Tale Dianggap Gila

- October 07, 2017



Sekali lagi Tale tak punya alasan untuk sekolah. Tetapi dia punya sederet alasan untuk tidak sekolah. Tale bisa menunjuk sederet nama-nama besar para ilmuwan yang tak mengenal bangku sekolah, Tale juga meyakini bahwa para Nabi, utusan Tuhan yang mulia itu rata-rata tidak sekolah.

Tale haqqul yaqin, bahwa pengetahuan dan peradaban itu tidak ditempuh dan dicapai lewat sekolah. Menurut Tale justeru sekolahlah yang menyumbang jasa atas runtuhnya peradaban, lewat perilaku tak beradab mereka yang 'merasa' terdidik itu.

"Bandingkan saja, tingkat kebohongan yang dilakukan orang-orang tak sekolah dengan mereka yang sekolah!" Seru Tale.

Orang kecil yang tak sekolah memang tidak semuanya jujur dan tidak berbohong, tetapi jika dibuat grafik dan prosentase, pastilah lebih rendah dan kecil dibandingkan jumlah orang-orang sekolah atau jebolan sekolah.

Sekolah itu banyak memproduksi dusta dan kebohongan, dimulai dari hal-hal terkecil seperti nyontek hingga kerjasama guru dan siswa ketika ujian kelulusan dalam rangka 'menjaga gengsi' sekolah, yang melegalkan kebohongan-kebohongan lewat pemberian kunci jawaban dan sejenisnya. Belum lagi, pertaruhan integritas dan kredibilitas sekolah yang seharusnya diragukan, berbarengan dengan menjamurnya lembaga-lembaga kursus, les, bimbingan belajar yang lebih dipercaya bisa menjanjikan kelulusan dengan nilai yang bagus.

"Kecerdasan yang dihasilkan sekolah itu palsu!" Teriak Tale.

Lihatlah, produk dari sekolah yang mengisi jabatan-jabatan penting di negeri ini, para wakil rakyat yang duduk di kursi-kursi empuk dewan, kepala daerah dan mereka yang mengisi jabatan-jabatan publik lainnya, tunjuklah berapa dari mereka yang tidak berbohong, tidak berdusta dan perilakunya beradab.

Padahal mereka semua disumpah! Semua pejabat publik pernah disumpah terkait dengan jabatannya. Sumpah itu selalu didahului dengan kata “Demi Allah" atau "Demi Tuhan”, dan biasanya pada saat acara pengambilan sumpah di atas kepala mereka diletakkan kitab suci.

Sumpah itu pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya, pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar, janji atau ikrar yg teguh (akan menunaikan sesuatu).

Sumpah seyogianya menyiratkan makna substantif dalam rangka usaha membina penyelenggara negara yang bersih, jujur, dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. Dan paling penting adalah sebagai pernyataan kesanggupan untuk melakukan suatu keharusan atau tidak melakukan suatu larangan. Sumpah sebagai sesuatu yang bernilai spiritual, mengandung konsekuensi yang astral.

Konon, adalah Pythagoras yang pertama kali menggagas dan mempraktikkan sumpah jabatan ini. Pada waktu itu dia meminta kepada seluruh calon politikus dan ilmuwan bersedia diambil sumpahnya supaya menjalankan jabatan yang disandangnya secara benar. Semangat yang dibangun di dalamnya adalah menjaga moralitas jabatan, yaitu pengabdian dan pelayanan. Sumpah jabatan ini kemudian dipraktikkan dari zaman ke zaman, semangat kurang lebih sama, yaitu menyatakan kesanggupan untuk tidak mementingkan diri sendiri, mengabdi kepada kepentingan dan kebaikan masyarakat luas.

Faktanya, mayoritas pejabat yang telah diambil sumpahnya mengkhianati ikrar dan esensi sumpah yang telah diucapkannya. Terbukti dari semakin banyaknya pejabat yang ditangkap dan diadili karena berkhianat terhadap amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

"Bandingkanlah dengan masyarakat yang sering dianggap bodoh itu!" Tale berkacak pinggang

Berapa jumlah petani yang pembohong, buruh yang menjadi tukang tipu, nelayan yang suka ingkar janji!

Mereka biasanya kalau kelaparan maksimal menjadi maling, perampok dan begal! Jika sial, mereka ditangkap dan di-dor, jika nasib baik masih berpihak,  mereka hanya dikurung beberapa waktu, dilepas dan dimanfaatkan sebagai alat, jika tak loyal mereka dianggap sebagai kriminal kambuhan, distigma sebagai khianat atas pertobatan dan janjinya, melawan dan di-dor!

Mereka dianggap komunis, ateis dan segala rupa yang buruk!

Padahal, para pejabat yang telah bersumpah berkali-kali itu juga telah berkali-kali menipu Tuhan!

Tale menghentikan pidatonya yang tanpa audiens itu, tiba-tiba ia mengambil sebatang kayu, dan memperlakukan kayu tersebut layaknya gitar, dan bernyanyi dengan nada tinggi. Sumpah dan janji bukan satu yang pasti/ alasan hanya jadi tuntutan hati, ...  Aku Bukan Pengemis Cinta.

Tale dianggap gila!