Petualangan Bertemu Orang-orang "Gila Buku"

- October 06, 2017

"Aku senggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme," salah satu kutipan yang sangat aku sukai di buku Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez ini. Kalimat tersebut adalah gambaran bagaimana Carlos Brauer begitu menggilai buku, ia menata dan menyusun bukunya sedemikian rupa di atas ranjangnya hingga menyerupai kontur tubuh manusia, memperlakukan buku itu layaknya manusia, bukan sekadar dipajang dan dirawat, ia membaca dan membuat catatan dari apa yang dibacanya. Bahkan Brauer tidak segan-segan membuat catatan penting pada marjin  buku-buku antik yang sedang dibacanya. Itulah yang barangkali ia sebut sebagai menyenggamai, menodai hingga ia orgasme.

Carlos Brauer adalah tokoh yang menjadi titik bermula proses pencarian tokoh Aku dalam novel tipis setebal 76 halaman ini. Awalnya Aku diminta menggantikan posisi Ibu Dosen Bluma Lenon di Jurusan Sastra Amerika Latin di Universitas Cambribge, London. Bluma meninggal karena ditabrak mobil ketika asyik membaca buku lawas Poem karya Emi Dickinson yang baru dibelinya di sebuah toko buku di Soho.

Di suatu pagi, Aku mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamat almarhum Bluma. Sebuah terjemahan The Shadow-Line berbahasa Spanyol, La linea de sombra karya Joseph Conrad, yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay tanpa nama dan alamat pengirim. Dari sinilah rasa penasaran Aku mulai membuncah tak tertahan, penyelidikan tentang asal-usul buku aneh itu membawa Aku dan kita yang membacanya memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya.

Ketika Aku membuka sampulnya, ada persembahan dari Bluma, tulisan tangan bertinta hijau :

"Buat Carlos, novel ini telah menemaniku dari bandara ke bandara, demi mengenang hari-hari sinting di Monterrey itu.Sori kalau aku bertingkah sedikit mirip penyihir buatmu dan seperti sudah kubilang sedari awal: kau takkan pernah melakukan apapun yang bisa mengejutkanku. 8 Juli 1996."

Carlos adalah nama yang menjadi petunjuk. Aku berusaha  mencari identitas si pengirim dengan terlebih dahulu mencari tahu siapa Carlos. Seorang penulis Uruguay yang menjadi pembicara di konferensi Monterrey, Mexico, memberi tahu bahwa ada seorang bernama Carlos Brauer, bibliofil dari negerinya, yang juga menghadiri konferensi itu sebagai pendengar. Si penulis melihatnya melihatnya pergi setelah makan malam sambil menggandeng Bluma.

Untuk menuntaskan rasa penasarannya, tokoh Aku menempuh jarak ribuan kilometer, melintas benua untuk menemui Carlos Brauer. Pencariannya ini mengantarnya bertemu dengan  Agustin Delgado yang juga seorang bibliofil yang sangat mengenal Brauer dan kegilaannya akan buku.

Singkat cerita, bertemulah Aku dengan Carlos Breur. Namun, sejatinya, novel yang berkisah soal pencarian asal-usul buku aneh yang dikirim ke koleganya ini ingin menyampaikan pesan penting, tentang bibliofil para pecinta buku atau lebih tepatnya penggila buku yang benar-benar gila dan unik.

Carlos Brauer dan Agustin Delgado adalah dua orang yang sangat menggilai buku hingga seluruh rumahnya dipenuhi buku. Brauer memiliki 20 ribu buku yg tersimpan dalam rak-rak buku besar dari lantai sampai ke plafon. Selain dalam lemari buku-bukunya juga bertumpukan di dapur, kamar mandi, kamar tidur,  di anak tangga menuju loteng, hingga kamar mandinya. Delgado yang mengira-ngira (karena dia sudah berhenti menghitung) jumlah bukunya sekitar18 ribu, dan memiliki kesempatan membaca buku 4 sampai 5 jam sepulang kerja, waktu yang menurutnya paling menyenangkan. 

Cara membaca Brauer juga sangat eksentrik, dengan lukisan cat minyak yang diterangi sebuah cahaya lilin.

"... akan terlihat segi lain yang benar-benar baru. Lukisan itu akan jadi lukisan baru, bayang-bayang jadi hidup, nyala api memainkan lidahnya, dan seolah-olah tak ada beda riil antara cahaya yang berasal dari pigmen dan minyak dengan ruangan tempat karya itu berada ... "

"... cahaya lilin memberikan sebuah buku pendar tambahan yang bisa memancarkan nilai-nilai dan kelembutannya dengan ajaib dan jalan-jalan setapaknya pun jadi kenikmatan tersendiri."

Gila! Ya, benar-benar sebuah petualangan gila, dan setelah menyelesaikan novel ini, sebagaimana juga yang dirasakan tokoh Aku, aku menjadi tak berani mendaku walau sekadar sebagai penyuka buku.

Sebagaimana ditulis pada halaman ke-17, tentang bibliofil-bibliofil dibagi pada dua golongan. Pertama, kolektor. Bibliofil yang bertekad mengumpulkan buku edisi langka, artikel, majalah atau buku-buku bertanda tangan penulisnya, sekalipun mereka tak pernah membukanya selain untuk melihat halaman-halamannya (daftar isi). Kedua, para kutu buku. Pelahap bacaan yang rakus, seperti Brauer, yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam.

Novel ini benar-benar wajib dibaca bagi pecinta buku.

Barangkali, setelah membaca buku ini - meski tak perlu segila Brauer - tetapi setidaknya kita bisa kembali memosisikan buku sebagai bagian dari puncak peradaban manusia modern, yang begitu dihargai dan dicintai. 


Maka, sebagai generasi yang hidup di era milenial ini, marilah menjadi kutu buku sebelum mati kutu!