Kolom Budi Hutasuhut : Surat Panjang Buat IB Ilham Malik (Bagian 2/3)

- November 03, 2017

Pengenalan diri

Tahukan burung mayar? Pernahkan Anda melihat burung itu membangun sarangnya? Bagaimana burung itu menyobek daun-daun ilalang sedemikian rapih hingga berbentuk pita, lalu membawa sehelai demi sehelai pita daun ilalang itu dan merajutnya menjadi sarang yang artistik.

Burung murai yang bersuara indah tidak mampu membangun sarang seperti sarang burung tempua. Burung elang yang bertubuh besar dan volume otaknya lebih besar, tidak bisa membangunan sarang seperti sarang tempua. Burung beo yang pintar meniru bahasa manusia, tidak akan bisa membuat sarang seperti sarang tempua.

Hanya burung tempua yang bisa membuat sarang seperti sarang burung tempua.

Tapi, apakah Anda menyadari bahwa burung tempua tidak memiliki ketekunan dan ketelitian karena kemampuan dalam membangun sarang itu sesuatu yang alamiah. Burung tidak pernah berpikir akan seperti apa sarang yang dibangunnya, karena yang ada dalam dirinya hanya membangun sarang untuk memikat hati lawan jenisnya. Burung tempua terus-menerus bekerja membangun sarang dan baru berhenti jika sudah menemukan pasangan. Artinya, tujuan membuat sarang itu untuk meneruskan populasi. Meskipun sarang burung tempua sangat bagus, fungsinya sama saja dengan sarang burung puyuh. Anda tahu burung puyuh. Burung ini tak butuh sarang yang cantik, hanya potongan rumput yang diletakkan di tanah, lalu dia bertelur. Anak-anak burung puyuh kemudian lahir.

Manusia berbeda dengan burung tempua. Kalau burung tempua tidak pernah memikirkan akan seperti apa sarang yang dibangunnya, maka manusia selalu akan memikirkan sebelum melakukan kerja apa saja. Selalu ada pertimbangan bagi manusia, dan pertimbangan demi pertimbangan itulah yang membedakan manusia yang satu dengan manusia lainnya.

Tidak semua manusia yang bekerja hanya memikirkan keuntungan material apa yang bisa diperolehnya di akhir pekerjaannya, karena bekerja bagi manusia bukan sekadar tindakan mencari makan yang sangat alamiah atau untuk melanjutkan populasinya.

Bekerja bagi manusia juga merupakan proses belajar dan pembelajaran, menambah pengalaman dan pengetahuan sehingga semakin memahami segala sesuatu tentang apa yang dikerjakannya. Itu sebabnya, pengalaman dan pengetahuan manusia atas sesuatu itu sangat dihargai. Maka, Anda jangan hanya memikirkan tentang materi yang bisa diperoleh dari pekerjaan yang dilakukan. Anda harus juga memperoleh pengalaman dan pengetahuan.

Setiap pekerjaan yang dilakukan harus membuat Anda lebih matang dalam menguasai segala hal berkaitan pekerjaan itu. Bekerja harus menjadi sebuah proses pematangan diri, sehingga Anda bisa lebih meningkatkan kapasitas dan kualitas diri. Bila proses membuat Anda matang, maka Anda akan bisa membayangkan segala sesuatu yang akan terjadi.

Membayangkan bagaimana masa depan sebuah pemerintah daerah? Seperti apa masa depan itu? Dimana posisi masyarakat pada masa depan itu?

Mungkin itulah subtansial dari riset tentang Kabupaten Lampung Timur. Riset itu diawali dengan pertanyaan-pertanyaan ontologis di atas. Sudah tentu ada pengandaian di sana, bahwa jawaban dari semua pertanyaan itu hanya mungkin dilakukan dengan sebuah pekerjaan meramalkan. Tapi jangan pernah membayangkan pekerjaan meramalkan seperti pekerjaan seorang dukun atau paranormal.

Di dalam pekerjaan paranormal, hanya bisa ditemukan hal-hal mistis, hal-hal yang menolak logika rasional. Hal-hal yang tidak menemukan penjelasan secara ilmiah, jauh dari dinamika paradigma berpikir di zaman yang serbamoderen saat ini. Jauh dari logika rasional.

