Pohon Mahoni Membuat Metro Lebih Spesial dan Indah



Barangkali jarang orang yang memperhatikan bahwa pohon-pohon Mahoni besar seukuran pelukan orang dewasa yang berjejer sepanjang Jalan AH Nasution, Kota Metro tak terdapat di daerah lain di Provinsi Lampung, kecuali beberapa batang yang sudah meranggas dan sebagiannya lagi telah di tebang di Jl. Utama Pekalongan menuju Gedong Dalem, Lampung Timur.

"Pohon Mahoni itu khas Metro, ketika hendak meninggalkan Taman Kota menuju Lampung Timur atau saat pertama kali memasuki perbatasan dari Lampung Timur kita akan disuguhkan deretan pohon-pohon yang rapi. Mengesankan suasana kota peninggalan Belanda yang khas, ditambah lagi dengan desain ruang kota, di mana alun-alun kota yang terintegrasi dengan tempat ibadah, baik masjid maupun gereja, sama dengan desain beberapa kota lain di Indonesia," kata seorang kawan yang biasa bolak-balik Bandarlampung - Lampung Timur.

Jika di perhatikan secara seksama, pohon Mahoni yang berjumlah 163 pohon dan berjejer rapi di sepanjang Jalan AH Nasution, Metro hingga Kecamatan Pekalongan, Lampung Timur tersebut, memang sangat menarik. Jarak antara pohon sangat teratur dan tertata, sekira 10 meter dari satu pohon ke pohon lain. Dan, setiap sepuluh 10 pohon, ada sebuah jalan. Kecuali setelah jalan keempat dari arah Metro menuju Lampung Timur. Jumlah pohonnya lebih banyak, sebelum akhirnya bertemu dengan jalan kelima.

Menurut penuturan beberapa orang, keberadaan pohon Mahoni dikenal sebagai peninggalan Belanda. Di beberapa kota di Indonesia, pohon Mahoni di sepanjang jalan yang baru dibuka sebagai penanda, termasuk Kota Metro. Pohon-pohon Mahoni yang tumbuh berjejer sepanjang Jalan Jenderal Sudirman-Jalan AH Nasution, ditanam saat jalan tersebut dibuka. Jalan tersebut merupakan jalur menuju Tanjungkarang atau Bandar Lampung , yang kala itu dari Trimurjo ditempuh memutar melewati Pekalongan, Kota Gajah, Gunung Sugih terus baru menuju Tanjangkarang. Pohon-pohon tersebut adalah tanda bahwa itulah jalan yang dilalui pertama kali.

Bahkan, pohon Mahoni diyakuni tidak hanya sebagai penanda jalan, keberadaan pohon-pohon Mahoni yang ditanam sepanjang jalan itu juga memiliki fungsi lain. Di mana, buah dari pohon itu bisa berfungsi sebagai obat-obatan. Dulu, memang belum dikenal banyak obat-obatan pabrik. Semua menggunakan obat dari alam, daun-daunan dan buah-buahan, termasuk salah satunya dari buah Mahoni yang digunakan oleh Belanda untuk mengobati para pekerja yang terserah penyakit, seperti sakit Malaria. fungsi lain pohon mahoni adalah sebagai pengisap polusi.

Wisata Pohon Mahoni

Sebagai peninggalan masa lalu dan memiliki nilai sejarah, pohon Mahoni sebenarnya memiliki potensi besar untuk bisa dikelola, ditata dan dijadikan destinasi wisata kota. Mungkin tak berdampak secara langsung terhadap peningkatan pendapatan daerah, tetapi penataan pohon Mahoni menjadi tempat wisata kota bisa membranding atau menjadi citra baru kota yang sejuk, ramah pejalan kaki dan tentu saja kota bersih yang indah, estetik dan memesona.

Anda bisa membayangkan, ketika pohon-pohon Mahoni itu dibersihkan batang pohonnya, dibuat lebih berwarna dan area trotoar yang membentang jarak antara pohon mahoni dan pagar kantor/rumah ditata semenarik mungkin menjadi pedistrian yang rapi dan ramah bagi pejalan kaki dan warga penyandang kebutuhan khusus, kemudian di pinggirnya dengan jarak yang diatur, semisal setiap jarak 150-200 meter difasilitasi pedagang kaki lima yang berjualan air minum atau makanan ringan, ada bangku-bangku panjang, orang-orang bebas dan aman berfoto dengan latar pohon atau kendaraan yang lalu lalang di jalan raya.


Pasti menarik bukan? Khas Metronya pasti lebih terasa, dan kota lain tak mungkin bisa mengikutinya, kecuali mereka juga memiliki pohon Mahoni di sepanjang jalannya.


0 komentar