Membaca Adalah Bekerja Untuk Peradaban


Membaca di sebuah cafe pustaka, Omah1001

Mimpi saya yang tak pernah pupus adalah memiliki sebuah tempat baca yang bisa diakses semua kalangan, semua usia dan semua kelompok. Nyaman dan bebas, sembari menikmati segelas kopi, orang bebas berdiskusi dan memilih tempat untuk menepi dan menyepi, larut dalam bacaan-bacaan yang asyik.

Di sudut lain, sekelompok orang berbagi tentang bagaimana memulai menulis gagasan, menjaga konsistensi semangat dan menyebarkan pengetahuan. Saya selalu membayangkan, dua remaja yang betah berjam-jam berbincang entah tentang apa, akan lebih memiliki alasan untuk lebih berlama-lama, jika mereka mendiskusikan tentang sebuah buku, tentang nilai dan pengetahuan. Saat ada moment indah dan bahagia, keduanya bisa saling menghadiahi buku, daripada sekedar cokelat atau kue.

Saya, barangkali bisa menjadi orang sukses berkali-kali, tetapi tetap saja akan menjadi merasa gagal jika tak mampu mewujudkan sebuah tempat seperti yang saya mimpikan, tempat di mana membaca dan menulis menjadi habitus, menjadi tradisi sembari menyesap kopi dan panganan khas nusantara, seperti singkong, tempe atau pisang goreng.

Membaca penting, bukan hanya soal ajaran dan perintah pertama dari agama yang saya peluk dan yakini, tetapi membaca juga soal titik pijak awal sebuah peradaban. Bagaimana mungkin, akan lahir peradaban agung dari generasi yang menelan mentah-bentah berita, menyebarkannya tanpa membaca apalagi menalar dan melakukan verifikasi. Manalah mungkin, pengetahuan bisa diperoleh dari hanya sekadar memamerkan foto ratusan buku di rak yang diambil dari foto-foto di internet, tanpa ikhtiar membeli dan membaca buku, atau minimal betah berlama-lama di perpustakaan.

Membaca adalah kegiatan menyerap dan menalar gagasan orang lain, mengasah imaji dan intuisi, mengembangkan wawasan dan pengetahuan, dan mencari kebenaran dengan cara mengkritisi setiap yang dibaca. Membaca tidak cukup hanya dengan mengenal huruf dan angka, tapi dibutuhkan kesabaran dan konsentrasi atau bahkan kesendirian dan keheningan.

Menurut seorang kawan membaca juga adalah memahami realitas. Maka, selain membaca buku, pun niscaya membaca keadaan. Apakah gagasan dan pengetahuan dari buku yang dibaca, terhubung dengan realitas. Sindhunata menyebut membaca adalah upaya memetik ide dan pelajaran untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Membaca buku itu mengasah kejujuran, juga keadilan menilai dan mengakui, baik kejujuran dan keadilan dalam berpikir maupun bertindak. Membaca buku adalah upaya mencari kebenaran, karena setiap pengetahuan harus dipandang secara skeptis, harus selalu diragukan sebelum diuji, dikritik atau bahkan digugat. Maka, untuk hasil yang optimal, kegiatan membaca hendaklah dilanjutkan dengan kegiatan diskusi, berdialektika dan menulis.

Alhasil, membaca akan membuat seseorang menjadi lebih arif dan bijak, berwawasan ke depan dan visioner. Seorang pembaca buku tak akan membenarkan prilaku naif semisal menyebar berita hoax sebelum diverifikasi, dibaca dan dinalar dengan benar. Menyebar berita bohong adalah bencana yang bisa menyulut kebencian dan permusuhan.

Dalam tradisi ulama terdahulu (salaf), setiap hadits yang mereka terima, memerlukan ketelitian yang mendalam dengan membaca berbagai literatur, melakukan verifikasi sanad dan matan dengan ketat. Mereka harus memastikan orang-orang yang menyampaikan perkataan yang disandarkan kepada Nabi tersebut adalah orang-orang jujur, terpercaya dan memiliki ingatan dan hafalan yang baik (verifikasi sanad), sekaligus memeriksa apakah susunan bahasanya sudah memenuhi kaidah tata bahasa yang baik (verifikasi matan).

Semestinya, setiap muslim yang baik, yang berkomitmen mengikuti ajaran al Qur’an dan meneladani Nabi, memiliki kebiasaan yang sama, membaca guna verifikasi dan validasi (keabsahan) sanad dan matan sebuah berita sebelum disebar. Jika, terhadap dalil-dalil yang menyerukan amalan kebaikan, kita saja sedemikian ketat menanyakan keshahihannya, apalagi untuk sebuah berita yang menyebar kebencian dan permusuhan, kita tak boleh menjadi gampangan dan latah mengklik share atau bagikan.

Namun, sekali lagi ini soal kualitas diri. Toh, akhirnya isi kepala yang keluar lewat laku dan kata akan menentukan kualitas diri kita, termasuk juga oleh postingan-postingan yang kita bagikan. Apakah kita adalah pembaca yang tekun, yang sangat mencintai buku dan pengetahuan atau kita hanyalah penyebar hoax, kebencian dan permusuhan.

Sekali lagi, membaca hanya milik mereka yang memiliki peradaban dan tradisi agung. Di negara-negara berperadaban tinggi di dunia, yang minat baca masyarakatnya sangat tinggi, seperti Finlandia, Islandia, Denmark, Swedia Norwegia, Singapura, Jepang, Kanada dan lain-lain, nyaris tak ada jalan bagi segala bentuk ketakjujuran, kebencian, dan hasad-dengki. Sedangkan, Indonesia berada di urutan ke-60 persis di bawah Thailand dan di atas Bostwana yang berada di peringkat ke-61, dan termasuk masyhur menjadi negara yang penduduknya suka menyebar hoax, pemupuk dendam dan pemelihara dengki.

Salah satu cafe pustaka

Membangun sebuah tempat untuk menyibukkan diri, agar hari-hari tak dipenuhi dengan pikiran mesum, kedengkian dan permusuhan adalah mimpi yang harus diwujudkan. Saya berharap budaya baca akan menggeser dan memusnahkan postingan dan share yang tanpa terlebih dahulu dibaca, diverifikasi dan dinalar.

Memang tidak mudah membangun jalan apalagi sampai ke arah yang dimimpikan itu, tapi bisa diusahakan dari diri, keluarga, komunitas dan orang-orang terdekat pecinta buku, mengupayakan tempat yang ramah baca. Tempat yang tidak hanya berarti bukunya lengkap dan tempatnya bersih dengan sirkulasi udara yang teratur, tapi juga nyaman dan menginspirasi.

Semoga sebulan ke depan, segera lahir tempat yang menjadi titik bermula peradaban itu, sebuah tempat nongkrong talenta lokal dan anak muda, sekaligus cafe yang menyediakan pojok baca yang nyaman. Amiin.

0 komentar