Meramalkan dalam riset ini sama dengan membayangkan, lebih dekat dengan berimajinasi atau berasumsi. Tentu saja dalam kerja meramalkan ini, ada data-data yang jadi panduan, sehingga segala sesuatu bisa dirasionalisasikan ke dalam logika lewat teori-teori dalam ilmu pengetahuan.

Ini bukan pekerjaan mudah. Ada banyak kesulitan yang mengadang, tetapi itulah tantang terbesar dari pekerjaan yang kelak bermanfaat besar bagi banyak kalangan. Membayangkan sesuatu yang belum terjadi, dan menuliskannya menjadi sebuah hasil riset, memang terdengar seperti sebuah khayalan. Seperti sepotong angan-angan. Seperti sesuatu yang tak mungkin diraih.

Bagi mereka yang terbiasa pragmatis dalam perilaku hidup sehari-hari, praksis akan berpikiran seperti itu. Bagi mereka sesuatu usaha, apapun bentuknya, selalu akan dipertanyakan nilai untungnya dalam waktu dekat. Oleh karena itu, membaca riset ini bagi mereka tidak akan memberi makna apapun. Sebab, harapan mereka akan memperoleh sesuatu; akan mengantongi sesuatu, tidak akan mereka dapatkan dari buku ini.

Riset ini tidak akan memberikan sesuatu dalam bentuk fisik kepada pembaca, apalagi dalam jangka waktu sekilas. Tapi ada sesuatu, setidaknya akan dapat dirasakan manfaatnya pada tingkat kognitif berpikir, dan manfaat itu hanya bisa dirasakan pada tingkat aflikatif.

Membaca riset tersebut akan membawa seseorang pada kesadaran bahwa aktivitas membangun sebuah daerah bukanlah pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan. Membangun merupakan pekerjaan yang membutuhkan tingkat pengetahuan tertentu, ditunjang oleh tingkat kesabaran yang mumpuni, dan didukung oleh tingkat partisipasi public yang mencerahkan.

Sebab itu, siapa pun yang punya pemikiran bahwa membangun sebuah daerah merupakan pekerjaan mudah, sehingga senantiasa ngotot untuk memaksakan pemikiran dan kehendaknya, pastilah akan menemukan kegagalan demi kegagalan apabila pekerjaan membangun diserahkan kepadanya. Karena proses membangun tidak bisa mengandalkan pragmatisme berpikir, yang membuat siapa saja tidak perduli pada proses.

Pembangunan daerah adalah sebuah proses yang panjang dan berlarut-larut. Terdengar tidak praktis dan terlalu banyak memakan waktu. Tapi, proses mekanisme dimana seseorang dapat belajar banyak hal dari kesalahan dan keberhasilan, kelemahan dan kekuatan, sehingga setiap pilihan langkah dalam menapak dan berbuat sesuatu senantiasa disertai dengan kewaspadaan tinggi atas kemungkinan tidak tercapainya apa yang diharapkan.

Kewaspadaan yang mengharuskan seseorang untuk mempersiapkan pilihan-pilihan strategis sebagai antisipasi, sehingga ketika sebuah pilihan berhadapan dengan kendala besar yang menyebabkan kegagalan, masih ada alternatif lain yang berangkat dari kegagalan pertama.

Belajar dari kegagalan demi kegagalan hanya mungkin dilakukan oleh entitas masyarakat yang sangat paham makna terpenting dari pengetahuan. Tanpa adanya kegagalan dari sekian banyak eksperimentasi, mustahil seorang saintis akan sampai pada rumusan sebuah teori yang andal. Kegagalan demi kegagalan yang dihadapi para saintis membawa pencerahan pada penemuan sekian banyak teori dalam ilmu pengetahuan, yang kemudian sangat berguna untuk mengungkap realitas-realitas yang tersembunyi di alam semesta.

Sayangnya, tipikal masyarakat saat ini adalah masyarakat yang abai terhadap proses dan kurang menghargai pengalaman. Terbiasa hidup manja karena semua keinginan bisa diperoleh dari alam semesta di lingkungannya, membuat masyarakat tidak percaya pada kebersahajan proses. Segala sesuatu harus dihadirkan ke hadapan mereka secara instant atau cepat saji. Dengan begitu, mereka tidak perlu capai untuk melampaui proses, apalagi memikirkan proses itu, yang sering panjang dan bertele-tele, dan acap tidak berakhir seperti yang diharapkan. Mereka hanya mau sesuatu yang mudah dan gampang, karena segala sesuatu diukur berdasarkan kadar artifisial, bukan kadar subtansial. Apa yang diusahakan hari ini, harus menghasilkan sesuatu yang juga diperoleh hari ini.

Inilah watak kultural yang selalu mengedepan dalam proses pembangunan sebuah daerah, sehingga menimbulkan kesulitan besar bagi setiap kerja keras dalam membangun dan merealisasikan masa depan yang pernah dibayangkan. Karena logika umum tidak bisa menerima pekerjaan membayangkan itu sebagai pekerjaan rasional, terutama apabila pekerjaan membayangkan di sini ditafsirkan sebagai pekerjaan menghayal, bermenung, dan berandai-andai.

Tafsir semacam ini dimiliki masyarakat, seolah-olah pekerjaan membayangkan identik dengan tindakan tidak produktif. Sebab, membayangkan dalam pemahaman masyarakat umum, merupakan pekerjaan sia-sia yang membuat pelakunya lebih banyak diam dan menunggu. Padahal, membayangkan sesuatu yang belum terjadi dan berharap hal itulah yang akan terjadi kelak, bukan sebuah tindak yang tidak produktif.

Pekerjaan membayangkan ini akan menjadi semacam pelatuk. Serupa pemicu yang sensitif, yang apabila disentuh, mendorong bagi lahirnya ledakan-ledakan pemikiran, gagasan, dan kemampuan bekerja yang luar biasa. Dengan semua itu, seluruh energi dan élan vital hidup bisa dikerahkan untuk mewujudkan masa depan yang dibayangkan tersebut. Membayangkan di sini bisa dimaknai sebagaimana tindakan yang dilakukan manusia sepanjang sejarah peradaban; membayangkan gejala-gejala alam dalam rangka pengenalan diri.

Para ilmuwan melakukan hal ini selama sejarah ilmu pengetahuan. Tanpa pekerjaan membayangkan, sulit bagi seorang ilmuwan untuk menemukan rumusan-rumusan, metoda-metoda, dan formulaformula. Sebab itu, membayangkan di sini adalah sebuah proses pengenalan diri. Pengenalan diri adalah pusat segala upaya dalam kehidupan untuk dapat menuju keberhasilan.

Hanya manusia yang mengenali dirinya sendiri yang tahu persis bagaimana mencapai dan mewujudka cita-citanya. Pada tingkat negara, hanya bangsa yang mengenali dirinya secara detail yang kelak akan menjadi bangsa yang maju. Begitu juga halnya dengan sebuah pemerintahan daerah, bahwa tanpa upaya yang luar biasa untuk mengenali diri sendiri, sulit bagi sebuah daerah untuk merengkuh masa depan pembangunan daerah sebagaimana yang dibayangkan, diangankan, dicita-citakan, dan diharapkan.

Kegagalan terbesar bagi sebuah daerah dalam menggerakkan roda pembangunan adalah kegagalan mereka dalam proses pengenalan diri. Disebut demikian, karena dinamika pembangunan di sebuah daerah acap digerakkan dalam semangat penyeragaman antara satu daerah dengan lain daerah, sementara setiap daerah memiliki karakteristik sosial, budaya, ekonomi, politik, dan agama yang berbeda dengan daerah lainnya.

Penyeragaman itu bisa karena konsep politik pembangunan yang digerakkan pemegang kekuasaan negara seperti yang terjadi selama puluhan tahun kekuasaan pemerintah negara Orde Baru. Atau, bisa oleh semangat plagiator (peniruan dan penyontekan) untuk menjadi pengekor yang acap muncul di daerah-daerah selama reformasi bergulir di negeri ini.

Tentang pengekor, penyontek, atau flagiator bisa dicontohkan berupa fenomena daerah-daerah di Indonesia yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Untuk mengikuti keberhasilan daerah-daerah lain dalam menjalankan roda pembangunan daerah, tidak jarang pemerinah daerah melakukan pengekoran tanpa sebuah proses filterisasi atau pemilahan.

