Kota Metro, Menuju Kota Cerdas yang Humanis

- November 14, 2017

Tahun 1936, Kota Metro ketika pertama kali dibuka merupakan pemukiman kolonisasi yang didatangkan pemerintahan Hindia Belanda dari daerah Jawa, sehingga dikenal sebagai desa kolonis. Bahkan, hinga sekarang jejak-jejak sebagai desa kolonisasi masih terasa, salah satu faktanya adalah untuk menyebut beberapa tempat, seperti Iring Mulyo, warga lebih akrab dengan sebutan 15A, Yosodadi, Yosorejo dan Yosomulyo lebih familiar disebut 21, Mulyojati disebut 16C, Karangrejo disebut 23, Banjarsari disebut 29, dan seterusnya.

Penyebutan angka-angka tersebut terkait erat dengan urutan tempat tinggal pertama para kolonisasi, yakni berupa Bedeng (semacam gubuk) yang diurut dari  Bedeng 1 hingga Bedeng 67, di Gedong Dalem, Kecamtan Pekalongan (kini wilayah Lampung Timur) sebelum akhirnya disebar untuk membuka lahan, Bedeng 1 di Kecamatan Trimurjo (kini masuk wilayah Lampung Tengah), Bedeng 14, 15, 16, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29 dan beberapa Bedeng lainnya berada di wilayah Kota Metro, hingga Bedeng   67 di Kecamatan Sekampung (kini masuk wilayah Lampung Timur).

Secara geografis Kota Metro berada di tengah-tengah Provinsi Lampung, bertetangga dengan Lampung Tengah sebagai kabupaten induk dan Lampung Timur (bersama Kota Metro) yang menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) tahun 1999, luas Kota Metro hanya berkisar 68,74 km dengan hanya 5 kecamatan dan 22 kelurahan. Penduduk Kota Metro yang hanya berjumlah sekitar 162.000 sangat beragam, baik suku, adat-istiadat dan agama. Mayoritas warga Metro adalah suku Jawa, sisanya Minang, Batak, Madura, Bugis, Palembang dan Lampung.

Kehidupan keagamaan penduduk Metro pun sangat beragam, meskipun mayoritas beragama Islam, namun hampir seluruh agama dan keyakinan yang berkembang di Indonesia, berkembang juga di Kota Metro, dan mereka bisa hidup berdampingan dengan rukun dan tak pernah berkonflik.

Banyak orang berpendapat setelah datang ke Kota Metro, Kota Metro sangat cocok untuk hunian dan tempat tinggal, penduduknya ramah dan sangat bersahabat. Warga Kota Metro jauh dari kesan individualistik sebagaimana kesan warga kota pada umumnya. Pada tahun 2015 yang lalu, Kota Metro masuk dalam Indek Kota Cerdas Indonesia (IKCI), yang diluncurkan Kompas kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Perusahaan Gas Negara (PGN), bersama 43 kota lain yang berpenduduk kurang dari 200 jiwa.
 
Tampak dari atas, Taman Merdeka yang menjadi Pusat Kota Metro, 
Dalam peluncuran tersebut Indeks Kota Cerdas Indonesia mengacu pada tiga faktor utama. Pertama, faktor ekonomi. Dari sisi ekonomi sebuah kota cerdas adalah kota yang ditopang oleh perekonomian yang baik dengan memaksimalkan sumber daya dan potensi kota. Termasuk di dalamnya layanan teknologi, informasi dan komunikasi serta tata kelola Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik.

Kedua, faktor sosial. Berdasarkan faktor sosial ini penilaian kota cerdas mengacu pada kota yang masyarakatnya memiliki keamanan, kemudahan dan kenyamanan dalam melakukan interaksi sosial antar masyarakat dan pemerintah.

Ketiga, faktor lingkungan. Dari sisi lingkungan, kota cerdas dinilai dari masyarakat yang memiliki tempat tinggal layak huni, sehat, hemat dalam penggunaan energi. Pengelolaan energi tersebut didukung layanan teknologi dan informasi dan peranan masyarakatnya yang baik.

Kota Metro, Ruang Publik dan Kreatifitas Warga
Kegiatan yang melibatkan banyak komunitas di Taman Merdeka Kota Metro, Tahun 2015. 
Sebagai kota kecil, warga Metro diuntungkan untuk lebih sering berinteraksi, bertemu dan bersilaturahim, baik pada acara-acara resmi atau ketika menghabiskan akhir pekan di pusat kota. Biasanya, warga kota setiap akhir pekan berkumpul di Taman Kota atau pusat-pusat keramaian, ada banyak aktifitas digelar, mulai para aktifis kota yang berdiskusi, para pedagang kaki lama yang berjualan, lomba menggambar, foto, membuat sketsa dan kegiatan-kegiatan kreatif lainnya.

Menjelang akhir abad 20, kreativitas menjadi pendorong ekonomi kota di seluruh dunia. Para pekerja produktif, terutama di negara-negara industri maju diberi atribut pekerja kreatif; merekalah yang menciptakan pekerjaan, gagasan-gagasan baru, serta konten kreatif. Maka tak heran, meski kecil kreatifitas warga Metro layak mendapat perhatian, hal ini karena wilayah yang kecil dan jarak yang dekat, memudahkan warga kota bisa sering berinteraksi, saling menginspirasi dan menularkan kreatifitas.

Pekerja kreatif di Kota Metro berasal dari banyak latar belakang, para ilmuan, tenaga ahli yang mengabdi di pusat-pusat pendidikan dan penelitian, arsitek, dan mereka yang bergerak di bidang kebudayaan seperti penyair, pemusik, desainer, perancang atau pekerja dalam dunia hiburan. Selain itu para pekerja profesi berbasis pengetahuan, seperti kesehatan, keuangan, hukum, juga termasuk dalam kelompok ini, mereka berkegiatan dengan berkomunitas karena kesamaan hobi, dan pada mereka inilah pantas dilekatkan apa yang disebut ahli sosio-ekonomi Richard Florida sebagai kelas kreatif (creative class) yang menjadi penggerak ekonomi kota di masa depan

Untuk itu, sudah sepatutnya pemerintah Kota Metro memberikan perhatian lebih pada tempat atau ruang-ruang publik agar laik menjadi tempat interaksi warga, bertukar gagasan dan saling menularkan kreatifitasnya.
Plan PenataanTaman Merdeka Tahun 2012, tetapi kini justeru penataan taman menyimpang dari masterplan ini
Berdasarkan data Pemerintah Kota Metro, setidaknya ada 33 taman (ruang publik) yang tersebar di 5 kecamatan yang ada di Kota Metro, dengan total luas 31.935 M2, meskipun tidak semua taman tersebut populer dan ramai dikunjungi, seperti halnya Taman Merdeka yang menjadi landmark dan icon Kota Metro. Namun, beberapa taman seperti Taman Kihajar Dewantara, Taman Mulyojati, dan Taman Terminal Induk bisa mendapatkan perhatian lebih untuk ditata, dikembangkan dan dikelola dengan baik
Plan PenataanTaman Merdeka Tahun 2012, tetapi kini justeru penataan taman menyimpang dari masterplan ini
Taman Merdeka misalnya, sangat layak dibangun sesuai konsep dan master plan Walikota Metro sebelumnya, Rencana penataan Taman Merdeka tersebut paling tidak bisa menjelaskan beberapa hal sesuai dengan fungsi taman. Pertama, Taman Merdeka dapat berperan sebagai rest area yang nyaman bagi warga. Taman Merdeka dapat dinikmati oleh semua orang, termasuk warga berkebutuhan khusus, sehingga akses jalan seperti pedistrian wajib didesain ramah untuk semua.

Kedua, Taman Bunga, bisa memberikan unsur tanaman hijau yang dominan, baik untuk tanaman peneduh, penghias dan pelapis tanah (rumput), yang lebih tematik, serta memiliki keragaman yang lebih banyak seperti tanaman bunga yang akan memberi warna pada Taman Merdeka. Penjagaan keberadaan taman bunga ini dilakukan dengan memberikan perhatian khusus yaitu dengan memberi batasan/deliniasi yang jelas sehingga tidak mudah dijamah oleh pengunjung. Secara fisik dapat dilakukan dengan memagari beberapa bagian dalam taman kota yang berfungsi sebagai taman bunga.

Ketiga, Ruang Baca dan Koridor Sejarah memberi kesan Taman Merdeka sebagai ikon Kota Metro yang bervisi Kota Pendidikan. Rencana pembangunan koridor sejarah secara simbolis menghubungan antara rumah dinas Walikota saat ini dengan eks pendopo Kawedanan Kota Metro yang kini masih tersisa (tidak ikut dirobohkan dalam rangka pembangunan Metro Convention Centre), sepanjang koridor tersebut dapat dipajang display yang menceritakan sejarah Kota Metro sejak zaman kolonisasi hingga kini, sedangkan ruang baca di salah satu area pojok Taman Merdeka, akan semakin mempertegas visi Kota Pendidikan.
Gazebo dan Panggung di Taman Kihajar Dewantara
Taman Kihajar Dewantara, Iringmulyo Metro Timur, bisa difungsikan dan dimaksimalkan fungsinya dengan melibatkan berbagai komunitas kreatif yang ada di Kota Metro, sehingga beberapa panggung, area skatepark dan beberapa gazebo yang tersedia di Taman Kihajar Dewantara bisa dimanfaatkan untuk pentas seni dan teater, sendra tari, pertunjukan musik atau menjadi ruang belajar bagi pegiat diskusi dan literasi di Kota Metro.

