PKL Metro Melawan!

- October 23, 2017

 Keadilan tidak bisa dipersepsikan dengan memberi gelanggang yang sama terhadap pemilik sabuk putih dan hitam, kemudian membiarkan mereka bertarung dengan aturan yang sama. Seperti halnya, keadilan ekonomi tidaklah mungkin bisa dimaknai dengan memberi ruang yang sama terhadap para pedagang kecil dan pedagang dengan modal besar.

Seumpama, pemerintah menyediakan ruko, kemudian mempersilahkan para pedagang untuk menyewa dan mengisinya, tanpa ada keringanan buat pedagang kecil. Hanya ada pilihan, jika tak sanggup pilihlah lapak yang posisinya agak ke dalam dan kurang strategis sesuai dengan kesanggupan menyewa.

Sama pula dengan kebijakan merelokasi pedagang kaki lima (PKL), baik yang di pasar kopindo, seputaran rumah sakit, atau sekitar taman kota atau ruang publik lainnya, tapi membiarkan pedagang-pedagang bermodal besar terus berdagang dengan alasan mereka memiliki tempat legal, tidak mengganggu pengguna jalan, ketertiban dan kebersihan, tidak menimbulkan kekumuhan dan alasan 'seolah-olah' logis lainnya.

Merelokasi PKL pedagang pakaian, tetapi membiarkan pedagang pakaian bermodal besar atau mengusir PKL yang berjualan makanan, tetapi membiarkan rumah makan besar sama halnya secara tidak langsung berpihak kepada pedagang bermodal besar. Mengapa? Karena, PKL tidak direlokasi saja sudah kalah bersaing soal pelayanan, isi toko dan kelengkapan stok lainnya, kemenangan mereka paling-paling hanya soal harga yang selisih seribu atau dua ribu rupiah lebih murah.

Apatah lagi ketika mereka diusir dan dijauhkan dengan konsumen, berlipat-lipatlah kekahalan mereka. Dan itulah bentuk nyata kebijakan yang menguntungkan pedagang bermodal besar itu, ketika konsumen "dipaksa" lebih memilih pedagang terdekat.

Lantas bagaimana kebijakan relokasi yang adil itu? Salah satu contohnya adalah, relokasi harus diberlakukan untuk semua pedagang, tak boleh ada satupun pedagang yang tinggal di area yang hendak dibangun, sehingga konsumen tak bisa memilih.

Misalnya, semua pedagang direlokasi ke pasar cendrawasih, pedagang bermodal besar di tempatkan di bagian paling atas dan pedagang kecil ditempatkan di bagian bawah? Loh, itu tak adil? Adil bahkan sangat adil, pedagang yang memiliki modal besar, dengan modal yang mereka miliki bisa membuat tokonya lebih menarik untuk dikunjungi meski berada di tempat yang lebih jauh, hal yang tak mungkin bisa dilakukan oleh pedagang kecil sehingga mereka harus ditempatkan di lokasi-lokasi strategis yang mudah dijangkau.

Perebutan ruang publik yang selalu memosisikan PKL sebagai pihak yang bersalah dan kalah, selamanya tak akan pernah memberi jalan keluar yang adil. Maka, tak perlu saling tuding dan sok heran, kenapa tak pernah tercapai "ketertiban" seperti yang pemerintah harapkan dari ikhtiar penertiban, selalu ada perlawanan yang melahirkan kegaduhan dan disharmoni. Bukankah disharmoni lahir dari gesekan yang tak tak teratur, akibat peraturan yang selalu garang ke bawah tetapi jinak ke atas, sangar terhadap rakyat kecil tetapi merunduk pada pemilik modal?

Hari ini, Senin (23/10) pedagang kecil itu akan menuntut haknya dengan turun ke jalan, sebagai salah satu ikhtiar mereka untuk bertahan, bukan semata bertahan tak mau direlokasi, melainkan lebih dari itu, bertahan untuk tetap hidup. Mereka tak ingin kehilangan pelanggan yang bisa berakibat pada matinya usaha mereka.

Barangkali, aksi protes mereka tidak bisa membuat pemerintah yang terlanjur keras kepala untuk meninjau kebijakannya, apatah lagi mereka tidak memiliki akses langsung pada pembuat kebijakan, mereka hanya dianggap penting dan berguna ketika mendekati pemilu sebagai pendulang suara, partai politik atau politisi acap kali mengklaim sebagai pembela dan pelindung mereka, lewat janji-janji manis di masa kampanye mereka dininabobokan sebagai kelompok yang akan dibela.

Namun, penguasa perlu ingat gerakan protes bukanlah gerakan nir-makna. Ada banyak pesan yang hendak disampaikan selain dari isu yang mereka suarakan dan perjuangkan, pesan lainnya adalah perlawanan! Gerakan ini punya tujuan jelas, jejaring luas, dan manajemen aksi yang baik, terlebih jika didukung oleh mahasiswa. Para pemrotes harus mengorbankan waktu kerja atau waktu belajar (mahasiswa), demi meraih sesuatu yang mereka anggap sebagai jalan untuk melakukan perubahan sosial atau mendapatkan keadilan.

Mereka telah menginvestasikan waktu dan energinya guna menarik perhatian publik, yang pada gilirannya mendorong adanya penyelesaian. Jejaring antar-individu yang mempunyai perasaan serta pandangan sama harus bisa terjalin secara berkesinambungan. Tidak terputus oleh agenda pribadi, tapi niscaya tetap tersambung kepentingannya antara satu dengan yang lain. Tiap individu dalam gerakan protes biasanya saling berbagi kisah dan alasan kenapa mereka harus dan rela ikut dalam gerakan tersebut.

Jadi, jangan pernah anggap sepele gerakan rakyat kecil ini. Jika hari ini mereka sedikit jumlahnya, mungkin mereka hanya butuh solidaritas yang lebih solid, berjejaring lebih luas. Jika kau tak percaya, maka silahkan berbuatlah sewenang-wenang terus menerus, gusur mereka yang berjualan di ruas jalan dekat Rumah Sakit Umum (RSU) Ahmad Yani, usir mereka yang berjualan di Taman Merdeka, bubarkan mereka yang membuka lapak di sepanjang jalan Cut Nyak Dien dan Agus Salim, Pasar Kopindo, karena mereka semua menyalahi peraturan yang kau sebut dengan Perda itu!

Semoga, dengan begitu kau bakal lebih cepat tahu bagaimana rakyat kecil melawan!




Rahmatul Ummah, Warga Yosomulyo. Penyuka Serial Wiro Sableng.



Advertisement