Apa Kabar Kota Pendidikan?

- November 20, 2017

Jika melihat konsep dan rencana yang tertuang dalam Master Plan Pendidikan Tahun 2010 dan RPJP Kota Metro Tahun 2005-2025, Maka Kota Metro sebenarnya cukup serius untuk mewujudkan visi sebagai Kota Pendidikan. Dua dokumen penting tersebut, menyebutkan kebijakan pembangunan di bidang pendidikan sebagai salah satu bagian yang sangat vital dan fundamental untuk mendukung upaya-upaya pembangunan Kota Metro di sektor lain. Pembangunan pendidikan adalah kunci.

Untuk sekedar mereview, baiklah saya tulis ulang gambaran beberapa fase yang ingin dicapai secara periodik dalam RPJP tersebut. Pertama, periode 1999 -1995, fase pembangunan fisik di bidang pendidikan. Targetnya adalah sepanjang periode 1999 – 2005, terpenuhinya sarana-prasana dan peralatan sekolah, terpenuhinya prasarana alat belajar, terpenuhinya sarana dan sumber belajar dan institusi belajar masyarakat seperti taman baca, dengan indikator pencapaian “masyarakat dengar”.

Kedua, periode 2005-2010, fase akademik, dengan agenda utama adalah terbangunnya mutu sumber daya manusia (SDM) pendidikan, seperti guru, dosen dan tenaga kependidikan termasuk juga mutu belajar masyarakat, anggota keluarga memiliki tradisi literasi dan kecerdasan hidup tinggi, tokoh masyarakat, tokoh agama, pejabat memiliki tradisi literasi atau kecerdasan profesi standar, dan secara keseluruhan masyarakat atau warga Metro telah memiliki tradisi literasi minimal, yang capaiannya bisa diukur dengan indikator terwujudnya reading society atau “masyarakat baca”.

Ketiga, periode 2010-2015, fase produk yaitu fase yang sudah memamerkan produk atau SDM unggulan dari hasil masyarakat baca berupa; guru, dosen, murid, tenaga kependidikan yang memiliki mutu tinggi, anggota keluarga memiliki mutu kecerdasan hidup tinggi, tokoh-tokoh, pejabat memiliki produk literasi yang tinggi, dan anggota masyarakat memiliki produk literasi yang bermutu, indikator pencapaiannya adalah learning society atau “masyarakat belajar”.

Keempat, periode 2015 - 2020, fase pengakuan masyarakat. Agenda besarnya adalah produk sekolah dan perguruan tinggi, tokoh masyarakat, agama, pejabat, anggota keluarga diterima masyarakat di mana saja, sebagai produk unggulan dari Kota Pendidikan. Pada periode ini, karakter utama warga Kota Metro adalah karakter “masyarakat berbudaya belajar”.

Setiap fase tersebut menyentuh dan menyasar berbagai bidang yang menjadi target atau pendorong utama pencapaian visi pendidikan, yakni pendidikan formal seperti sekolah, madrasah dan perguruan tinggi, pendidikan informal seperti medium-medium atau komunitas belajar masyarakat, sektor nonformal dan masyarakat umum.

Bahkan, pada pertengan tahun 2011, pemerintah menegaskan tentang cita-cita untuk mewujudkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebagai ruang kota pendidikan yang berbudaya bertaraf internasional, cita-cita yang secara tegas disampaikan dalam forum Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional di Jakarta (15/6/2011), dengan tiga kebijakan yang akan dilakukan. Pertama, meningkatkan peran dan fungsi pusat-pusat pelayanan wilayah secara secara sinergis untuk mendukung perwujudan kota pendidikan. Kedua, peningkatan aksesibilitas kawasan pusat pendidikan dan pengembangan jaringan prasarana dan sarana transportasi kota yang terpadu dan terkendali. Ketiga, adalah peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan prasarana kota yang terpadu dengan sistem regional.

Penataan Taman Merdeka Kota Metro, adalah menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dari rencana penataan ruang kota untuk mendukung perwujudan kota pendidikan, dengan rancang-bangun tersedianya ruang baca di pojok Taman Merdeka, koridor sejarah yang menghubungkan Rumah Dinas Walikota dengan Kewedanan Metro, dan sepanjang lorongnya dihisasi dengan display foto-foto, lukisan yang menceritakan Kota Metro pada masa lalu dan kini, karya para warga.

Selain itu, pemerintah Kota Metro di atas kertas telah menyiapkan beberapa strategi yang akan dilakukan antara lain menyediakan fasilitas yang memadai pada tiap pusat pelayanan sesuai skala pelayanannya, menyerasikan sebaran fungsi kegiatan pusat-pusat pelayanan dengan fungsi dan kapasitas jaringan jalan, meningkatkan peran dan fungsi kawasan Metro Timur dan kawasan Metro Barat sebagai pusat pendidikan skala lokal dan regional, dan mengembangkan subpusat pelayanan kota guna mengurangi beban pusat kota.

Lantas, pertanyaannya adalah, apa kabar cita-cita yang dituangkan dalam RPJP dan Master Plan Pendidikan itu kini? Adakah pemangku kebijakan atau legislatif yang tergerak melakukan evaluasi dan mempertanyakan Kota Metro sudah ada di titik dan fase mana sesuai ketetapan RPJP itu?

Awalnya saya optimis, konsep kota wisata keluarga yang diusung oleh Walikota dan Wakil Walikota Metro hasil Pilkada 2015 yang lalu adalah dalam rangka untuk mempromosikan produk dari capaian visi kota pendidikan yang telah dicapai, memamerkan prestasi sebagai kota pendidikan untuk memantik semangat warga kota untuk lebih giat dan semangat meningkatkan tradisi literasi dan belajar yang sudah menjadi budaya masyarakat. Mempromosikan SDM unggul, dari masing-masing sekolah di Kota Metro yang membanggakan.

Semestinya konsep wisata keluarga diarahkan pada bentuk-bentuk kegiatan reading festival (festival baca), pesta buku atau membangun destinasi wisata pendidikan, dengan mengenalkan tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah kota, seperti sumur Putri, Masjid Taqwa, Rumah Sakit Santa Maria sebagai rumah sakit tertua, Pohon Mahoni, menjadikan Nuwo Budaya sebagai pusat kebudayaan dan sejarah yang bisa mengenalkan Kota Metro kepada pengunjung yang ingin paham dan lebih mengenal Kota Metro.

Namun, faktanya jauh panggang dari api, pemerintah justeru sibuk merobohkan gedung lama dan membangun gedung baru. Memperbanyak jumlah Indomaret dan Alfamart yang pelan-pelan akan menggerogoti perekonomian warung-warung kecil. Entahlah, visi kota pendidikan kok tiba-tiba menjadi buram atau saya yang kurang minum kopi, barangkali.