Mengisahkan Awal Mula Metro Photography (Habis - Bagian 4/4)

- October 01, 2017
 

Kesepakatan memilih Ketua Metro Photography (MP) tidaklah didasarkan pada keahlian memotret semata, karena MP dibentuk memang bukan hanya untuk mereka yang fotonya sudah bagus dan benar, melainkan untuk siapa saja yang menyukai foto dan ingin belajar bersama meningkatkan kualitas dan pemahamannya soal foto, termasuk juga untuk menjalin silaturahim dan pertemanan.

Suka foto dan bisa menghasilkan foto yang baik tetap menjadi salah satu pertimbangan, tetapi di atas itu yang paling penting sebagai syarat menjadi Ketua MP adalah bisa menjadi perekat antar pengurus dan anggota yang berbeda dan beragam karakter, mengayomi dan tentu harus bertanggungjawab atas kesinambungan kegiatan-kegiatan MP.

Muhammad Iqbal dianggap memenuhi kreteria itu oleh semua peserta yang hadir dalam Musyawarah Anggota yang menetapkannya sebagai Ketua MP pada Mei 2015 di Rumah Bersama Komunitas.

Maka untuk pembuktian, tugas utama yang  menanti sentuhan tangan Muhammad Iqbal sebagai Ketua baru paska terpilih adalah menghimpun kembali yang terserak, mengajak mereka kembali aktif setelah terlalu lama jeda.

Tak ringan memang jika dilakukan sendiri-sendiri. Beruntunglah, beberapa pengurus lama masih bersedia turun tangan melakukan konsolidasi itu, terutama Dhika Desta dan Andi Hendri yang masih sering menyediakan waktu luangnya untuk kumpul bersama. suatu waktu Dhika Desta menginisasi acara silaturahim yang dikemas dengan hunting foto di Dam Raman. Hasilnya, beberapa anggota dan pengurus bisa kembali bertemu dan kumpul merencanakan agenda-agenda yang akan dilakukan.

Sejak saat itulah, kegiatan-kegiatan MP kembali bergeliat. Acara bertajuk Metro dalam Lensa sukses digelar dalam rangkaian acara Tribute to Lukman, hunting bareng fotografer se-Lampung dalam rangkaian Metro Youth Revival juga sukses menghadirkan banyak fotografer dari berbagai daerah, dan terakhir rangkaian ulang tahun MP yang kedua, juga sukses diselenggarakan sangat meriah, dengan berbagai rentetan kegiatan, mulai hunting foto model sebelum hari H, menyelenggarakan Klinik Foto bersama wartawan Kompas, Angger Putranto yang juga anggota Asosiasi Pewarta Foto Indonesia (APFI) Lampung yang digelar satu rangkaian dengan lomba foto dan hunting foto model pada acara puncak ulang tahun MP kedua di Taman Merdeka Kota Metro.

Ulang tahun MP yang kedua sukses digelar, ada banyak fotografer baru yang bergabung, meskipun beberapa 'wajah lama' terlihat justeru tak muncul di acara ulang tahun tersebut. Ada asa, kehadiran orang-orang baru tersebut akan semakin menyemarakkan kegiatan-kegiatan MP. Namun, kenyataan memang tidak selalu semulus harapan. Paska ulang tahun kedua tersebut, kehadiran 'orang-orang baru' tersebut justeru terkesan menyibukkan pengurus melakukan aktivitas hunting terbatas, mungkin tampak baik karena kegiatan tersebut bisa meningkatkan pengetahuan mereka yang baru bergabung tentang foto, tetapi tanpa sadar justeru mengabaikan kawan-kawan lama.

Akhirnya MP kembali terkotak, aktivitas berjalan sendiri-sendiri. Saya juga terlalu sibuk dengan aktivitas sendiri, sehingga lupa memberi perhatian kepada pengurus MP, semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. MP kembali vakum, tidak terurus.

Waktu terus berjalan, tanpa kegiatan yang 'greget'. Ulang tahun MP yang ketiga nyaris berlalu tanpa peringatan dan kegiatan, beruntung Muhammad Iqbal sebagai Ketua, masih ingat tanggal lahir MP, sehingga berusaha memperingatinya dengan kegiatan amal, berbagi dengan anak-anak yatim di Panti Asuhan.

Barangkali berawal dari peringatan ulang tahun MP ketiga, yang tak semeriah peringatan ulang tahun MP sebelumnya, Ketua dan pengurus MP mulai menghubungi beberapa senior mereka, merencanakan hunting silaturahim tepat pada Ramadhan lalu, acara MP satu-satunya yang tak sempat saya hadiri karena berbarengan dengan jadwal mudik, sehingga saya tak paham persis bagaimana meriah dan suksesnya kegiatan tersebut.

Namun, saya merasakan berawal dari kegiatan tersebutlah semangat pengurus dan anggota MP kembali bersemi, mungkin sadar atau tidak sadar mereka memang hanya perlu waktu untuk bertemu dan bersama secara intens untuk merencanakan kegiatan-kegiatan keren, terbukti paska lebaran mereka sudah menyiapkan beberapa acara untuk menghidupkan kembali komunitas.

Photography Reborn tanggal 24 September 2017 di Mama Cafe & Resto, adalah salah satu rencana itu, dan kali ini saya memang tidak banyak terlibat, dan tak banyak paham dengan setting kegiatan, meski di beberapa rapat persiapannya dilaksanakan di rumah dan melibatkan saya.

Saya cukup percaya dengan 'pulang'-nya beberapa wajah lama ke 'rumah mereka', MP pasti kembali menemukan semangatnya, kebersamaan mereka dalam kegiatan tersebut pasti memberi hasil yang memuaskan. Saya percaya, mereka mampu menyelenggarakan kegiatan keren tanpa kehadiran saya, untuk itu saya menahan diri dan mengurangi untuk banyak bertanya dan mengatur kegiatan tersebut.

Andai bisa dimaklumi tanpa dijelaskan, ingin rasanya waktu itu saya malah tidak hadir dalam acara Photogparphy Reborn tersebut, untuk menegaskan bahwa acara itu sukses berkat mereka sendiri, tanpa ada bayang-bayang apalagi campur tangan dari saya. Tapi, untuk tidak hadir itu sangat mustahil dilakukan, karena saya ada ditempat dan mereka tahu, saya tak ada kendala apapun untuk tidak bisa hadir.

Saya datang pukul 14.00 lewat, padahal pengurus dan panitia telah berkumpul sejak pukul 09.00 pagi. Dan, seperti yang saya duga acara tersebut sudah menampakkan kesuksesannya, sekitar 40-an lebih fotografer telah berkumpul untuk mengikuti kegiatan Photography Reborn tersebut dan jumlah itu terus bertambah hingga akhir acara, tercatat oleh panitia ada 70-an fotografer yang berpartisipasi, padahal panitia hanya menargetkan tak lebih dari 40 peserta.

Dan, yang paling suprise bagi saya adalah ketika Dhika Desta sebagai pembawa acara dadakan saat itu, meminta saya untuk maju ke depan, didahului pembacaan puisi "Tak Terbalas" karya Muhammad Anugerah Utama oleh Novita Sari dan diiringi petikan gitar Deska, dua perempuan MP yang paling aktif saat ini.

Suprise-nya bukan hanya ketika Dhika menyampaikan semuanya didedikasikan buat saya, melainkan yang membuat saya lebih terharu, terbata-bata dan nyaris menangis adalah ketika Ketua MP Muhammad Iqbal, Ragil Utama, Ketua Panitia Photography Reborn dan Dhika, di depan puluhan peserta yang hadir menyampaikan bahwa  : "Jangan pernah merasa sendiri Om, kami tak pernah meninggalkan Om Rahmat sendiri. Om Rahmat sudah seperti Bapak bagi kami."

Meski saya sama sekali tak pernah merasa sendiri dan mereka tinggalkan, tapi acara tersebut sukses mengaduk-aduk perasaan saya, menjadikan saya justeru merasa bersalah pernah mengacuhkan mereka, menyesal karena menyia-nyiakan waktu belajar bersama dan berperan setara bersama mereka.

Sekali lagi keharuan itu bukan soal gede rasa atau merasa gede, bagi saya ini di luar ekspektasi, di luar yang dibayangkan, bagaimana mungkin orang yang justeru sering saya abaikan akhir-akhir ini, orang yang usianya jauh terpaut di bawah saya dan masih anak-anak itu memiliki kemampuan mengapresiasi luar biasa, terhadap hal-hal yang sepertinya tak memiliki kepatutan diapresiasi.

Dari merekalah saya akhirnya belajar soal tindakan nyata, bagaimana pentingnya mengapresiasi, pentingnya jiwa besar di saat justeru saya tak bisa memberikan dedikasi maksimal terhadap adik-adik saya di MP, dan saya yakin kesadaran mengapresiasi di antara mereka inilah, yang suatu saat akan membuat mereka besar. 

Semoga.