Kota Dalam Serbuan Globalisasi

- November 28, 2017


Antony Giddens dalam sebuah paper-nya yang berjudul Runaway World, menyampaikan bahwa globalisasi bukan hanya fenomena ekonomi, namun lebih jauh merupakan fenomena multidimensional, baik politik, ekonomi, teknologi, sosial dan budaya. Cak Nun, menganalogikan globalisasi dalam Markesot Bertutur Lagi sebagai menuangkan air panas, gula, kopi campur keringat sedikit, lantas diaduk sampai larut satu sama lain.

Globalisasi, lanjut Cak Nun, adalah dibukanya pintu-pintu dunia sehinga bulatan kehidupan di muka bumi ini campur menjadi satu. Globalisasi adalah berperannya sarana-sarana informasi dan komunikasi sehingga semua manusia di dunia saling bersentuhan, bergaul, memengaruhi satu sama lain, take and give.

Globalisasi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi dan sistem komunikasi dunia, kehadirannya mengubah wilayah kesadaran kehidupan kita, seperti secara sadar atau tidak, kita lebih akrab dengan gambar dan informasi kehidupan Dian Sanstro, Agnes Monica, Raisa, Via Vallen, Nella Kharisma atau Angelina Joulie dibandingkan dengan perempuan tetangga kita sendiri, atau lebih familiar foto-foto Barack Obama, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Luis Suarez dibandingkan dengan Ridho Ficardo, Gubernur Lampung atau Pairin, Walikota kita.

Globalisasi, sekali lagi menurut Cak Nun, telah berhasil menyodorkan nilai-nilai negara kuat, modal kuat, ekonomi, kuat, politik kuat kepada yang lemah. Barat memengaruhi Timur, Utara menentukan Selatan, Atas mengatur Bawah, Pusat menggiring Pinggiran. Film-film Hollywood, Bollywod dan film-film luar negeri yang lainnya bebas menyerbu TV-TV lokal, tapi jangan pernah berharap film-film lokal kita bisa diputar di Los Angeles, India atau Turki.

Supermarket, Indomaret, Alfamart, Kentucky, McDonald’s, KFC dan Banana Foster didesakkan ke kampung-kampung kita, tapi warung pecel, sate Madura, seruit Lampung apakah semudah itu untuk dipopulerkan di Kyoto, Stockholm, London dan India.

Globalisasi itu anti lokal, mengusung etika pemaksaan universal. Globalisasi menjadi dilema bagi pengembangan local wisdom, karena sifat globalisasi penetratif, menjajah, memaksa dan mencari laba sebesar-besarnya dengan cara-cara yang kadang tak manusiawi.

Revitalisasi Kearifan Lokal

Globalisasi memang tak dapat dicegah, ia merasuki setiap jengkal kehidupan kita, tapi paling tidak, kita tetap bisa berdiri tegak dan menyatakan, bahwa hidup kita tak akan dapat sepenuhnya diatur oleh globalisasi. Kita masih punya rumah sendiri, tempat berpijak sendiri, tempat kita menghirup nafas dan membesarkan generasi baru. Kita masih memiliki segenap kearifan lokal yang menjadi jiwa dan semangat kehidupan.

Lampung sejak dulu memiliki kearifan lokal, kopi dan lada menjadi kebanggaan dan sempat berjaya, bahkan membuat Lampung terkenal sebagai Tanah Lada.

Lantas kenapa sekarang tak lagi bangga menjadi tuan di rumah sendiri? Kembali meraih kejayaan lada dan kopi kita? Mengapa kita justeru lebih bangga dengan menanam beton-beton, menjual tanah dan membiarkannya kota kita semakin hari semain dipenuhi oleh tanaman ruko untuk ditempati orang-orang asing? Ruko-ruko yang menggerus trotoar dan mengakibatkan genangan air melimpah ke jalan raya, karena drainase kita menyempit, karena lalu lalang kendaraan berat atau di atasnya trotoar telah berubah fungsi menjadi lahan parkir.

Bukankah, pemilik Indomaret dan Alfamart itu sebelumnya tak punya sejengkal tanahpun, kenapa mereka lantas kuat dan kuasa menggusur dan mematikan puluhan warung-warung kecil dan pedagang kaki lima (PKL) di ujung-ujung jalan gang dan perempatan?

Jawabnya, karena kita terlena dan tak pernah lagi memegang teguh kearifan lokal dan kekayaan budaya kita, yang gemar tolong-menolong dan gotong-royong, kita terlalu mudah dipecah-belah oleh kekuataan asing pemilik modal. Kita tergiur dengan kemewahan fisik yang seolah menghidangkan keindahan dan ketertiban, padahal tanpa kita sadari, bangunan beton, ruko dan usaha ritel itulah yang menjadi biang kerok kerusakan drainase dan menjadi pemicu banjir.

Laku kita tak jarang begitu jumawa, menawar dengan pongah harga barang dari penjual roti keliling atau pedagang sayur keliling, meski kita tahu mereka mencari untung seratus duaratus perak, dan sebaliknya menjadi dermawan, ketika membeli sayur atau barang di Swalayan, Indomaret dan Alfamart, selain tak menawar, seringkali kembalian uang dengan ikhlas kita infaqkan. Merasa gagah dan kaya ketika membeli kopi di Starbucks Coffe seharga 75 ribu, tetapi berkeluh-kesah dengan harga kopi 5 ribu di kedai kopi milik teman sendiri.

Rela membayar 15.000 ribu untuk sepotong pisang goreng, yang ditaburi keju atau bolu pisang di toko-toko modern , tetapi mengeluh kemahalan untuk harga 1000 untuk pisang goreng yang dijual di atas gerobak-gerobak di perempatan jalan. Sadar atau tidak, sikap yang demikian itulah yang menjadi bagian penyokong utama bagaimana lokalitas itu tergusur, di samping tentu saja dukungan elit kekuasaan dan elit warga seperti tokoh masyarakat dan agama yang sering juga diperalat.

“Mau tidak mau kita harus diperkosa. Lha, daripada dan merasa tersiksa, kan mending menikmati pemerkosaan. Dengan kata lain, Saudara-Saudara, yang kita lakukan sekarang ini sesungguhnya bukanlah globalisasi, melainkan neosentralisasi,” tulis Cak Nun dalam Markesot Bertutur Lagi.

Tanpa penguatan lokalitas, kita tidak akan pernah mendapatkan apapun dari globalisasi, kita hanya didikte untuk mengaminkan istilah-istilah modernitas, kemajuan termasuk demokrasi, dan puncaknya sikap ndeso, mempertahankan sepetak sawah demi menolak pendirian dinding-dinding beton, kita anggap sebagai terbelakang, tidak modern dan primitif. Padahal kapan rakyat bisa menikmati demokrasi! Tak ada satu fakta pun yang bisa menunjukkannya, yang ada justeru rakyat terjajah dan menjadi budak di tanahnya sendiri!!

Kita ribut soal begal, tapi kita lupa begal itu dibekengi, begal itu dilindungi “bos besar”, dan kita juga khilaf, ada banyak begal-begal berdasi yang merampas anggaran rakyat dalam jumlah lebih besar, mereka bekerjasama dengan mafia-mafia pemodal dari luar, merampas ruang dan tanah-tanah kita, secara legal, terstruktur dan diwariskan dari rezim ke rezim. Kita ribut soal simbol palu-arit, kita tuding dengan nyaring sebagai anti-pancasila, tapi kita abai, ada banyak koruptor yang makan uang rakyat yang tak sedikitpun peduli mereka sedang meluluhlantakkan cita-cita para pendiri bangsa dan nilai-nilai pancasila.

Untuk itu, saya hanya percaya, cara berpikir yang substantif daripada simbolik, revitalisasi kearifan lokal, menjunjung tinggi falsafah dan nilai-nilai kebudayaan lokal-lah yang bisa meminimalisir kriminalitas dan kemiskinan di Bumi Lampung ini, dengan cara memegang teguh semangat kebersamaan, sakai sambayan, nemui nyimah dan nenggah nyeppur yang diikat dalam piil pesinggiri, menolak terus bertambahnya jumlah  Indomaret dan Alfamart masuk ke sudut-sudut kota kita, yang bisa mengembalikan marwah dan kejayaan warga kota serta kesejahteraan PKL dan warung-warung kecil kita.*

.