E-Book: Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita

- October 23, 2017
E-Book: Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita, Omah1001
Dalam buku ini, Prof Ahmad Syafii Maarif bersama rekan-rekannya menjawab dengan lugas segala hal yang berkaitan dengan Politik Identitas. Prof Ahmad Syafii Maarif, misalnya, beliau membahas isu politik identitas di mulai dari sejarah kemunculannya hingga menguraikan sebab musabab politik identitas itu bisa masuk ke dalam isu agama. Pada bagian yang sama, beliau menggali fenomana politik identitas dari sudut pandang sejarah.

Di Indonesia, politik identitas muncul dikarenakan adanya gerakan pemekaran daerah. Akibatnya, isu-isu tentang keadilan dan pembangunan daerah menjadi tuntutan yang sangat vokal dalam wacana politik mereka. Sebelum menutup bagian awal, beliau menilai hal yang semacam itu wajar-wajar saja. Tetapi pertanya kemudian adalah: apakah politik identitas ini akan membahayakan posisi nasionalisme dan pluralisme Indonesia di masa depan? Jika berbahaya, kira-kira dalam bentuk apa, dan bagaimana cara mengatasinya?

Di bagian lain Musdah mulia, menanggapi pertanyaan dari Buya Syafii Maarif, Musdah Mulia dengan tegas mengatakan, bahwa politik identitas adalah ancaman bagi masa depan pluralisme di Indonesia. Sebab, melihat fakta yang berseliweran sejak pasca reformasi sudah muncul gerakan-gerakan yang mengarah pada eksklu sifisme umat Islam. Beliau kemudian mencontohkan salah satu daerah yang karena daerah itu Islam, maka harus diterapkan hukum Islam.

Bahkan, ada sekelompok warga yang menuliskan dengan tegas, bahwa “Kami adalah Islam, sedang Anda bukan Islam, maka Anda tidak boleh hidup di Indonesia. Musdah menilai, secara genealogi politik identitas yang terjadi di Barat dan di tanah air sangat berbeda. Jika di Barat, politik identitas yang muncul semuanya mengarah pada dorongan untuk meminta persamaan hak dan derajat atas kelompok mayoritas. Gerakan feminis, misalnya (yang memperjuangkan kesetaraan gender). Sedangkan di Indonesia, politik identitas muncul dari kelompok mayoritas yang menginginkan kaum minoritas hilang sepenuhnya. Bahkan, kaum mayoritas sering menggunakan jurus “stempel satu jam jadi” untuk mengatakan, “kelompok itu menyimpang, atau sesat”. Dengan begitu, menurut Musdah ada tiga bentuk kekerasan yang ditimbulkan dari fenomena ini.

Pertama, kekerasan fisik, meliputi penutupan tempat ibadah, pengusiran, dan pengrusakan. Kedua, kekerasan simbolik, seperti tulisan-tulisan atau ceramah yang bernada melecehkan suatu agama. Ketiga, kekerasan structural; kekerasan yang dilakukan oleh perangkat hukum atau aparat hukumnya sendiri.

Buku menjadi sangat penting dibaca, untuk memahami apa dan bagaimana sebenarnya politik identitas itu, silahkan unduh DI SINI