Zaman Omong Kosong

- October 24, 2017
Kolom: M, Alfan Alfian, Omah1001
Di antara buku-buku tentang “post-truth” yang mampir ke rumah saya adalah Evan Davis, Post Truth, Why We Have Reached Peak Bullshit and We Can Do About It (London: Little, Brown, 2017).

Kita tahu, “post-truth” alias pasca-kebenaran ialah kata tahun ini pada 2016 versi Oxford Dictionaries. Ihwal ini sesungguhnya sudah banyak diulas orang. Fenomena peristiwa khususnya juga sudah lewat: Brexit dan menangnya Donald Trump di AS.

Tapi, di sini, masih banyak yang kurang ngeh dengan hal itu. Misalnya, suatu sore, mahasiswa saya mengejar saya hanya untuk menyampaikan gagasan bahwa dia mau teliti (untuk ditulis dalam rancangan usulan proposal tesis) mengapa Donald Trump menang di AS.

“Oh, kalau itu perspektifnya, bisa populisme politik atau bisa yang lain. Tapi, yang jelas, dia juga bersinggungan dengan post-truth, kata yang populer di zaman kita itu,” kata saya persis ketika pintu lift telah membuka.

“Apa itu, Pak?” tanyanya.

“Post ... truth, post-truth.”

“Apa?”

Oh, berarti dia memang belum banyak membaca dan mengikuti berbagai ulasan. Dia memang generasi milenial kelihatannya: kreatif tapi kurang banyak baca.

*

Buku Evan Davis tentu satu dari sekian buku-buku bertema sejenis yang ditulis dengan gaya populer. “Isu pokok yang menjadi jantung buku ini,” catat Evan Davis (hal. xv) “...tentang sebuah masyarakat pasca-kebenaran, ialah mengapa terdapat begitu banyaknya omong kosong.”

Ya, Davis menunjukkan kata kunci bullshit alias omong kosong. Itulah yang dipaparkannya di pembuka bukunya: “Bhullshit old and new.” Dari sini, kita catat, masalah omong kosong, yang tentu saja merefleksikan hal yang penuh kebohongan, merupakan masalah sepanjang masa.

Omong kosong itu, menurut Davis, macam-macam pengertiannya, tapi intinya ya tetap terkait dengan kebohongan. Dia menekankan bahwa segala bentuk komunikasi, verbal atau nonverbal, yang tidak jelas atau pernyataan sangat ringkas rasionalisasi keyakinan sang komunikator (hal. xiv).

Mencoba membohongi (deceive) tanpa (bermaksud) bohong (lying), juga termasuk omong kosong.  Berbagai cara yang dimaksudkan untuk mengesankan, menggelapkan (obfuscate), atau guna menarik perhatian, itu juga omong kosong. Hal-hal yang terkait dengan yang bersifat membingungkan, artifisial, ketidaktulusan, pergunjingan, itu semua berada di ranah peromongkosongan (hal. 14).

Masalahnya, di zaman kita, kemasifan omong kosong itu sudah keterlaluan, karena efek penggandaannya begitu cepat oleh sosial media. Omong kosong ialah hal yang eksesif. Masyarakat menjadi terbiasa terjebak pada labirin omong kosong tanpa pernah cepat menyadarinya.

Bahkan, sebagaimana ditunjukkan oleh subjudul buku Evan Davis yang punya pengalaman luas sebagai presenter radio dan televisi ini, kita telah berkecenderungan berlomba merengkuh puncak omong kosong itu.

Buku ini ditulis secara mengalir dalam bab-bab mengenai apa, siapa, dan bagaimana. Di bab mengenai apa, diutak-atik soal truth, post-truth dan post-fact. Uraiannya penuh contoh.

Ketika membedah fakta dan kebohongan, dia mengingatkan soal fenomena dusta (mendacity) dalam memutar fakta suatu isu. Maka, dikupaslah salah satu silsilah ketiga tentang bohong (omong kosong adalah yang kedua) yakni: near-lie, atau tindakan yang menyerempet-nyerempet bohong. Hal itu timbul manakala seseorang sengaja memakai kata-kata yang benar untuk maksud memberi kesan yang salah, atau mispersepsi (hal. 8).

Silsilah ketiganya, berupa pernyataan yang (sesungguhnya) keliru. Hal ini lazim dinyatakan dalam frase “economical with the truth”. Bahwa ada informasi lain yang sengaja tak ditampilkan untuk menjelaskan fenomena ekonomi, justru karena yang menyajikan sengaja menyeleksi fakta-fakta (hal. 13). Hal ini mengingatkan fenomena kebohongan statistik, kan?

Yang keempat, terkait dengan soal pelintiran (spin). Dia terkait dengan upaya memilih fakta tertentu, membesar-besarkannya, mengolahnya, seolah-olah benar sama sekali (hal. 19). Lantas, diuraikan juga tentang penipuan dengan mengarahkan orang lain terjerembab dalam khayalannya (hal. 24).

Sampai di sini, kita jadi ingat hal-ihwal teknik-teknik propaganda. Ya, semuanya berurusan dengan masalah peromongkosongan, untuk tujuan dan maksud-maksud tertentu, tak hanya di dunia politik, tapi juga bidang-bidang lainnya.

Lalu, apa yang disebut post-truth itu sendiri? Kita telah menangkapnya, ketika Evan Davis membawa lari isunya ke omong-omong soal omong kosong.

Sekian, bersambung minggu depan. Pengajian buku ini dalam kolom kali ini, baru di halaman-halaman awalnya. Padahal tebalnya 347 halaman. Masih banyak hal yang akan kita “pergunjingkan” minggu depan. (rilis.id)



M. Alfan Alfian, Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. Juga Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute