Omong Kosong Terbaik dan Kebohongan yang Ditembaki

- October 31, 2017
Kolom: M, Alfan Alfian, Omah1001
Biar tahu konteksnya, saya ingatkan lagi ke pembaca bahwa kolom saya bertajuk “Jendela” (Red: untuk rilis.id yang kemudian diposting ulang di Kolom M. Alfan Alfian www.omah1001.net untuk kepentingan penyebaran pengetahuan) ini fokusnya ulasan buku-buku. Yang saya tulis ada rujukan-rujukannya.

Ulasannya gaya bebas. Bahasanya sehari-hari. Sebagai penulis, saya sewaktu-waktu bisa, meminjam istilah Prof. Salim Said, “membawa lari” konteksnya. Pun mengajak pembaca berpetualang di dunia gagasan, informasi, dan imajinasi.

Baik, kita lanjutkan pembahasan buku Evan Davis, Post Truth. Banyak hal yang dibahasnya. Tetapi ketika menyinggung ranah politik, masuklah Donald Trump yang sudah cukup identik dengan pasca-kebenaran.

Dalam hal ini, Davis mengulas bagaimana kekuatan persuasi atau daya bujuk dalam komunikasi pun punya keterbatasan (hal. 215). Komunikator profesional yang bekerja sepenuh reputasi tak jarang justru mengalami ketekoran daya bujuk. Menerobosnya, Donald Trump sang pemenang Pilpres AS pada 2016 mengedepankan jurus “lebih baik omong kosong” (hal. 246).

Omong kosong tentu merupakan masalah atau ada di ranah komunikasi, kendatipun motif di belakang peromongkosongan itu macam-macam. Tapi, watak dasar omong kosong justru terletak pada kemungkinan daya bujuknya yang justru lebih memikat. Setidaknya, hal sedemikian lazim dalam dunia sastra, fiksi. Kebetulanlah, novelis Seno Gumira Ajidarma menunjukkannya dalam salah satu judul karyanya, Kitab Omong Kosong (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2004).

Dalam karya-karya sastra, para sastrawan lazim bermain semiotika. Mereka membawakan cerita-cerita yang seolah-olah nyata, bahkan merujuk cerita-cerita sastrawan tersohor Argentina Joerge Luis Borges, seolah-olah ilmiah. Borges seolah punya banyak buku bacaan yang langka dan berbobot sebagai rujukan-rujukan primer merangkai kisah. Suatu misteri telah dibentangkannya, lantas dijawabnya satu per satu secara detail seolah-olah ilmiah melalui telaah yang penuh rujukan. Begitulah Joerge Luis Borges yang selalu memikat.

Karl May juga banyak mengarang petualangan ke banyak tempat, betapapun dia belum pernah mengunjunginya. Apakah Karl May pernah berjumpa dan bercakap dengan Suku Apache? Sastrawan Perancis Honoré de Balzac pun pernah menulis eksotika Jawa, kendatipun belum pernah ke sana. Selain menggambarkan perempuannya, Balzac menginformasikan di Jawa ada pohon penuh racun, pohon upas namanya. Siapa yang mendekat ke pohon fiktif itu, jarak sekian meter langsung mati. Di sekitarnya, rangkaian kematian.

Tak seperti Borges, May, atau Balzac, Trump bukan pengarang fiksi. Dia adalah pemain politik yang menggenggam kartu As pasca-kebenaran. Dia berperan sebagai komunikator politik yang berupaya untuk memenangkan kontestasi, permainan. Tahun 2016, ketika kata post-truth demikian populernya, catat Davis, sesungguhnya dia telah menandai kontes dua jenis omong kosong: yang lama versus yang baru (hal. 247). Meskipun samar, dapat dicatat bahwa yang baru melibatkan secara aktif orangnya langsung sebagai penggerak kontroversi diiringi kemampuan memanfaatkannya.

Ada dua pelajaran penting yang dicatat Davis. Satu, masalah manajemen pesan palsu atau phoney message-management (hal. 247). Efektivitas Trump dalam kampanye tak lepas dari kesadarannya untuk menyampaikan omongannya secara langsung, bak tanpa tedeng aling-aling, ketimbang lazimnya politisi lain. Dia mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan pokok yang terdengar sangat rasional di kalangan orang awam.

Dua, masalah yang terkait dengan bagaimana komunikator mampu lebih meyakinkan. Disiplin pesan begitu pentingnya. Tanpanya, tak seorang pun tahu di mana posisi Anda. Dan, keberulangan pesan itu vital, mengingat tak semua orang mengikuti perkembangan politik setiap harinya. Trump mampu menyediakan banyak hal yang kontras tapi dia justru dianggap menarik. Kesuksesan Trump pada 2016 menandai letihnya bahasa lama yang mendominasi politik (hal. 254).

Ulasan tentang Trump merebak ke buku-buku lain. Daniel Levitin dalam buku populernya, Weaponized Lies, How to Think Critically in the Post-Truth Era (London: Penguin Randim House UK, 2017), antara lainnya. Levitin mengajak kita untuk menembaki kebohongan melalui senjata-senjata yang diisi oleh peluru-peluru pemikiran kritis.

Levitin mengajak kita bermain logika, justru di tengah-tengah fenomena zaman kita ketika bahasa dipakai untuk mengaburkan hubungan fakta dan fantasi, serta adanya ketekoran pendidikan. Dia mengingatkan kembali arti post-truth yang dipopulerkan oleh Oxford Dictionary.

Menurut kamus itu, pasca-kebenaran ialah kata sifat yang “berkaitan dengan atau menunjukkan keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik ketimbang daya tarik emosi dan kepercayaan pribadi”. Dari sini, kita bisa mengucapkan, selamat tinggal fakta objektif!

Dia dikaitkan dengan ragam kebohongan, kendatipun diperhalus, baik melawan pengetahuan, setengah benar, konspirasi teori, hingga berita bohong (fake news), pun hoaks. Sampai di sini, bayangan kita ialah kebohongan itu ada di mana-mana. Mereka bisa muncul dari segala arah, bak zombie atau pesawat musuh, padahal kita punya senjata: nalar kritis.

Ada tiga strategi yang ditawarkannya untuk menembaki kebohongan, sebagaimana lantas diulas bab per bab buku Levitin. Pertama, menembaki ketidakjelasan angka-angka (numerical misinformation), bagaimana menyikapi data-data yang disajikan oleh statistik secara objektif. Kalau tidak, maka kita terjerembab ke labirin perspektif yang terdistorsi sedemikian rupa, sehingga yang tergambar ialah kesimpulan yang salah belaka.

Kedua, menginvestigasi, kalau bukan menembaki argumen-argumen yang salah (faulty arguments). Ketiga, kemampuan kita untuk membedakan mana yang benar dan yang salah dengan metode keilmuan (scientific method). Dengan kalimat lain, kita bisa memahami yang tarakhir itu bahwa Levitin mengajak kita untuk menembaki kebohongan dengan jenis senjata khusus, yakni metodologi ilmu.

Jadi, tak ada yang baru dari anjurannya itu sesungguhnya. Tetapi, setidaknya buku yang ditulisnya mencolek kita untuk selalu mengedepankan kesadaran, kalau bukan kemampuan, untuk terus-menerus menembaki kebohongan. Seperti kalau kita main game perang-perangan: kalau pesawat musuh mendekat, jumlahnya semakin banyak, tapi kita lengah menembakinya, konsekuensinya cuma satu. Kita tertembak! Kita dikerubut para zombie! Ngerih! (rilis.id)


M. Alfan Alfian, Alumni HMI. Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. Juga Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute.