Anjing!

- November 24, 2017
Kolom: M, Alfan Alfian, Omah1001
Tentu saya tak hendak memaki dengan judul di atas. Tetapi, kemarin saya ke toko buku dan menemukan buku tentang anjing. Jeff Lazarus menulis Listen Like a Dog (Elex Media Komputindo, 2017).

Pesan khususnya, agar kita “menjadi pendengar yang baik layaknya seekor anjing dan menorehkan tanda di dunia”. Ini termasuk jenis buku Self Improvement.

Yang tak sabar, barangkali langsung angkat bicara, “Apa? Menjadi anjing? Asu? Ogah ah!” Atau “Ih najis!”

Tapi, sabar dulu saudara, Lazarus tidak sedang mengajak kita untuk menjadi, seperti kisah dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma, “Wongasu” alias manusia anjing, malainkan hal-hal yang dapat kita pelajari dari seekor anjing. Fokusnya ialah, seperti disebut di atas, mampukah kita jadi pendengar yang baik. Itu saja.

Pelajaran hidup itu bisa kita dapat dari segala penjuru. Termasuk dari hewan-hewan. Bahkan Al Qur’an pun juga berkisah tentang hewan-hewan, dari burung hud-hud Nabi Sulaiman, semut, unta, dan segala rupa. Nabi Nuh membuat perahu untuk menampung segala jenis hewan menghadapi banjir bandang. Anjing pun dikisahkan dalam kisah Ashabul Kahfi.

Dulu, kolomnis yang humoris, Mahbub Djunaidi pun pernah menyarankan kepada kita bahwa, kalau engkau mau mengajari anakmu politik, maka ajaklah dia ke kebon binatang. Pak Mahbub tentu tak sedang bergurau dengan imbauannya itu, karena hewan-hewan alias binatang-binatang pun berpolitik. Bahkan Aristoteles pun berpendapat manusia itu hakikatnya binatang politik (zoon politicon).

Kisah-kisah politik melegenda sepanjang zaman, dapat kita lacak dari ragam fabel yang ditemukan di berbagai belahan dunia, masa lalu hingga dewasa ini. Khalilah dan Dimnah, salah satunya. Bahwa dunia politik yang penuh intrik, tetapi juga masih menyisakan ketulusan hinggap dalam kisah-kisah buku tersebut.

Burung menco alias beo yang bisa bicara, yang konon tersohor si Beo Sumatra hingga ke Persia, Mesir dan sebagainya di peradaban kuno itu, juga sempat mampir di syair-syair Maulana Jalaluddin Rumi. Juga dalam kisah kuno, Hikayat Bayan Budiman.

Jadi, tak mengapalah saya ajak anda bicara tentang anjing. Bukan masalah najis air liurnya. Tetapi, merujuk Lazarus, kemampuannya mendengarkan, dan bagaimana hal itu kita refleksikan ke kehidupan kita baik di bidang bisnis, politik, atau apapun.

Lazarus, mula-mula mengajak kita merenungkan kondisi zaman kita, zaman serba digital dan virtual ini, zaman di mana “semua orang bicara” dan “tidak ada satu pun yang mendengar”.

“Kita tinggal di Era Konektivitas”, catat Lazarus (hal. xvi), “Selama beberapa dekade belakangan, trilunan dolar teknologi telah diinvestasikan untuk mengembangkan cara baru paling canggih agar manusia bisa terhubung satu sama lain … Dunia, hampir secara harfiah, berada di telapak tangan kita. Sungguh sangat menakjubkan!”

Tapi, ada komposisi yang hilang dalam hidup kita di Era Konektivitas itu. Bahwa kita, manusia ialah makhluk sosial. Kita diprogram seperti itu. Maka, “orang-orang dengan koneksi antar-manusia yang nyata akan lebih sehat secara mental dan fisik, dan akan hidup lebih lama” (hal xix).

Sebaga makhluk sosial, tentu kemampuan berkoneksi antar-manusia penting. Tetapi dewasa ini gejala kesulitan alias merosotnya hasrat atau keinginan dan kemampuan untuk mendengarkan, dipandang Lazarus sebagai masalah utama. Masalah yang lebih besar adalah, kita tidak tahu bahwa kita punya masalah dalam hal mendengarkan.

Kita ingin banyak didengarkan. Ego kita lebih banyak keluar dan semakin mengingkari khasanah kemanusiaan sebagai mahkhluk sosial. Padahal, catat Lazarus, “mendengarkan adalah cara paling kuat untuk membangun ikatan dengan orang lain”.

Maka, belajarlah dari anjing, karena binatang yang suka menggongong itu, spesial dalam hal mendengarkan.

Lazarus mencatat banyak hal, bahwa anjing mendengarkan dengan seluruh jiwa, bukan sekadar telinga. Anjing menggunakan bahasa tubuh yang siaga dan kontak mata yang bagus.

Anjing mengirimkan energi yang murni, positif, dan penuh cinta. Anjing sangat nyaman dalam kesunyian. Anjing tidak memiliki agenda (kecuali tiba saatnya jalan-jalan atau piring makannya kosong).

Anjing mendengarkan keinginan dan perasaan. Anjing tidak menghakimi. Anjing tidak menginterupsi. Tidak mendebat. Tidak menguliahi. Sabar tanpa batas. Anjing sangat nyata dalam dunia yang semakin hari semakin virtual.

Dari anjing, kita belajar untuk berempati. Ini ringkasan pelajarannya.

Sekianlah pengajian kolom minggu ini, Insyaallah minggu depan kita sambung. Tentu masih berkisah soal anjing, di mana buku Lazarus ini saya kaitkan dengan jajaran buku laris Malcolm Gladwell, What the Dog Saw: And Other Adventures. Dan, sebagai hiburan, cerpen Kuntowijoyo, “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan”! (rilis.id)

M. Alfan Alfian
Alumni HMI. Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. Juga Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute.