Memimpikan Wisata Kuliner, "Metro Sumur Bandung Culinary Night"

- November 21, 2017

Belakangan ini, Kota Metro dibanjiri berbagai macam kuliner, mulai dari kuliner yang dikelola secara serius dengan membangun usaha seperti cafe, resto, warung kopi dan jajanan yang didesain nyaman untuk tempat nongkrong sampai kuliner sebagai usaha sampingan yang hanya buka menjelang malam hari.

Maraknya usaha kuliner ini, terlihat hampir di semua jalan utama yang ada di Kota Metro hingga jalan-jalan “dalam” sudah mulai marak dengan bisnis kuliner, dan rata-rata usaha tersebut dikelola oleh anak-anak muda.

Geliat usaha makan-minum ini, semakin terlihat semarak menjelang sore hari, ruang-ruang publik, tempat parkir, pelataran toko yang biasa tutup di sore hari, berubah fungsi menjadi tempat angkringan dan tempat kuliner dadakan, bahkan tanah lapang, khususnya lapangan Samber dan lapangan Kampus, tiba-tiba berubah serupa pasar kuliner dengan temaram lampu warna-warni yang berkedap kedip diiringi musik yang menghentak bak musik dangdut Pantura.

Potensi kuliner yang belum tertata dan mendapatkan penanganan serius ini, sesungguhnya menarik untuk diarahkan menjadi pariwisata kota, yang mengundang pengunjung dari luar daerah. Menjadikan kuliner sebagai wisata perkotaan, sebenarnya lebih cocok dengan karakter kota, selain wisata buku, wisata sepeda, wisata sejarah seperti membangun museum yang menyimpan foto-foto dan kesejarahan atau cerita masa lalu kota.

Menata kuliner di Kota Metro menjadi Metro Sumur Bandung Culinary Night (Metro Subacul), Samber Culinary Night (SCN), Campus Culinary Night (CCN), atau menata lahan/ruang kosong di Terminal Induk Mulyojati menjadi Muyojatu Culinary Night, menjadi gagasan menantang untuk menghadirkan wajah ruang publik kota yang ramai, sekaligus bisa menggerakkan roda ekonomi warga.

Konsep Dago Culinary Night atau Braga Culinary Night di Bandung, bisa dirujuk sebagai contoh. Sebagai awal, launching awal bisa diujicobakan di kawasan Pusat Pertokoan Sumur Bandung lewat konsep Metro Subacul.

Alasannya, Sumur Bandung telah telah berjalan cukup baik, hanya diperlukan penataan, baik posisi pedagang maupun posisi area parkir, agar terlihat lebih rapi. Pada akhir pekan, bisa dikemas dengan berbagai acara yang menghibur, seperti music performance, akuistik, community gathering atau community talkshow, dan untuk meminimalisir biaya, pemerintah kota bisa melibatkan berbagai pihak swasta dan komunitas untuk mensupport kegiatan tersebut.

Dulu, ketika pertama kali, Braga Culinary Night dilaksanakan pada 11 Januari2014 oleh Ridwan Kamil, untuk mendukung pelaksanaannya, Jalan Braga ditutup untuk umum mulai dari sore hingga malam hari.

Hal serupa juga bisa dilakukan di Kota Metro, dengan menutup jalan-jalan tertentu yang memungkinkan, selama pelaksanaan Culinary Night, sehingga pelaksanaan Culinary Night dapat diikuti oleh semua kalangan baik warga Kota Metro, maupun pengunjung dari luar Kota Metro.

Di Bandung, pedagang makanan yang ikut dalam acara Braga Culinary Night merupakan beberapa penggiat bisnis kuliner di Kota Bandung, para pemilik toko di Jalan Braga serta warga yang berada di sekitar Jalan Braga.  Selain itu, di beberapa titik dibangun panggung-panggung hiburan yang akan diisi dengan penampilan beberapa komunitas seni dan musik di Bandung. Kegiatan ini dibuka mulai pukul 18.00 dan selesai pukul 01.00 dini hari.

Saat ini, acara Culinary Night, sudah digelar di beberapa kecamatan, di antaranya, Braga Culinary Night, Dago Culinary Night, Cibadak Culinary Night, Panyileukan Culinary Night, Antapani Culinary Night, Andir Culinary Night, Bandung Kidul Culinary Night, dan tempat lainnya di tiap kecamatan di Kota Bandung. Gelaran Culinary Night ditargetkan bisa digelar rutin agar masyarakat bisa melakukan silaturahmi serta menikmati beragam kuliner unik yang disajikan.

Jika hal serupa bisa dilakukan di Kota Metro, Pemerintah Kota Metro tentu tak perlu pusing untuk mengundang orang datang dan meramaikan pusat kota, karena secara otomotis orang dari luar akan berduyun-duyung datang ke Kota Metro, yang akhirnya akan berdampak pada pergerakan ekonomi warga kota, peminat makanan tak akan pernah sepi, dengan pilihan menu yang beragam, masyarakat akan bebas menentukan pilihannya, dan dalam sejarahnya, selama manusia memiliki perut, selama itu juga tak ada kata bosan untuk makan.

Sederhana dan tak memerlukan biaya besar untuk menghadirkan para pedagang tersebut, dan tak perlu membebankan biaya pemeliharaan tempatnya kepada APBD, cukup dengan melibatkan para pengusaha kuliner yang tumpah ruah di Kota Metro, jika tempatnya tak memadai, maka sebarannya bisa terus ditambah di beberapa titik-titik keramaian, seperti di Iringmulyo atau Mulyojati.

Sekali lagi, Metro Sumur Bandung Culinary Night, adalah mimpi yang diharapkan bisa menjadi ruang publik baru bagi warga kota, berinteraksi secara lebih kreatif.*


Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo