Kopi Kapal Api, Pelajaran Tentang Bagaimana Memulai dan Menilai


Seorang sufi bernama Abdul Qadir Al Jaziri pernah menulis sebuah kitab berjudul Umdat al Safwa yang menjelaskan bagaimana kopi mencapai daratan Mesir pada abad ke-16, yang dibawa oleh para siswa dari Yaman, bahkan seabad sebelumnya, yakni pada abad ke-15 tepatnya pada tahun 1475 kopi telah ada di daratan Turki, termasuk adanya warung kopi yang masyhur, Kiva Han.

Jauh sebelumnya ilmuwan besar seperti Ibnu Sina dan Ar Razi juga telah memberikan kesaksian bahwa kopi telah dikenal di kalangan umat Islam sejak abad ke-10. Di Eropa, yang kini dikenal sebagai wilayah yang konsumsi kopi perkapitanya tertinggi di dunia, justeru konon baru mengenal kopi secara formal pada abad ke-17, tepatnya pada tahun 1615 saat pedagang dari Venezia, Italia. pulang membawa kopi dari daerah Levant yang kinia wilayahnya meliputi Lebanon, Syiria, Israel dan Yordania.

Sedangkan di Indonesia, biji kopi dari Mocha, Yaman masuk ke nusantara dibawa oleh Belanda pada tahun 1700-an sebagaimana ditulis oleh James Grierson dalam sebuah artikel berjudul Histori of Coffee. Hingga kini Indonesia, menjadi pengekspor kopi terbesar di dunia setelah, Brazil, Vietnam dan Kolumbia.

Kopi, memiliki sejarah yang panjang untuk diurai dan diceritakan. Meski telah banyak artikel, esai bahkan buku ditulis  tentang kopi, namun kisah lama dan cerita baru tentang kopi seolah tak pernah habis. Kopi, pada pekat hitamnya, di kental adukannya dan di pahit rasanya kala disesap, menyimpan selaksa makna, di setiap tegukan terukir kenangan yang sulit dilupa para penikmatnya.

Begitu jugalah yang tercatat dalam kisah panjang perjalanan Kopi Kapal Api, bermula dari usaha produk kopi bubuk yang dijual keliling kampung menggunakan pikulan kayu dan sepeda, menyusuri setiap dermaga di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya hingga pada tahun 1979 berdiri PT. Santos Jaya Abadi yang hingga kini memproduksi Kopi Kapal Api dalam banyak varian, dengan cita rasa nusantara.

Dari Sini Kisah itu Bermula

Jujur, semula saya tak terlalu tertarik dengan kopi sachet atau kopi instan yang langsung seduh, termasuk Kopi Kapal Api. Hingga suatu ketika, dalam perjalanan mudik hari raya Iedul Fitri yang lalu, membawa mobil sendiri dari Lampung hingga ujung Kalianget, Sumenep, Madura, menuju pulau kelahiran di ujung timur kepulauan Madura. Kepepet, tak menyediakan stok serbuk kopi dari rumah, mengharuskan saya harus membeli kopi yang dijual dan tersedia di toko pinggir jalan. Secara acak membeli kopi bukuk dalam kemasan dalam berbagai merek, termasuk salah satunya Kopi Kapal Api Spesial.

Kebiasaan tak pernah menyimpan stok bubuk kopi dalam jumlah banyak, karena merasa bahwa bubuk kopi yang terlalu lama disimpan menjadi tak seenak kopi bubuk yang baru, justeru menjadi 'petunjuk jalan' awal mula kenal dan mencoba Kopi Kapal Api

Oh, ya, soal kebiasaan tak menyimpan kopi bubuk terlalu lama, berangkat dari pengalaman saya menghilangkan bau yang menyengat seperti bau rokok, durian atau  ikan asin di dalam mobil dengan menabur serbuk kopi, sehingga saya berkeykinan kopi yang disimpan cukup lama apalagi di tempat yang tidak tertutup rapat berpotensi menyerap bakteri di sekitarnya, sehingga kopi berpotensi menyimpan 'racun'. Dan, barangkali itulah yang membuat beberapa orang yang mengonsumsi kopi, perutnya mual atau mules.

Saya sebenarnya adalah penikmat kopi biasa, tak memiliki pengatahuan banyak soal kopi, menyajikan kopi juga standar, seperti yang diwariskan oleh beberapa orang tua di kampung. Jika pun dianggap ada kemajuan dari cara mayoritas orang kampun, paling hanya soal panas air yang selalu saya kira-kira berada di suhu 85 - 95 derajat celcius. Hal itu pun mengukurnya sangat manual dan tradisional,  air yang mendidih cukup dibiarkan air selama 1 menit, kemudian baru diseduh selama 4 menit atau lebih. Soal, penyajiannya, sebagaimana orang tua di kampung kebanyakan, lebih sering tanpa gula.

Belakangan, setelah berkenalan dengan para pecandu kopi, saya baru paham bahwa utuk mendapatkan kopi yang super nikmat dan enak, ternyata cukup rumit dan ribet. Mereka rata-rata memulai keribetan itu sudah sejak mulai memilih biji kopi, menyangrai hingga menggilingnya jadi bubuk, keribetan itu berlanjut pada proses menyeduh hingga menyajikan. Tapi hasil dan rasanya, memang tak pernah menghianati proses. super mantap.

