Kelucuan Baru di Sudut Taman Merdeka Metro

- November 06, 2017

Saya selalu mengawali dengan pertanyaan untuk siapa, ketika tiap kali menyoal pembangunan. Bagaimana proses, bentuk dan dampak dari pembangunan itu adalah pertanyaan penting lainnya yang selalu saya tempatkan di belakang pertanyaan untuk siapa?

Barangkali pertanyaan tersebut jauh dari standar ilmiah. Namun, sebagai warga biasa yang sudah cukup beruntung bisa mencecap bangku kuliah (itu pun berantakan), pertanyaan "untuk siapa" sebenarnya sudah lebih dari cukup. Ketika pemerintah membangun Metro Mega Mal, merobohkan Masjid Taqwa yang lama dan membangun Masjid Taqwa yang baru, membiarkan toko ritel, perbankan, rumah sakit, swalayan-swalayan, ruko, usaha dealer dan rumah makan menghancurkan trotoar.

Termasuk juga ketika mempertanyakan pembangun Metro Convention Centre (MCC), merobhhkan nama Taman Merdeka dan membangunnya kembali, termasuk membangun tulisan seperti gambar di atas di pojok Taman Merdeka, pertanyaan yang sama, hendak saya sampaikan "untuk siapa?"

Bagi saya, jawaban dari pertanyaan "untuk siapa" atau "untuk apa" itulah yang akan menghantarkan kita pada sebuah kesimpulan apakah pembangunan itu benar-benar merupakan kebutuhan dasar, "siapa dan apa". Jika jawaban untuk siapa itu adalah warga kota, maka apakah pembangunan itu benar merupakan kebutuhan dasar warga kota, atau jika pembangunan itu hanya untuk menghabiskan anggaran, maka jawabannya juga bisa ditebak.

Jika pertanyaannya untuk mempercantik dan memperindah  (estetika) kota, maka apakah pembangunan tersebut telah benar-benar sudah menyuguhkan nilai-nilai estetik. Soal estetika kota, tentu ada standar dan ahlinya yang bisa menilai.

Saya cukup berbaik sangka, bahwa niat pembangunan tulisan itu pastilah baik, karena tak ada satupun pemimpin yang dengan sengaja hendak mempertontonkan "sikap norak dan culun"nya kepada publik, dengan membangun tulisan yang tak jelas maksudnya itu, bahkan bukan hanya tak jelas apa yang dimaksudkan, menurut Danang tak jelas juga jenis font  yang digunakan sehingga tak terlacak di google.

Barangkali tujuan pembangunan tulisan yang huruf awalnya menyerupai X atau JL dan huruf keduanya berwarna merah menyerupai dua orang yang saling membelakangi kemudian melakukaan kayang, dan berikutnya adalah tulisan etro, untuk spot wefie atau selfie bagi para pengunjung taman. Seperti dalam beberapa foto di bawah ini yang saya comot dari google.

Seperti jika tak ingin repot mendesain ulang, maka cukup L dalam tulisan I Love KL (seperti di bawah ini) diganti dengan M. jadi I Love KM. ;p.

Atau beberapa contoh desain senada yang ada dalam negeri, tulisan-tulisan yang memang sedang ngehits mengikuti selera generasi milenial.

Atau jika tak ingin jauh-jauh, cukup meniru model Pringsewu yang sebenarnya kultur masyarakatnya tak jauh berbeda dari Kota Metro, tetap bangga menggunakan ikon "kelampungan" yang mengapit tulisan Pringsewu, terasa lebih lokalistik, khas dan berkarakter tentunya.


Sekali lagi saya ingin berbaik sangka, bahwa desain tulisan di pojok Taman Merdeka tersebut sebenarnya bukan seperti yang kita lihat, barangkali tukangnya yang "ketelingsut" ketika menyusun bata. Karena, kalau itu memang sengaja didesain seperti itu, kemudian Ketua DPRD Kota Metro berkomentar, "hahaha... Ora popo ... ...", saya pikir "hidup, memimpin kota dan menghabiskan anggaran, tak sebercanda itu juga kali!"

Tabik.


Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo