Bangga Menjadi Warga Metro

- November 22, 2017



Tak ada orang Lampung yang tak kenal Kota Metro sebagai kota yang majemuk, multi etnis dan tradisi, tetapi tetap sejuk, ramah-tanpa konflik, nyaman dan bersahabat untuk dihuni.

Meski Kota Metro sering dijuluki sebagai daerah tanggung, “kota tak sampai, desa telah lewat”, namun, hal tersebut justeru menjadi identitas dan karakter Metro sebagai kota yang masih sangat menjaga tradisi, saling peduli sesama, kesetiakawanan, dan kesukarelaan serta sikap gotong-royong yang masih dirawat dengan baik oleh sebagian besar warganya.

Menurut saya, dengan karakter tersebut justeru Kota Metro berpotensi menjadi kota masa depan, referensi bagi kota-kota lain di Indonesia bahkan (mungkin) di dunia, dengan syarat penataan Kota Metro sebagai kota yang ramah terhadap semua kelompok, gedung-gedung bangunan yang didirikan tidak mengarah kepada upaya mengalienasi kemanusiaan dan kebudayaan warganya, modernitas yang hadir tidak menggerus tradisi lokal, orang tetap ramah berinteraksi meski mereka berada di Mall atau Supermarket.

Intinya, Kota Metro justeru menjadi unggul ketika tetap menjadi kota dengan nuansa desa, tidak latah dengan pembangunan yang berorientasi pada pendirian beton, tembok atau gedung-gedung besar nan mewah. Maka, Kota Metro wajib memastikan bisa menghentikan laju pembangunan Indomaret, Alfamart dan sejenis toko ritel lainnya termasuk juga harus berani membatasi pembangunan ruko!

Pembangunan Kota Metro harus diarahkan kepada penataan sendi-sendi perkotaan yang selama ini masih dianggap masih sulit diakses oleh warga yang berkebutuhan khusus (disabilitas), seperti kantor-kantor pelayanan publik, rumah sakit hingga tempat-tempat perbelanjaan, termasuk jalan-jalan utama yang khusus disediakan bagi kelompok-kelompok tersebut termasuk para pejalan kaki dan pesepeda.

Pembangunan Kota Metro, harus lebih diarahkan pada penataan dan upaya memaksimalkan fungsi ruang-ruang publik, ruang-ruang yang memiliki nilai sejarah, ruang khalayak yang layak sebagai rumah bersama, yang bisa menghimpun warga untuk bisa terus menerus berinteraksi seperti keluarga.

Membandingkan

Jakarta bisa bangga sebagai kota Metropolitan yang secara (tak) kebetulan menjadi Ibukota Negara, di Jakarta juga hadir berbagai simbol-simbol kemajuan dan modernitas, referensi bagi hampir seluruh ‘gengsi’ di tanah air. Bandung juga bisa bangga sebagai tempat lahirnya banyak arsitek, referensi desain kota yang modern, apalagi setelah ditetapkan oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization- UNESCO) sebagai salah satu dalam jaringan kota kreatif UNESCO Creative Cities Network, dalam kategori Kota Desain Dunia atau City of Design oleh PBB melalui Unesco.

Surabaya juga patut berbangga, karena menjadi kota Metroplitan kedua setelah Jakarta. Kemegahan bangunan, pesatnya pembangunan, dan menjadi pusat-pusat keramaian, adalah ‘gengsi’ yang memantaskan warganya menepuk dada dan berkata “ini Surabaya, Bung!”

Lebih beruntung lagi, kota-kota tersebut adalah kota-kota yang memang menjadi prioritas pembangunan sejak zaman penjajahan Belanda, Jepang dan dilanjutkan oleh Orde Baru dengan mengangkut kekayaan di luar pulau Jawa untuk membangun dan mengembangkan kota-kota tersebut menjadi lebih maju dan memiliki gengsi, dibandingkan dengan daerah-daerah di Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua, Kalimantan dan Sumatera.

