Mendaras Visi Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga

- November 23, 2017

Kota Metro sebagai "Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga" adalah visi pasangan Paijo, ketika kampanye tahun 2015 yang lalu. Lengkapnya, visi itu berbunyi, “Percepatan Kota Metro Sebagai Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga melalui Pembangunan Ekonomi Kerakyatan yang Berkualitas, Berkarakter, dan Berwawasan Lingkungan dengan Melibatkan Partisipasi Publik.

Jika, masa kampanye dulu visi itu adalah janji politik, mka tentu sekarang bukan lagi masanya berjanji, bukan lagi masanya terus menerus membangun citra-citra simbolik, musim janji dan citra telah berlalu, sekarang adalah waktu mewujudkan janji-janji itu, masanya kerja nyata, bukti.

Saya pribadi masih menyimpan visi itu dengan baik, beserta 6 butir penjelasannya, 6 misi dan 6 butir garis besar program yang akan dilaksanakan. Saya, selalu membaca visi itu setiap kali memiliki kesempatan, karena saya punya meyakini pasangan Walikota dan Wakil Walikota Metro, tentulah akan berusaha mewujudkan visi yang menjadi cita-cita ideal untuk Kota Metro itu dalam satu periode kepemimpinannya (tersisa 3 tahun masa jabatan).

Ikhtiar untuk melakukan percepatan dalam rangka mewujudkan Kota Metro sebagai kota pendidikan dan kota wisata keluarga, jelas tertulis dengan huruf kapital bahwa pencapaiannya dilakukan dengan cara (melalui) pembangunan ekonomi kerakyatan yang berkualitas, berkarakter, berwawasan lingkungan dan melibatkan partisipasi publik. (Visi dan Misi lengkap, baca DI SINI)

Penjelasan yang tertulis di lembaran visi dan misi tersebut cukup mudah dipahami dan diingat. "Kota pendidikan dan kota wisata keluarga," dijelaskan akan selalu memperhatikan beberapa hal berikut: Pertama, pembangunan ekonomi kerakyatan, artinya visi tersebut akan senantiasa memperhatikan dan menjadikan ekonomi rakyat sebagai basisnya, persis seperti penjelasan dalam visi tersebut tentang ekonomi kerakyatan, dengan berusaha meningkatkan kapasitas dan kreatifitas mereka.

Ini berarti, kebijakan pembangunan bukan membangun ruko dan toko-toko modern, apalagi menambah jumlah Indomaret dan Alfamart di Kota Metro, yang justeru bisa mematikan warung-warung kecil dan PKL  sebagai basis ekonomi rakyat. Bukan pula mempersulit akses pembeli dengan memindahkan lapak pedagang kecil ke tempat-tempat yang susah dijangkau, karena lebih bijak dan berekonomi kerakyatan rasanya, jika yang direlokasi itu adalah toko-toko ritel yang menyerobot trotoar sebagai lahan parkir.

Kedua, pembangunan berkarakter sebagaimana penjelasan dalam lembaran visi Bapak juga adalah pembangunan yang terintegrasi dengan didasarkan pada karakteristik wilayah, sejarah, dan potensi heterogenitas sosial kemasyarakatan. Entahlah, apakah tulisan di pojok Taman Merdeka yang konon melahirkan bunyi "I Love Metro" dan pembangunan Metro Convention Center (MCC) itu adalah pembangunan yang bercitarasa lokal atau berkarakteristik wilayah, sejarah, dan potensi heteroginitas sosial kemasyarakatan.

Karena, bagi saya sederhana saja. Pembanguan di poin kedua ini cukup menata dan merawat pohon-pohon Mahoni yang berjejer sepanjang Jl. AH. Nasution itu dengan memperbaiki trotoarnya, menyediakan bangku-bangku panjang, mengatur lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) dalam persekian puluh meter sepanjang jalan trotoar tersebut, yang menyediakan minuman dan makanan ringan untuk pejalan kaki, pasti lebih menarik dan asri.

Bisa juga dengan melakukan revitalisasi Sumur Putri di belakang bekas Gedung Wanita, menata lahannya sembari melengkapinya dengan dokumen-dokumen yang berisi informasi riwayat sumur bersejarah tersebut, sehingga bisa menjadi salah satu tempat tujuan anak-anak muda untuk berkumpul sekaligus mengetahui satu titik tempat bersejarah di Kota Metro pada masa lalu, yang menyimpan banyak cerita.

Sekali lagi menurut saya, tidak perlu meneruskan tradisi penguasa sebelumnya yang gemar menghancurkan simbol-simbol sejarah seperti Masjid Taqwa dan Taman Parkir yang kini jadi Metro Mega Mal yang bukan Mal itu. Jika pun ingin 'cuci piring' bekas penguasa lalu cukup menata kuliner yang kini (ketika sore/malam hari) menempati area parkir Pusat Pertokoan Sumur Bandung, agar lebih indah dan nyaman dikunjungi, bisa dengan membuatkan panggung musik, soal penyanyi tentu tak perlu khawatir, karena di situ ada puluhan pengamen yang bisa mengisi panggung tersebut secara bergantian.

Ketiga, berwawasan lingkungan artinya pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan kemampuan dan kesesuaian ruang dengan memadukannya dengan nila-nilai kearifan lokal.

Apakah indikator pembangunan yang berwawasan lingkungan itu? Jumlah rumah sakit yang menjamurkah? Bagaimana dengan rumah sakit yang tak disertai dengan alat dan perlengkapan pengelolaan limbah medis, layakkah disebut berwawasan lingkungan?

Pun, soal poin kelima tentang upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui ekonomi kerakyatan. Menjamurnya toko modern seperti Indomaret dan Alfamart apakah bentuk support terhadap kesejahteraan rakyat dan ekonomi kerakyatan? Apa yang sudah diberikan kepada para pengusaha kripik singkong, kripik tempe, pengusaha geribik, atau pengusaha kecil lainnya? Apa ada yang serupa Koperasi Melati yang menyediakan  pinjaman modal tanpa bunga kepada pengusaha kecil sebagaimana yang dilakukan oleh Ridwan Kamil, di Bandung?

Masih ada waktu tersisa tiga tahun, semoga visi Percepatan Kota Metro Sebagai Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga melalui Pembangunan Ekonomi Kerakyatan yang Berkualitas, Berkarakter, dan Berwawasan Lingkungan dengan Melibatkan Partisipasi Publik, bukan hanya gombal politik, janji-janji manis ketika kampanye.