Apa Asia Sedang Bangkit?

- November 07, 2017
Kolom: M, Alfan Alfian, Omah1001
Pertanyaan ini mengemuka ketika untuk kesekian kalinya, saat seorang penulis membahas fenomena Asia. Kali ini, sang penulis itu bernama Gideon Rachman, pemenang The Orwell Journalism Prize, 2016. Dia wartawan. Bukunya yang berjudul Easternisation: War and Peace in the Asian Century (London: Vintage, 2017) antara lain dipuji oleh Paul Kennedy, pengarang buku legendaris The Rise and Fall of the Great Powers.

Tema yang dipaparkan Rachman, dalam konteks tertentu, mengingatkan tema-tema tentang oksidentalisme, sebagai lawan atau, dalam batas tertentu, antitesis orientalisme. Tema Barat dan Timur memang dipandang masih relevan hingga kini. Hal itu, antara lain, terutama muncul di beberapa buku yang dikarang Kishore Mahbubani.

Mahbubani mengawali isu yang selaras dengan Rachman dalam bukunya Can Asia Think. Perspektifnya perbandingan. Bangsa-bangsa Asia diperbandingkannya dengan Barat. Mengapa Asia dipandang lebih lambat kemajuannya dibanding Barat, apakah mereka memang tidak bisa berpikir untuk maju? Mahbubani mencatat, Jepang lewat Restorasi Meiji merupakan bangsa di Asia yang pertama kali mampu menyejajari Barat.

Lantas, melalui The New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Global Power Global to The East, Mahbubani tampak ingin lebih tegas. Dia mencatat dua hal penting atas adanya akhir dari era dominasi Barat dalam sejarah dunia, meskipun akhir dari dominasi ini tidak berarti akhir dari Barat; dan kita akan melihat kembalinya Asia.

Buku tentang kenang-kenangan bangsa Asia, hingga mereka mampu menemukan rasa percaya diri dan mempermantap nasionalisme mereka belakangan ini, secara populer juga mengemuka dalam buku Pankaj Mishra, From the Ruins of Empire. Mishra mengulas romantisisme sekaligus potensi Asia untuk mampu mengalahkan Barat, dari sudut sejarah populer. Dia, antara lain, mengingatkan bahwa percaya diri Asia muncul ketika Jepang mampu mengalahkan Rusia pada suatu pertempuran laut, 1905. Lantas, nasionalisme pun berkembang ke mana-mana.

Jadi, Rachman bukan pemicu, melainkan pelanjut, memberi data atau keterangan baru dan mengulasnya. Lalu, apa yang menarik dari yang ditawarkan Rachman kali ini, dengan menggeber isu Esternisasi? Apakah ia sekadar menggarisbawahi hal-hal yang sudah menjadi pengetahuan umum, terutama soal fenomena China, atau bagaimana?

Dominasi Barat terhadap bangsa-bangsa Asia segera berakhir. Itulah tesis utama Rachman. Dia tulis di pengantar buku ini suatu rangkaian kalimat yang menegaskan hal tersebut. Lebih dari 500 tahun sejak fajar kolonial Eropa, nasib bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin dibentuk oleh kebijakan Eropa, dan kemudian AS. Tetapi, catat Rachman, dominasi Barat berabad-abad dalam menggenggam dunia itu sekarang ini mendekati titik akhirnya (hal. ix).

Penyebab khususnya ialah perkembangan luar biasa dalam bidang ekonomi di Asia selama lima puluh tahun belakangan. Kekuatan politik Barat, catat Rachman, bertumpu pada teknologi, militer, dan dominasi ekonomi. Namun, keunggulan-keunggulan tersebut dewasa ini tengah merosot cepat. Pergeseran kekuatan dan kesejahteraan ke Asia inilah yang, secara proses, disebut Esternisasi (hal. ix).

Dari pengertian itu, maka titik tekan Rachman berbeda dengan pendekatan orientalisme dan oksidentalisme. Buku Rachman ini lebih politis. Sampai di sini, tulisan kita akhiri, untuk disambung ke kolom berikutnya. (Rilis.id)

M. Alfan Alfian, Alumni HMI. Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. Juga Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute.