Keadilan Itu Di Puncak, Mendakilah!

- November 24, 2017
Film serial The X-File, dalam salah episode bercerita tentang Agen Fox Mulder yang berkhayal didatangani oleh sosok Genie, jin perempuan yang cantik, yang memberinya satu permintaan untuk diwujudkan, kemudian Mulder meminta agar dunia senantiasa aman, damai dan tentram, tanpa perselisihan, intrik politik dan perebutan kekuasaan.

Dengan tersenyum si jin cantik mengangguk dan berkata, “all done. Saat itu juga Fox Mulder merasakan ketenangan dunia setenang-tenangnya. Tiada lagi perbantahan dan perselisihan, tiada lagi perebutan kekuasaan. Segalanya jadi hening sehening-heningnya.

Mulder kemudian berlari ke jalan, tiada didapatinya seorang manusiapun, segalanya senyap. Tidak ada lagi yang kebut-kebutan di jalan, tidak ada pula lagi yang merasa terancam dengan kebut-kebutan itu dan tidak ada lagi sumpah serapah.

Kisah Mulder dalam The X-File ini bisa dimaknai seolah menanamkan pesimisme tentang kedamaian, ketentraman dan keamanan yang hari ini semakin langka didapat, hanya ada dalam khayalan Mulder dan bisa diwujudkan dengan menghilangkan semua manusia.

Lantas, apakah itu berarti keadilan yang bisa melahirkan rasa aman, tentram dan damai itu hanyalah persepsi, sehingga kita harus dengan terpaksa mengamini, persepsi adalah persepsi, dan realitas adalah realitas. Adil itu hanyalah ide, bukan kenyataan!

Barangkali, kita memang tanpa harus menonton seri film The X-File ini telah terlanjur pesimis terhadap kehidupan, sehingga terkadang tanpa sadar kita terpancing untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Menggadaikan suara ketika pemilu, menyuap untuk mendapat pekerjaan, bermuka manis terhadap pejabat yang korup dengan harapan bisa kecipratan rezeki, dan berbagai sikap lainnya yang sebenarnya bertentanngan dengan hati nurani, tetapi terpaksa dilakukan karena pesimis.

Kita pesimis untuk mendapatkan wakil rakyat atau pemimpin yang baik, saking terlalu sering dibohongin, sehingga menjual suara daripada tak mendapatkan apapun. Kita pesimis bahwa kepandaian dan kecakapan tak cukup menjadi modal untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga terpaksa menyogok atau memakai jasa 'orang dalam'. Kita pesimis tanpa menjilat tak mungkin karir naik atau bisa berdekatan dengan kekuasaan.

Jika begitu, maka tak berlebihan kiranya Soe Hok Gie menitip pesan untuk berhati-hati dengan mereka yang terjangkiti sifat pesimis dan apriori, karena lawan idealisme itu adalah apriori dan pesimisme. Orang yang terjangkiti sifat pesimis, tak akan pernah lagi percaya bahwa memegang teguh kebenaran dan idealisme itu bisa menjadikannya sukses dan survive, sehingga mereka cenderung tak canggung melacurkan diri dan idealismenya.

Apalagi setiap hari kita memang sering dipertontonkan ketakadilan. Mereka yang penjilat dan bermuka manis lebih sukses dari mereka yang melakukan kritik dengan tulus terhadap atasannya. Penguasa dan pengusaha yang korup dan jahat tetapi kaya raya karena korupsi lebih dihormati daripada penguasa dan pengusaha yang jujur tetapi memiliki materi terbatas.

Para pejabat korup, meskipun telah menggunakan rompi oranye tetap dianggap lebih mulia daripada petugas kebersihan, tukang sapu jalanan yang menggunakan baju berwarna sama.

Memang teramat susah untuk mengatakan hidup ini adil, ketika bertemu penguasa yang hidup serba enak dan dibiayai rakyat, menghabiskan waktu-waktunya di ruang ber-AC, menutupi dan memoles wajahnya dengan kosmetik yang serba mahal, menggunakan pakaian mahal dari merk-merk terkenal, sedangkan rakyatnya setiap hari tak peduli panas terik dan deras hujan, pergi membajak sawah dan menanam bibit padi, membersihkan, merawat dan menaburinya pupuk mahal yang dibeli dengan berhutang, kemudian saat musim panen, ia juga harus menerima resiko gagal panen, karena banjir akibat hutan yang digunduli pengusaha serakah atau padinya diserang hama wereng.

Sementara penguasa yang tiran, hidup dalam kesenangan dan kemewahan, kemudian mati tetap bergelimang kesenangan, dengan warisan yang tak akan habis dimakan anak cucunya hingga tujuh turunan.

Apakah benar adanya summum jus, summa injuria, keadilan yang tertinggi adalah ketidak-adilan yang terbesar sebagaimana ungkapan Cicero yang terkenal itu, atau ungkapan serupa lainnya bahwa summa lex summa crux? Barangkali, Iya. Aliran positivisme mempercayai bahwa keadilan yang tertinggi adalah ketakadilan tertinggi pula. Namun menurut Satjipto Rahardjo, keadilan itu terlihat bagaimana seseorang melihat hakikat manusia dan seseorang memperlakukan manusia.

Jadi, keadilan itu bukan soal timbangan yang seimbang dan serba materialistik melainkan erat terhubung dengan nilai, kemanusiaan dan nurani. " Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan." (Qs. Annisa; 135).

Adil bukan semata soal materi, adil adalah tawazun, keseimbangan. Adil mencipta ketenangan dan kenyamanan, sedangkan berlimpahnya materi tak menjamin melahirkan kebahagiaan sejati, bisa jadi semu dan menipu.

Bukankah untuk sampai ke puncak, harus menempuh jalanan mendaki? Lantas, mengapa untuk sampai ke puncak kebenaran dan keadilan engkau justeru pesimis dengan pendakian?

Teramat naif, jika mendamba tegaknya keadilan tetapi di sisi lain kita menggadaikan idealisme, permisif dengan transaksi jual beli suara, mengaminkan penyuapan dan menjadi menjadi penjilat untuk bisa survive. Pesimisme terhadap tegaknya keadilan sama halnya berhenti menjadi manusia yang memiliki nurani.

Tabik.