Resensi Buku: Ketika Jeroan ISIS Dibongkar

- October 28, 2017
Ketika Jeroan ISIS Dibongkar

Secara lantang penulis buku ini sudah mengawali, bahwa dunia Barat masih belum sepenuhnya memahami apa itu ‘Islamic State’ (IS), lebih khusus lagi pada ISIS. Sejumlah pengamat atau reporter media sebelumnya sering melabeli ISIS sebagai ‘Ekstrimis Sunni’. Namun, apa yang membedakan ISIS dari ‘Ektrimis Sunni’ lainnya?

Nah, justru jawaban media masih belum lugas apalagi tegas. Dan beragam pertanyaan lainnya bertebaran di awal buku ini. Penulis bahkan menggugat sejumlah anggapan umum terhadap ISIS yang sering tak berpijak pada sumber ISIS itu sendiri. Terlalu banyak spekulasi tentang ISIS, yang boleh dikata lebih banyak bumbu daripada menyajikan apa itu ISIS sesungguhnya. Oleh karena itu, yang ditawarkan penulis bukanlah rekomendasi kebijakan politik atau strategi militer menghadapi ISIS, melainkan sebuah pengetahuan tentang ISIS itu sendiri berdasar kajian ideologi koheren. Caranya, pengamatan bukan terjebak pada isi propaganda horor atau aneka kabar pembunuhan, melainkan pada aksi, ucapan dan kegiatan di luar pertempuran, yang dilakukan oleh kelompok ISIS itu sendiri.

Ada dua alasan penting mengapa buku ini ditulis. Pertama, kaitan antara Islam dan IS. IS bukan saja gerakan politik militer sebagaimana dianggap publik dan media, melainkan ia juga merupakan gerakan keagamaan. Sebuah agama, termasuk Islam, selalu menyediakan zona nyaman bagi pemeluknya. Sehingga kemudian agama secara sinis sering dianggap sebagai sebuah bentuk eskapisme (pelarian) dari kenyataan dunia. Akan tetapi, kehadiran IS justru juga hendak menegaskan bagaimana seharusnya kenyataan dunia ini dibentuk, dan hal ini tentu saja menjadikan agama bukan eskapisme. Kedua, cara pandang Barat selama ini terhadap kenyataan hidup sehari-hari muslim seringkali keliru, hanya karena masyarakat Barat non-muslim secara historis telah terbiasa dengan konsep pemisahan agama dari ruang publik. Keterpisahan ini menjadikan mereka kemudian mengembangkan bentuk ideologi yang jauh dari pemahaman terhadap agama, yang pada gilirannya bahkan menumbuhkan sikap resistensi pada agama. Pendekatan untuk menyelesaikan persoalan IS tampaknya berangkat dari situasi Barat semacam itu, sehingga seringkali gagal menyajikan cara-cara jitu menghadapi gerilyawan IS.

Buku ini berisi tujuh bab yang diawali dengan penjelasan seputar apa itu IS. Kemudian, penulis mengulas tentang kekhalifahan, administrasi, pendapatan, agama, perempuan dan anak-anak, Yahudi dan Kristen, relevansi wahyu saat ini, dan diakhiri dengan kesimpulan. Bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami pembaca. Terutama ketika penulis menjelaskan seputar kekhalifahan. Sedari awal pembahasan dalam soal ini, penulis mengikuti alur klaim kelompok ISIS yang mendeklarasikan diri pada 29 Juni 2014 di Iraq. Pendeklarasian ini sekaligus bentuk penolakan terhadap semua sistem pemerintahan era kini, dan Abu Bakar al Baghdadi mempertautkan dirinya pada kekhalifahan pada abad Islam klasik. Persoalannya kemudian bukan semata pada klaim ini, namun ketika ia menggunakan kata ‘khilafah’ itu sendiri sesungguhnya juga menjadi problem. Sebab, kata ini punya nuansa emotif yang besar. Penulis buku menegaskan, bahwa ketika kata tersebut diucapkan, segera tampak pengaruhnya pada siapa saja yang mendengarnya dan punya pemahaman baik terhadap sejarah Islam. Kata itu mengingatkan seseorang pada masa kejayaan Islam klasik di bawah beberapa dinasti, dan dinasti Abbasiyah merupakan salah-satunya.

Setelah masa kejayaan itu surut, kata ‘khilafah’ tetap bertahan. Ia masih dipelajari dan diajarkan dalam kajian-kajian Islam klasik. Ditegaskan penulis, kata ini bermakna juga sebagai sebuah institusi, bukan sekadar merujuk pada julukan penguasa. Dan institusi kekhalifahan ini bahkan bermakna sebagai penyatuan aspirasi muslim, dan wacana ini kemudian yang dimanfaatkan ISIS melalui jubirnya Abu Muhammad al Adnani yang memposting kelahiran kembali kekhalifahan pada Juni 2014 tersebut di akun Twitter media ISIS, al Hayat. Momentum deklarasi itu tak sembarangan dipilih sebab bertepatan dengan 2 Ramadhan 1435H, hari kedua awal bulan suci Ramadhan. Mereka mengharapkan efek psikologis atas deklarasi. Apalagi, tulis penulis buku ini, dalam pidato deklarasi itu, Adnani menyebutkan tiga kriteria penting yang disematkan pada sosok khalifah. Pertama, sosok khalifah harus mempunyai kualifikasi religius, yakni saleh dan terpelajar. Kedua, ia harus punya kualifikasi mujahid. Ketiga, ia punya jalur keturunan ke Rasulullah. Penulis buku ini tampaknya dengan cermat menjadikan dokumen ISIS sebagai rujukan menganalisis ISIS itu sendiri.

Begitu seriusnya penulis buku ini meneliti ISIS dan sosok Abu Bakar al Baghdadi, sehingga tampak dari penelusuran nama sosok itu serta jalur keturunan plus berbagai atribut yang dipakai. Dari hasil penelusuran ini penulis menyimpulkan bahwa pemakaian berbagai gelar serta atribut punya tujuan mengaitkan pada silsilah politis kekhalifahan, dan pada akhirnya menegaskan ‘Itulah Janji Tuhan’. Sebagai gurubesar bidang sejarah Universitas Vandebilt, AS, penulis buku tampak berusaha menyingkap ISIS sebagai gerakan mesianistik, ketika rumusan ideologi gerakan berpangkal pada idiom-idiom masa lalu. Dari sini, penulis kemudian menegaskan kenapa ISIS itu penting diteliti, yang lantas dipaparnya dalam empat alasan. Pertama, ISIS itu sendiri bukan sekadar gerakan perlawanan terhadap pemerintah setempat, melainkan gerakan ini sudah mendominasi wilayah yang sangat luas, dengan populasi lumayan banyak serta sumberdaya yang luas. Kedua, dengan menggunakan kekhalifahan mirip kerajaan/kesultanan sebagai model pemerintahannya, ISIS berupaya menarik perhatian dunia Islam. Ketiga, lembaga kekhalifahan ini secara eksplisit memperlihatkan upaya pembangkitan kembali apa yang pernah ada dalam sejarah Islam klasik yang pernah dikubur oleh dominasi kolonial Barat. Keempat, ambisi ISIS menguasai wilayah-wilayah lain melalui doktrin jihad tafsiran mereka.

Selain perkara ideologi, penulis buku ini juga membongkar bagian administrasi ISIS. Walaupun hanya sekitar 11 halaman saja, namun penulis menyajikan sikap kritis terhadap pernik-pernik administratif yang ditampilkan ISIS. Termasuk dalam pembagian wilayah administratif dimana ISIS membagi kawasan yang ditaklukannya ke dalam pemerintahan di tingkat provinsi dan lokal. Di dalam pembagian wilayah ini juga termaktub kehadiran aparat ISIS yang sesekali menggunakan kekerasan untuk menjaga hukum dan ketertiban. Rekrutmen warga baru terus dilakukan ISIS melalui berbagai cara, utamanya pola-pola rekrutmen ditujukan pada penduduk negara-negara Barat. Secara jeli, penulis buku ini mencermati bahwa banyak warganegara Barat yang terpikat bergabung pada ISIS semula tak mengetahui apa dan bagaimana ISIS itu. Mereka ini kemudian terperanjat bahkan syok tatkala tiba di wilayah ISIS dan pelan-pelan mulai mengetahui keseharian di wilayah pendudukan ISIS.

Buku ini memang sarat analisa kritis terhadap ISIS yang merujuk pada apa yang diterbitkan secara resmi oleh ISIS sendiri. Bukan berdasar pada semata liputan media Barat atau tafsir laporan resmi pemerintah AS dan sekutunya. Sebaliknya, sumber yang digunakan penulis sebagian besar adalah rekaman berbahasa Arab yang dirilis oleh ISIS sendiri. Melalui perbandingan antar sumber lalu disimpulkan, kemudian penulis bisa menyajikan sebuah analisis kritis yang sangat komprehensif, yang tentu saja bermanfaat untuk pembuatan kebijakan tegas lugas melawan ISIS.

***


Data Buku

Judul Buku: Black Banners of ISIS
Penulis : David J. Wasserstein
Penerbit : Yale University Press, USA
Tebal : xi + 266 halaman
Cetakan : Pertama, 2017

Rosdiansyah, Peresensi adalah alumni FH Unair dan master studi pembangunan dari ISS, Den Haag, Belanda. Kini, periset pada the Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi/JPIP)




Advertisement