Proses pengekoran secara utuh melalui apa yang belakangan sering dilakukan pemerintah daerah di Indonesia yang disebut studi banding, lebih menunjukkan kecenderung sebagian besar daerah di Indonesia untuk tidak kreatif. Memunguti apa yang dilakukan daerah lain untuk kemudian mengaflikasikannya secara utuh di daerah sendiri, merupakan bentuk kerja yang lebih menunjukkan betapa kelemahan-kelemahan mendasar dari para pengelola pemerintah daerah terletak pada kurangnya kerja keras untuk tampil sebagai pembawa aspirasi.

Banyak daerah di Indonesia yang akhirnya menggerakkan roda pembangunannya sama persis seperti daerah-daerah yang sudah berhasil. Keberhasilan Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana adalah contoh yang acap membuat pemerintah daerah lain datang untuk belajar, kemudian menyerap semua strategi pembangunan daerah dari Kabupaten Jembrana, lalu menerapkannya secara utuh untuk daerah masing-masing. Akibatnya, laju pembangunan di daerah tersebut setelah konsep pembangunan yang dicontoh mentah-mentah dari daerah lain yang sudah sukses, tidak bisa membuat daerah bersangkutan mengalami sukses serupa.

Penyebab utama dari kegagalan daerah-daerah dalam pembangunan setelah mengadopsi konsep-konsep yang pernah sukses dterapkan di daerah lain, karena daerah yang mengadopsi belum pernah melakukan pengenalan diri. Daerah tersebut belum memahami eksistensi dirinya, tetapi sudah menyimpulkan apa yang diinginkan masyarakatnya. Padahal, setiap daerah di Indonesia tidak sama, baik karakteristik daerahnya maupun khazanah budaya masyarakatnya. Karena itu, tidak semua konsep pembangunan yang sukses diterapkan di daerah lain akan mengalami sukses yang sama ketika diterapkan di daerah yang lain.

Kesalahan yang sama pernah dilakukan lembaga internasional di Indonesia pasca krisis moneter. Keberhasilan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank dalam memberikan saran bagi negara-negara berkembang yang didera krisis moneter, ternyata tidak mengalami sukses yang sama di semua negara berkembang. Perbedaan pada setiap negara menjadi penyebab kegagalan program-proram yang ditawarkan IMF dan World Bank tersebut.

Maka, sebelum memutuskan menerapkaN konsep pembangunan seperti apa yang paling cocok untuk sebuah daerah, hal pertama yang perlu dilakukan adalah pengenalan diri. Sebelum berhasil mengenali diri sendiri, proses pembangunan sebuah daerah tidak mungkin dilakukan. Kalaupun tetap dipaksakan, pekerjaan itu akan menjadi kegiatan yang tidak bermanfaat. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu dilakukan akhirnya dilakukan, sedang sesuatu yang sebetulnya sangat dibutuhkan akhirnya tidak dipikirkan. Begitu berulang-ulang setiap tahun, sehingga proses pembangunan yang digerakkan tetap saja tidak sesuai dengan harapan.

Mengenali diri sendiri menjadi perkara yang mutlak perlu bagi sebuah daerah. Pada dasarnya, mengenali diri adalah kodrat manusia. Tanpa pengenalan diri, sulit bagi siapa saja untuk paham apa yang diinginkannya, sekaligus berarti orang tersebut tidak akan memiliki kewaspadaan atas kekeliruan demi kekeliruan, kekurangan demi kekurangan, kesalahan demi kesalahan, persoalan demi persoalan, yang pernah, telah, dan akan dihadapi. Dengan begitu, sebuah daerah akan menghadapi kesulitan besar dalam memecahkan problem-problem yang dihadapinya, yang justru memperlihatkan ironisme sebuah daerah.

