Guru: Digugu dan Ditiru, Masih Adakah?

- November 25, 2017


Judul tulisan ini bukan menyangsikan keberadaan jutaan orang yang berprofesi guru, dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) atau bahkan Perguruan Tinggi (PT). Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini hanyalah refleksi kecil, ketika kini guru dimaknai sekadar sebagai pengajar di ruang kelas, menyampaikan pelajaran sesuai silabus dan kurikum, tanpa terbebani untuk selalu menjaga laku dan tuturnya, baik di sekolah maupun di masyarakat, guru yang tutur lakunya menjadi rujukan, digugu dan ditiru.

Dulu, ketika saya masih sekolah dasar, guru bagi saya adalah sosok yang super, melebihi segala kehebatan yang dimiliki orang tua saya, yang hanya bisa membaca dan menulis dengan terbata-bata, bahkan bukan hanya saya dan murid-murid lainnya, para orang tua kami pun ikut menganggap guru sebagai sosok sempurna, layak diidolakan karena memiliki pengetahuan, moral dan akhlak yang baik melebihi masyarakat umumunya, tingkah laku nan santun, tutur kata yang sopan, hingga cara berpakaian yang rapi.

Guru saya, sangat jarang terlihat memakai celana pendek di ruang publik di hampir segala keadaan, kecuali ketika ia berolahraga atau melakukan aktifitas yang tak memungkinkan memakai celana panjang. Para guru perempuan rata-rata menggunakan kebaya atau baju kurung, rok panjang atau rok yang menutupi lutut, ketika para guru perempuan itu memakai celana pastilah juga celana longgar, bukan yang ketat apalagi semacam leging seperti celana zaman now yang membentuk lekukan bokong, paha dan betis.

Guru, memberikan jam tambahan untuk murid-muridnya di sore hari dengan riang dan penuh keakraban, tak ada biaya tambahan apapun. Guru akan sangat merasa bersalah dan gagal, ketika sebagian murid-muridnya tinggal kelas (tidak naik), sekaligus memiliki perasaan bersalah yang sama, ketika murid-murid naik kelas padahal si murid dianggap belum mampu untuk naik kelas.

Masa itu, memang belum tak ada tempat les atau lembaga bimbingan belajar yang bisa mengganti peran dan fungsi guru. Tidak seperti saat ini, mereka yang memiliki uang lebih banyak, bisa mengikuti les dan bimbingan belajar di luar sekolah, belajar kepada para instruktur di tempat-tempat bimbel untuk memecahkan kisi-kisi soal yang akan diujikan, sehingga yang tak mengikuti les dan bimbel karena keterbatasan biaya, bisa dipastikan tak akan pernah bisa lebih cerdas dan berprastasi daripada mereka yang mengikuti les dan bimbel.

Zaman memang telah berubah. Lajunya sedemikian cepat, bukan hanya metode, gaya dan fasilitas belajar yang berubah, makna guru juga mengalami pergeseranpesat, guru bukan lagi sosok yang mesti digugu dan ditiru, tak ada lagi beban menjadi sosok teladan yang mengharuskan guru menjaga sikap dan ucap di luar kelas. Guru hanyalah guru ketika berada di sekolah, guru adalah pekerjaan yang menyesuaikan jam kerja dan nominal gaji.

Di luar sekolah, ibu guru muda adalah cewek seksi yang kekinian. berkaos ketat dan bergaya alay.

Bukan hal yang mengagetkan pula, ketika melihat fenomena guru yang nyambi menjadi pengusaha, berbisnis buku pelajaran, menjadi joki yang bertugas menyebar kunci jawaban ketika ulangan, atau guru yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengusaha catering dengan pasar utamanya adalah para murid. Guru seperti ini menganggap sekolah adalah pasar yang menjanjikan, membuka ruang mengembangkan bisnis dan usaha-usaha baru, bisnis pakaian, bisnis makanan, bisnis seminar dan pelatihan, bisnis hiburan dan permainan hingga bisnis paket wisata pendidikan.

Al hasil, produknya adalah murid-murid yang kehilangan rasa hormat dan sopan-santun kepada gurunya. Jika kita masih menganggap tabu dan kurang ajar, para murid yang seenaknya merokok di depan gurunya, berkacak pinggang, membentak dan memukul gurunya, maka mestinya bertanyalah apakah mereka benar-benar guru.

Barangkali kita merasa aneh dan heran, ketika ada murid SMA yang dengan santai menggoda ibu gurunya yang cantik, seksi dan modis. Tapi, begitu memperhatikan si ibu, jangan-jangan kita malah berubah pikiran bahwa : ibu guru memang pantas digoda.

Momentum 25 November 2017 ini, semoga menjadi momentum refleksi dan merenung, bukan hanya untuk mengingat jasa-jasa para guru dulu, melainkan juga melakukan evaluasi mengapa ada pergeseran nilai dalam pendidikan kita, karena jika murid nakal tak mungkin menyalahkan pedagang di pasar, pastilah murid kencing berlari karena guru kencing berdiri!


Selamat Hari Guru Nasional!

Rahmatul Ummah
Murid SD Tahun 1985-1990