Begitulah, setelah menyesap Kopi Kapal Api dan tahu kenikmatannya, saya juga meyakini bahwa proses panjang yang saya anggap ribet seperti di atas telah dilalui dengan baik, mulai dari menentukan biji pilihan hingga mengemasnya dalam kemasan yang higienis dan terjamin, menjadi kemasan instan yang siap seduh sehingga memudahkan para penikmat kopi yang tak cukup memiliki waktu dan alat lengkap untuk menikmati kopi dari bijinya langsung, tanpa mengurangi kenikmatan rasa kopi.

Kopi Kapal ApiSpecial, jelas lebih simple dan mudah karena tinggal seduh. Namun, hitam dan pahitnya tetap kopi banget, meski sangat subyektif barangkali, setelah mencoba beberapa merek yang saya beli, pilihannya tetap Kopi Kapal Api Special, jelas lebih enak.

Penilaian itu bahkan saya sampaikan berkali-kali kepada istri, yang saat itu tahu pasti saya tak pernah menyukai kopi kemasan, sehingga dianggapnya sikap saya itu berlebihan. Akhirnya dengan penasaran, ia mencoba mencicipi Kopi Kapal Api yang telah saya seduh. "Pahit!" serunya singkat.

Pahit, sudah pasti karena memang rasa kopi tanpa gula itu pahit, apalagi untuk ukuran istriku yang sama sekali tak pernah dan tak suka kopi. Maka, sebagai pembelaan atas penilaian saya yang dianggapnya berlebihan terhadap Kopi Kapal Api, saya menyarankannya untuk mencoba varian Kopi Kapal Api yang lain, seperti Kopi Kapal Api Susu, Mix, Mocha, dll., agar ia yakin bahwa Kopi Kapal Api, memang jelas lebih enak.
Kapal Api Mocha dan Kapal Api Kopi Susu, pilihan istri dan anak.
Singkat cerita, istriku pun mencobanya. Dan, saya tak perlu mndengarkan panjang lebar penjelasannya, karena hingga hari ini setiap pagi, ia telah memiliki kebiasaan baru menyeduh Kopi+Mocha atau Kopi Susu dari Kopi Kapal Api. Kebiasaan tersebut menjadi penegas bahwa Kopi Kapal Api, jelas lebih enak!

Kopi, Bukan Sekadar Ngopi!

Meski, tak terlalu banyak tahu kopi, minum kopi bagi saya adalah cara lain mencintai Indonesia, mencintai produk Indonesia, mencintai Kopi Kapal Api. menjadi nasionalis. menjadi dan sebagai bagian dari daerah penghasil kopi, Lampung.

Kopi bukan hanya soal pilihan gaya hidup, secangkir kopi adalah secangkir ide dan cinta. Di pekat hitamnya, ada sejuta kata yang bisa diikat dan diberi makna, ada cinta yang tak terkungkung cangkir penyajiannya. Sebagai orang yang hobi membaca dan menulis, hampir mustahil menjalankan hobi tersebut tapi kopi, dan karena saya tak memiliki cukup waktu untuk memulai proses kopi yang selalu harus diawali dari memilih biji kopi pilihan, saya mempercayakan proses itu ke PT. Santos Jaya Abadi dengan memilih Kopi Kapal Api Special sebagai teman setia kala menulis atau membaca buku. 

Kopi Kapal Api Special selalu setia menemani di kala menulis

Secangkir kopi adalah soal feel dan emosi. Rasa, emosi dan cinta memang tidak pernah menipu. Kopi yang enak, mengajarkan banyak hal tentang pentingnya proses, ketulusan dan cinta. Secangkir Kopi Kapal Api dalam perjalanan mudik hingga menjadi pilihan ngopi sehari-hari, akan selalu menjadi cerita menarik, soal rasa penasaran dan cinta, soal cerita tentang cara menikmatinya dengan baik, menangkap setiap makna di setiap tegukan, mematahkan persepsi yang keliru selama ini, menganggap bubuk kopi instan dalam kemasan tidak adalah pelajaran penting, bahwa tak baik skeptis dan apriori di awal sebelum mencoba.

Secangkir kopi yang nikmat, selalu mengajarkan proses dan kesabaran, bahwa sukses dan kenikmatan hidup itu dijalani, bukan hanya dinilai.

Secangkir kopi, mengajarkan banyak tahapan sebelum tersaji di atas meja. Secangkir kopi yang nikmat diperoleh dari air yang bersih dan higienis, dipanaskan secara maksimal, biji kopi pilihan, diaduk secara merata, diwadahi dengan wadah yang pas. Secangkir kopi adalah bagaimama cara hidup dengan kejujuran dan penuh cinta.

Begitulah, awal mula kopi #KapalApiPunyaCerita, dari yang semula tak disukai karena belum pernah dicoba, hingga akhirnya kopi #KapalApi ditegaskan sebagai kopi yang #JelasLebihEnak daripada kopi kemasan lainnya.

Semoga Bermanfaat!

Tabik

2 komentar