Taman Mulyojati, lebih-lebih lagi Taman Induk Terminal Mulyojati yang memiliki area cukup luas dan lebar, di samping bisa ditata sebagai taman bunga beberapa ruang kosong yang memanjang hingga lebih dari 100 meter sebelah utara taman bisa dimanfaatkan untuk tempat kuliner sekaligus sebagai bentuk kongkrit memberdayakan pedagang kaki lima (PKL) dengan konsep pujasera (foodcourt).
Taman Terminal Induk yang sangat luas dan belum termanfaatkan secara maksimal
Bukan hanya itu, Pemerintah Kota Metro sebenarnya juga bisa merevitalisasi trotoar di Jalan AH. Nasution yang rimbun karena ada Pohon Mahoni besar peninggalan Belanda yang tertata rapi sepanjang jalan. Revitalisasi trotoar menjadi pedistrian lebar 3 meter dengan panjang 500 - 1000 meter, apalagi juga di pinggirnya dibuat wallstory untuk memajang foto-foto Kota Metro tempo dulu atau foto-foto hasil karya fotografer dan pelukis di Kota Metro, maka tempat itu bukan hanya akan menjadi tempat yang nyaman dan asri bagi pejalan kaki, tetapi juga bisa menjadi destinasi yang menarik, memiliki nilai sejarah dan ramah bagi semua orang.

Salah satu sudut Jl. AH. Nasution, tampak Pohon Mahoni besar berjejer sepanjang jalan.
Begitu juga keberadaan Sumur Putri yang berada persis di belakang Kewedanan Kota Metro, sumur yang memiliki nilai sejarah dan dulu menjadi sumber mata air untuk tiga wilayah, Kota Gajah, Trimurjo dan Metro Kibang, dan Kota Metro sendiri tentunya. Area Sumur Putri yang luasnya lebih dari 300 meter tersebut, sangat potensial juga menjadi destinasi wisata, semacam taman yang di dalamnya terdapat pojok sejarah, bangku-bangku yang didesain berpasangan, karena kehadiran sumur tersebut juga tak lepas dari mitos keberadaan bidadari atau putri yang turun dari kahyangan untuk mandi, sehingga sumur tersebut kemudian dikenal sebagai sumur putri.

Sungguh, Kota Metro memiliki ruang publik yang banyak, yang bisa dimaksimalkan fungsinya. Sehingga secara otomatis memungkinkan untuk meminimalisir kegaduhan-kegaduhan karena isu ketidakadilan dan diskriminasi, adanya jarak antara yang empunya dengan yang papa, antara kelas elit dan alit. Ruang publik bisa berfungsi sebagai rumah bersama yang melahirkan nalar publik dan kreatifitas untuk menjembatani kesenjangan, semua bisa birsinergi. Apalagi jika setiap ruang publik tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti jaringan internet gratis, panggung yang disertai dengan ligthing dan sound yang memadai, dll.

Telah banyak korban dari kota yang salah urus. Kebakaran terjadi dimana-mana, banjir menjadi ritual tahunan yang menjadi cerita lazim, perampokan dan pembunuhan di siang hari bolong juga mulai mengakrabi kehidupan kota, di sisi lain aparatusnya sibuk mengurusi anggaran dan sesekali waktu mencari kesempatan untuk menyimpangkan anggaran tersebut. Lantas, darimana memulai cita-cita mengurus kota menuju kota cerdas itu? Untuk itu, saya berharap Pemerintah Kota Metro, tak terlalu bersemangat membangun tembok-tembok besar, ruko dan toko-toko ritel yang justeru banyak meminggirkan hak-hak warga kota. Kota Metro harus lebih interest mengembangkan konsep pembangunan kota yang hijau, ramah untuk semua warga dengan ragam usia dan kondisi fisik.

Kota Metro tak boleh maju fisiknya, tetapi justeru warganya teralineasi dari lingkungannya. Kota Metro yang kita impikan bersama adalah kota cerdas yang manusiawi, karena yang terpenting bagi warga kota adalah terlayani dengan baik, tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, tidak terasing di tengah-tengah bangunan megah, warga kota tetap bisa berinteraksi layaknya orang kampung, ramah, saling peduli dan tetap bisa bergotong-royong (urunan) membangun tatanan kehidupan yang tetap humanis.*


Rahmatul Ummah, Warga Kota Metro, menetap di Kelurahan Yosomulyo, Metro Pusat.







.