Tale

- October 05, 2017

Baiklah, aku kenalkan dulu keluarga aneh ini.

Tale lahir dari sebuah keluarga yang unik. Ia adalah anak tunggal. Ayah Tale bernama Tahir, sedangkan ibunya bernama Tebe. Kedua orang tua Tale berkulit gelap, tetapi Tale berkulit putih dengan rambut berwarna cokelat.

Pertama kali datang atau lebih tepatnya terdampar di Kampung Nelayan, Tale sekeluarga tinggal di atas perahu, tak ada sanak kerabat, hingga akhirnya salah seorang warga Kampung Nelayan mempersilahkan keluarga Tale membangun rumah di atas tanah pekarangannya yang kosong.

Di bantu warga Ayah Tale memancang beberapa batang pohon, Ibunya bersama perempuan Kampung Nelayan, menganyam daun kelapa untuk dinding dan atap rumah. Tak lebih dari seminggu berdirilah sebuah gubuk di dekat pantai, tempat tinggal Tale bersama orang tuanya.

Warga Kampung Nelayan bertanya soal muasal mereka kepada Ayah Tale, Ia menjawab tentang sebuah pulau jauh, yang tak seorang pun warga Kampung Nelayan mengetahui keberadaan pulau tersebut. Ayah Tale mengaku kehilangan arah saat mereka melaut, membiarkan angin mengembangkan layar dan arus menyeret perahu mereka hingga terdampar di Kampung Nelayan.

Begitulah cerita singkat keluarga Tale. Setelah itu, tak pernah ada lagi yang menanyakan asal-usulnya. Mereka sudah menjadi warga Kampung Nelayan. Tale juga cepat akrab dan membaur dengan anak-anak seusianya.

Tale tak sekolah dan tak mau sekolah. Jika teman-temannya pergi ke sekolah pagi hari, Tale akan bermain sendiri di pantai, berenang mengelilingi perahu kecil milik orang tuanya, sesekali menyelam dari depan perahu dan tiba-tiba muncul di bagian belakang, begitulah Tale hingga tengah hari.

Siang hari Tale naik ke darat, makan dan setelah itu kembali bermain. Kali ini tak lagi sendiri, tetapi bersama teman-temannya yang telah pulang sekolah. Mereka biasanya akan pergi memancing, menggunakan sampan kecil, pulang setelah matahari tinggal separuh di telan laut dan hari hampir gelap.

Ketika mancing, Tale selalu mendapatkan ikan lebih banyak dibandingkan teman-temannya. Namun, Tale hanya mengambil tiga ekor untuk di bawa pulang, sisanya akan diberikan kepada teman-temannya atau kepada penduduk yang kebetulan bertemu di pantai.

Menurut Ayahnya, tak boleh mengambil lebih dari kebutuhan. Meski Tale tak membantah pedanpat Ayahnya itu, tapi Ia memiliki alasan sendiri yang berbeda, Ia tak membawa pulang ikan-ikan itu dalam jumlah banyak, karena Ia tahu, bahwa besok Ia tak akan memiliki alasan kenapa harus pergi memancing. Padahal, Ia selalu berkata bahwa segala pekerjaan harus memiliki alasan untuk dikerjakan, sebagaimana pesan Neneknya.

Itulah sebab, kenapa Ia tak mau sekolah. Ia tak memiliki alasan untuk sekolah! Jika hanya untuk bisa membaca dan berhitung, Tale sudah lama bisa membaca, belajar dari Ibunya di atas perahu. Bahkan, Ia telah membaca lebih dari 100 judul buku cerita, 50 puluh buku bertema pengetahuan umum dan agama yang Ia tak paham maksudnya, tetapi tetap dibacanya sampai selesai. Soal berhitung, beberapa kali Ia selalu menjadi yang tercepat, sekalipun diadu dengan orang-orang yang seusia Ayahnya.

Tale memang aneh, Ayah dan Ibunya juga aneh. Jika keluarga lain selalu bertanya alasan kenapa tidak sekolah. Mereka sebaliknya, selalu bertanya apa alasan untuk sekolah.


Tale betul-betul tak punya alasan untuk sekolah.