Tale Gagal Move On

- October 18, 2017

Menjadi nelayan itu enak. Menjadi petani juga enak. Begitulah yang terlihat dari obralan Tohir dan Wak Tan.

Angin kencang selama seminggu, menyebabkan Tohir tak bisa melaut, hingga persediaan makanan mereka ludes sudah. Hal yang sama juga terjadi pada Wak Tan. Bahkan bukan hanya beras yang di simpan di tong yang terbuat dari tanah, tanaman padi dan jagung semuanya tumbang-tiarap mencium tanah gegara angin ribut. Tetapi mereka tetap bisa tertawa, menghisap rokok kreteknya dalam-dalam kemudian melepaskan asapnya tanpa beban.

Namun, tidak begitu halnya dengan Tale. Kepala desa yang baru saja dilantik, yang menurutnya menang dengan cara curang, dengan menggunakan isu-isu etnis, tetap saja tak pantas menjadi kepala desa. Ada banyak catatan dari sambutan kepala desa saat dilantik yang menurutnya bermasalah dan berpotensi memecah masyarakat nelayan dan petani di Kampung Nelayan itu.

Kata-kata yang menurut catatan Tale paling bermasalah adalah saat Sang Kepala Desa menyampaikan bahwa nelayan sebagai penduduk asli Kampung Nelayan, sedangkan petaninya adalah pendatang, untuk itu perekonomian kaum nelayanlah yang harus menjadi sasaran prioritas pembangunan, padahal nelayan dan petani di Kampung Nelayan sudah tak bisa dipisahkan.

"Kamu, kenapa to Tale?" seru Tohir kepada anak tunggalnya itu.

" Prihatin dengan pidatonya kepada desa, Wak!" cetus Tale

"Lah, kenapa?"

"Pernyataan kepala desa itu berpotensi memecah belah,  Wak," kata Tale

"Ah, kamu terlalu membesar-besarkan. Kamu saja terlalu baperan, karena kebetulan tak memilih kepala desa sekarang. Buktinya, Uwak dan Wak Tan biasa-biasa saja. Uwakmu ini nelayan, Wak Tan petani, kita juga berbeda pilihan dengan mereka. Perbedaan itu kan menjadi masalah, jika dibesar-besarkan apalagi bercampur sentimen yang selalu dipelihara, dirawat dan dikampanyekan (disebut-sebut) terus!"

"Nah, kepala desa itu lah yang menyebut-nyebutnya terus Wak, sampai menjadi bagian isi pidatonya!"

"Kamu dan kawan-kawanmu yang sepaham juga ikut membesar-besarkannya dan menggosoknya menjadi kebencian." Jelas Tohir.

"Coba kamu instrospeksi, sampai mencorat-coret tembok rumah dengan tulisan
#BukanKepalaDesaku, padahal kamu selalu ngoceh kemana-mana sebagai orang yang rasional, melakukan segala sesuatu harus dengan alasan. Nah, sekarang apa alasanmu menggalang kebencian itu, apakah itu menguntungkan warga Kampung Nelayan!"

Tale terdiam.

"Belajarlah pada para petani, Nak. Beberapa waktu lalu seluruh tanaman mereka rusak, bawang yang mereka tanam selama kemarau kekurangan air dan harus mereka siram tiap hari itu, tiba-tiba karena hujan seharian seluruh tanaman itu busuk, dan harapan mereka untuk panen menjadi bubar. Setelah itu, mereka diperhadapkan dengan isu-isu yang membuat mereka lebih sakit. Padahal selama ini mereka baik-baik saja!"

"Belajarlah kepada mereka, bagaimana caranya tetap legawa dalam situasi terburuk sekalipun!"

Tetap terdiam, Ia berdiri dan berjalan gontai menuju pantai. Ia berpikir tentang alasan-alasannya menggalang kekuatan untuk tak menyukai kepala desa terpilih. Menyangkal realitas, suka tak suka kepala desa itu akan memimpin pembangunan di Kampung Nelayan selama lima tahun.

Tale terus berjalan menyusuri pantai, membiarkan kakinya tersapu air laut. Ia terus berjalan hingga tebing di ujung pulau, memperhatikan beberapa batu-batu besar yang pecah karena dihantam ombak terus-menerus.

"Move on adalah kunci!" Serunya