Lantas, apa yang pantas dibandingkan dan dibanggakan dari kota kecil bernama Metro yang berada di Provinsi Lampung? Tentu saja tidak adil untuk membandingkan kemegahan bangunan, pesatnya perkembangan pusat-pusat keramaian, termasuk naif juga, jika membandingkan kreatifitas warga kota-kota tersebut dengan  warga Kota Metro, dengan ruang dan fasilitas yang perbedaannya sangatlah jomplang.

Namun, menilik Kota Metro sebagai kota yang memiliki identitas dan karakter sendiri, membandingkan tingkat toleransi, keramahan, kepedulian dan kegotong-royongan warganya, maka penulis tertarik untuk mengundang setiap orang untuk menyebutkan deretan-deretan kota di Indonesia bahkan di dunia dan mendudukkannya sejajar dengan Kota Metro.

Hal ini bukan berarti, penulis menolak untuk tunduk pada para pakar kota yang mendiktekan definisi dan pengertian sebuah kota yang maju dan modern, karena sesungguhnya dalam definisi-definisi mereka tersebut juga terdapat kekhawatiran mendalam tentang perkembangan kota ke arah cities of sorrow yang akan menyengsarakan kemanusiaan, berubahnya kota metropolis menjadi miseropolis, megapolis menjadi megapolost. Indikatornya jelas, warga kota semakin individualistik, hedonis dan konsumtif.

Lalu?

Menata kota, tidak harus diukur dengan terbangunnya gedung-gedung pencakar langit, lahirnya banyak kemegahan. Pun, tak harus menolak pembangunan selama itu menjadi media dan alat yang bermanfaat untuk warga kota. Mal-mal besar dan pasar modern boleh hadir di Kota Metro, namun yang terpenting pasar tradisional dan usaha kecil tak boleh mati, gedung-gedung pencakar langit boleh lahir di Kota Metro, tetapi tidak boleh mengisolir kemanusiaan dan mengalienasi warga kota.

Kota Metro adalah kota yang memiliki nilai kesantunan dan sikap kegotong-royongan. Terbukti, dua tahun yang lalu, anak-anak mudanya dalam beberapa kegiatan berduyun-duyun secara sukarela hadir untuk kampanye #SayangiMetro, mereka memungut sampah dan mendirikan Bank Sampah secara swadaya, membuat lagu dan film sebagai bahan kampanye peduli lingkungan, memadati ruang-ruang publik dalam event #MetroRevival berkampanye melawan politik uang, dan semangat itu harus selalu dijaga dan dirawat.

Mutakhir, ada gerakan #MetroBergeliat yang selalu support berbagai kegiatan anak-anak  Metro, mempromosikan setiap ada talent atau potensi muda lokal, ada gerakan #AyoKeDamRaman yang menghidupkan wisata berbasis warga di Dam Raman, ada musisi yang guyung dalam acara #Rock&Mob beberapa waktu lalu, dan ada banyak kegiatan warga kota lainnya yang tak terekam. Intinya Kota Metro itu keren dan hebat, bangga menjadi warga Kota Metro dengan segala keunikannya yang tak mungkin dimiliki daerah lain.

Membayangkan Kota Metro sebagaimana Singapura (sama-sama kota kecil), absah dan harus. Singapura setidaknya bisa diteladani dari dua aspek, yaitu aspek keruangan; yang terdiri dari pembagian ruang kota sesuai fungsi dan tema, privasi-publik, dan pembentukan identitas ruang, sense of place (dari space menjadi place) juga inovasi form arsitektur yang kaya dan kontekstual,  dan aspek keterhubungan antar-ruang, yang terdiri dari akses dan sarana transportasi publik.

Kota Metro bisa dikembangkan pada dua aspek tersebut, dengan catatan Kota Metro tak boleh berjarak dengan warganya, tak boleh ada gap pembangunan-kemanusiaan. Kota Metro harus tetap menjadi kota yang nyaman menjadi hunian dengan interaksi ramah warga kota. Karena Metro bukan Bandung, Jakarta apalagi Singapura!*