Sering persoalan yang dihadapi hari ini dalam proses pembangunan sebuah daerah, sebetulnya persoalan yang sudah pernah dihadapi pada hari sebelumnya. Namun, karena upaya pengenalan diri sangat lemah, daerah-daerah bersangkutan menjadi kesulitan untuk mengidentifikasi persoalan-persoalan yang pernah dihadapinya, lalu berkesimpulan bahwa persoalan itu merupakan persoalan baru. Kita ambil contoh. Tiap tahun pemerintah daerah membuat program ketahanan pangan, tapi keberhasilannya tidak kunjung tercapai. Padahal, persoalan yang di hadapai terkait ketahanan pangan selalu sama. Perubahan hanya terjadi masalah tak terduga seperti kondisi pasar.

Persoalan kemiskinan contoh lainnya. Dari tahun ke tahun, kemiskinan selalu menjadi persoalan krusial, yang menuntut pemerintah untuk mencarikan solusi yang tepat guna mengatasinya. Kalau kemudian kemiskinan itu tetap menjadi persoalan sampai hari ini, bukan lantaran tidak ada solusi yang ditawarkan, atau tidak ada kebijakan yang dirumuskan oleh pemerintah. Melainkan karena pemerintah tidak mengenali diri sendiri sebagai sebuah bangsa yang masyarakatnya sangat plural, dan setiap entitas masyarakat tidak menerima semua solusi dan pemecahan persoalan kemiskinan dengan cara yang sama.

Akibat tidak mengenali diri sendiri, pemerintah akhirnya terjebak dalam lingkaran persoalan yang sama setiap tahun. Setiap kali sudah membuat kebijakan, selalu saja persoalan itu muncul lagi, lalu kembali kebijakan yang sama dibuat hingga akhirnya geliat pembangunan daerah bagai jalan di tempat. Sementara negara-negara tetangga, yang sebelumnya banyak belajar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dalam waktu relatif singkat bisa muncul sebagai negara yang fenomenal. Singapura, misalnya, sebagai negara yang miskin wilayah dan karenanya miskin sumber daya alam, ternyata bisa tampil menjadi negara yang mengendalikan lalu lintas perdagangan internasional di kawasan Selat Malaka.

Pengenalan diri sangat penting. Pekerjaan ini bisa dipahami sebagai proses introspeksi. Instrospeksi adalah kegiatan psikologis yang bertujuan untuk penyadaran diri. Aristoteles menyatakan bahwa semua pengetahuan manusia berasal dari suatu kecenderungan dasar dalam kondrat manusia yang menampakkan diri dan reaksi manusia paling elementer. [1]

Pada akhirnya, pekerjaan mengenali diri bertujuan agar bisa merealisasikan diri. Keberhasilan dalam pengenalan diri akan membuat siapa saja menjadi lebih mudah dalam merealisasikan diri. Dan tentu, dalam merealisasikan diri sudah diandaikan bahwa segala bentuk persoalan yang pernah dihadapi sudah ditemukan solusi-solusinya, sekaligus menunjukkan bahwa persoalan-persoalan lain yang akan dihadapi sudah dibayangkan akan dihadapi sehingga sudah dicarikan seperti apa solusinya apabila persoalan itu benar-benar muncul dan mendera.

Dalam hal membayangkan masa depan Kabupaten Lampung Timur jelas bukan pekerjaan mudah. Tiga pertanyaan ontologis muncul tentang bagaimana masa depan sebuah pemerintah daerah; seperti apa masa depan itu; dan dimana posisi masyarakat pada masa depan itu harus diuraikan satu per satu. Yang pertama dilakukan tentunya adalah menetapkan apakah kita harus mendefesnisikan Kapupaten Lampung Timur atau mendefenisikan masyarakat Kabupaten Lampung Timur.

Tugas menjawab dua pertanyaan itu tanggung jawab para akademisi. Jawaban yang mereka berikan selalu mengacu pada nomenklatur pendirian daerah otonomi baru Kabupaten Lampung Timur lengkap dengan data-data statistiknya. Padahal, jawaban sesungguhnya adalah defenisi tentang masyarakat Kabupaten Lampung Timur berikut segala dinamika sosio-kulturalnya.



Budi Hatees, Seorang pembaca buku dan penafsir kata yang kebetulan terlibat dalam sejumlah program pembangunan daerah di Kabupaten Lampung Timur.

______________
[1] Aristoteles, Metaphysica, Buku A-1-980; terjemahan Inggris oleh W.D. Ross, The Works of Aristoteles Oxford, Clarendon Press, 1924, vol VIII.