jurus 'aji mumpung' ketika berkuasa, mumpung bisa merebut ini dan itu, mumpung bisa mendapatkan barang ini dan barang itu, mumpung mendapatkan pengawalan si anu, mumpung punya kekuatan, mumpung dikerubungi banyak orang yang suka menjilat dan cari muka, mumpung banyak begundal-begundal yang menyediakan dirinya sebagai pembela, maka penguasa tak sedikit yang pongah, suka-suka, merasa selalu benar dan tak pernah lagi menganggap rakyat penting seperti ketika kampanye.

Mengapa penguasa perlu dikritik? Agar penguasa tak lupa, bahwa jabatan yang diembannya berbatas waktu, tak abadi. Ia harus kembali menjadi warga biasa, bergaul dan membutuhkan warga di sekitarnya, pun Ia akan mati berkalang tanah, menjadi bangkai yang berbau busuk.

Mengapa penguasa perlu dikritik? Agar penguasa juga tetap sadar diri, uang yang dikelolanya bukanlah uangnya. Uang itu bersumber dari retribusi, pajak warga yang makan di rumah-rumah makan, belanja di toko, termasuk pajak setiap jengkal tanah dan pemukiman yang mereka huni. Di luar itu, uang yang didapat dari pemerintah pusat itu, juga karena menjual setiap jumlah kepala, jumlah kemiskinan termasuk menjual setiap inci jalan yang akan dibangun dengan dalil "untuk kemaslahatan warga."

Mengapa pemerintah harus dikritik? Agar penguasa juga paham, bahwa kehormatan yang mereka sandang di pundaknya itu, adalah kehormatan yang diberikan oleh rakyat, yang sewaktu-waktu rakyat bisa mencabutnya. Tak ada kehormatan, jika tak ada yang menghormati, maka untuk dihormari berucap dan bertindaklah layaknya orang yang terhormat. Dan, penguasa harus tahu, kehormatan berupa materi dan jabatan itu tak abadi.

Mengapa pemerintah harus dikritik? Karena wilayah yang menjadi wilayah kekuasaannya, bukanlah milik pribadinya. Ada ribuan warga yang juga berhak atas setiap jengkal wilayah itu, berhak atas ruang yang layak untuk khalayak, ruang yang ramah, ruang yang tidak didesain justeru untuk meminggirkan warga. Warga juga adalah pemilik sah ruang bersih tanpa polusi, warga berhak atas air yang mengalir di bawah tanah tanpa cemar limbah industri dan limbah medis rumah sakit, warga adalah pemilik sah atas setiap ruang yang adil, yang berpihak pada warga pengusaha kecil, tidak semata berpihak kepada pengusaha ritel yang bermodal besar.

Mengapa pemerintah atau penguasa selalu dikritik? Karena urusan yang diurusi bukan hanya urusan sendiri, uang yang dibelanjakan bukanlah uang sendiri, daerah yang dikuasai bukanlah daerah milik sendiri, warisan nenek-buyutnya. Lah, kalo membuat atau membangun sesuatu di ruang publik, yang warga sebagai pemilih sah ruang publik itu tak merasa butuh dan menganggap itu tak indah sama sekali, wajar donk warga kritis dan bertanya, pembangunan itu untuk siapa?! Jadi, jika tak siap dikritik, maka lebih baik urus rumah tangga sendiri, anak-istri dan halaman rumah milik sendiri.

Mengapa penguasa wajib dikritik? Sebagai orang yang diamanatkan untuk berkuasa dan mengurus soal wilayah oleh rakyat, mestinya penguasa mengajak musyawarah, ngajak ngobrol rakyat yang memberikannya amanah sebelum membuat rencana terlebih ketika hendak mengimplementasikan pembangunan yang klaimnya untuk rakyat! Jangan slonong boy.

Mengapa penguasa harus dikritik? Untuk memastikan penguasa itu tetap punya otak dan hati!

Begitu...

Tabik.

Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo.