Gusti Ryandhi : Dulu Si Introvert, Kini MC Hebat

 "Ayo kawan-kawan, sebelum bubar kita foto bareng dulu. Kita tunjukkan bahwa komunitas di Kota Metro ada dan kompak!" Teriak Gusti sapaan akrab Gusti Ryandhi yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC), pada Hari Kunjung Perpustakaan yang digelar di jalan depan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Metro, tanggal 26 September 2017 yang lalu, sebelum menutup acara.

Gusti sebagai pembawa acara sukses membuat suasana menjadi cair dengan bayolan-bayolan yang mengundang gelak tawa, termasuk juga cerdik membangun interaksi dengan pengunjung, sehingga suasana sore di penghujung September itu tak menjenuhkan.

Begitulah sosok Gusti, yang saat ini tak asing di kalangan anak muda gaul, karena memang Ia sudah seringkali diundang untuk menjadi MC di berbagai acara, baik acara-acara keluarga, organisasi maupun launching sebuah produk. Bahkan, di bulan Oktober ini, sebuah perusahaan rokok telah memberinya kontrak full selama sebulan dalam acara Stage Musik di Kota Metro, sehingga sosok muda ini bisa dikategorikan sebagai sosok yang sibuk.

Namun, siapa sangka pemuda yang lahir 22 tahun lalu, tepatnya 10 Agustus 1995 ini, bisa menjadi MC yang sukses dan hebat didapatkannya dengan penuh perjuangan yang tak mudah, Ia harus bergabung dengan organisasi mahasiswa, meninggalkan hobinya bermain game, bolak-balik nongkrong di cafe untuk menonton stand up agar bisa menjadi pribadi yang terbuka dan bisa sekadar ngobrol dengan temannya, karena sebelumnya Gusti adalah sosok yang introvert, pendiam dan tertutup.

"Dulunya, gue ini introvert, gue parah banget, susah banget ngobrol sama orang. Sama saudara aja, kalo diajak ngobrol gue paling jawab seadanya. Gue malu, gue menganggap obrolan gue enggak penting buat mereka, menutup diri banget." Kisah Gusti, Senin malam (30/10) ketika bertemu di Bejos Milk, Jl. AH. Nasution Yosodadi, Kota Metro.

Sebagai seorang yang tertutup, Gusti lebih memilih menghabiskan waktunya bermain game, bahkan beberapa kali menurut pengakuannya dia bolos sekolah hanya untuk bermain game. "Tetapi, latar belakang kehidupan keluarga yang bukan kelas menengah ke atas, melainkan menengah ke bawah, akhirnya membuat gue berpikir bagaimana caranya dari kesenangan bermain game itu menghasilkan," jelas Gusti.

Menyadari kondisi keluarganya itulah, Gusti berpikir alangkah baiknya jika hobinya bermain game itu bisa sekalian menjadi pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. "Gue yang mania game PC, siang malam hidupnya di warnet, akhirnya berhasil menjadikan game punya nilai positif, game itu ternyata bisa mendatangkan penghasilan. Game bahkan sangat menghasilkan buat gue kala itu, dari situ gue bisa dapat duit buat sekolah, beli handphone sampai ngasi duit buat dua adek gue."

Tertarik dengan MC dan Stand Up Comedy

"Awalnya sih enggak sengaja. Kerjaan gua waktu itu kan hanya dua, pacaran dan nge-game. Jadi enggak pernah kepikir mau menjadi MC." Jawab Gusti yang menamatkan sekolah dasarnya di SD Negeri 1 Kota Metro ketika ditanya awal cerita dia tertarik menjadi komika dan MC.

Menurutnya, selulus dari SMA sebenarnya dia lebih tertarik untuk mencari pekerjaan, meski ada terbersit niat juga untuk kuliah. Keraguan untuk melanjutkan kuliah itu berubah menjadi keputusan yang meyakinkan, justeru ketika pacarnya yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA terus mendorongnya, "Gue akhirnya memutuskan untuk mendaftar di beberapa perguruan tinggi negeri, dan hasilnya tak satupun diterima."

Setelah tidak lulus tes perguruan tinggi itu, Gusti memilih untuk bekerja di warnet, bekerja sekaligus melanjutkan hobinya bermain game, selama setahun. Baru di tahun berikutnya ia mendaftar kuliah kembali, di STAIN Juraisiwo (kini IAIN) Metro, Jurusan Syari'ah D3 Perbankan.

"Di semester awal kuliah itulah, gue dituntut buat makalah dan harus presentasi. Sebagai seorang yang introvert dan gamer banget, yang susah ngobrol ama orang, bisa kebayang sulitnya gua komunikasi apalagi sampai harus presentasi." Tutur Gusti, mengisahkan perjuangannya untuk menjadi lebih terbuka dan bicara di depan umum.

Namun, akibat kesulitan untuk presentasi itulah membuat Gusti memutuskan diri untuk tidak bermain game lagi. Ia pun akhirnya berusaha mencari jalan untuk bisa sama dengan kawan-kawannya, bisa dan lancar berbicara di depan forum. Salah satu usaha yang ia lakukan adalah menikuti unit kegiatan mahasiswa (UKM).

"Gue pernah ikut sebuah organisasi, tapi sebelum selesai perkaderan gue cabut. Tujuan Gue saat itu sebenarnya  pengen mengatasi intrivert gue, tetapi saat itu justeru gue merasa enggak nyaman. Hingga akhirnya Gue bergabung di UKM Kampus, FOSSEI sekarang KSEI. Di sanalah Gue akhirnya banyak belajar, di situlah gue mulai belajar ngomong."

Di saat Gusti sudah mulai merasakan suasana kehidupan baru yang membuatnya berubah dari pribadi yang tertutup, menjadi pribadi yang mulai belajar bersosialisasi. Namun, di saat senang-senangnya belajar bicara di depan umum tersebut, justeru di masa itu Ia mendapat masalah, Bapak-nya berhenti kerja dan Ibunya tidak bisa melanjutkan usahanya. Kondisi yang akhirnya memaksa Gusti berpikir dan berusaha bagaimana caranya bisa membantu keluarga.

"Akhirnya gue gak bisa aktif lagi di UKM FOSSEI, dan saat itu kebetulan ada kawan yang menawarkan kerja di BRI Raden Intan Bandarlampung. Pekerjaan yang mebuat saya harus bolak-balik Metro - Karang," kenang Alumni SMA Negeri 2 Metro ini.

Kondisi pekerjaan yang jauh, memaksa Gusti harus pulang sore setiap hari. Ia pun tak memiliki kesempatan lagi untuk ke kampus atau bergabung dengan teman-temannya di UKM. Meskipun begitu, Ia tetap berusaha untuk terus mengasah bakatnya. "Pulang sore, membuat gue tak memiliki banyak waktu bergaul, hingga akhirnya gua diajak Ridho nonton stund up di Kayu Manis sebelum pindah ke Bejos."

Melihat anak-anak Stand Up, yang menurutnya telah berusaha melucu tapi sangat susah untuk membuat orang-orang yang menonton tertawa. 'Gue pasti gak bisa!" Sampai suatu ketika, setelah Stand Up pindah ke Bejos, dan Ia bertemu dengan anak-anak Stand Up Indo Lampung, salah satunya Nowendi Septian, yang banyak bercerita soal stand up, "ceritanya kok menarik.

"Tahun 2015, saat Gue mau klaim gaji ke BRI Unit Natar, kantor tempat Gue dipindahin setelah selesai kontrak selama tiga bulan di BRI Raden Intan. Gue kecelakaan dan patah kaki, Gua harus operasi, saat itu sekitar tanggal 13 bulan Agustus dan gua butuh pemulihan selama 4 bulan."

Selama kejadian itu dan sesudahnya berdasarkan cerita Gusti, dia tidak lagi bekerja, alias menganggur, dan kebetulan kuliah juga libur. Akhirnya, pilihannya hanya ikut Ridho ke Bejos nonton stand up. Tapi, dari situlah awal bakatnya terasah, belajar sekaligus praktik untuk bicara di depan umum, bukan hanya bicara tetapi juga melucu, menjadi komika.

"Secara khusus enggak pernah belajar ngemce, saya hanya ingin terus mengasah kemampuan bicara, dan kebetulan setiap acara stand up selalu butuh MC, dan saya maju membawakan acara, dan akhirnya banyak yang mempercayakan saya untuk ngemce. Dan pengalaman pertama kali dibayar ngemce itu di acara Gathering Handphone,  Launching SmartFriend." Tutup Alumni SMP Negeri 1 Metro, yang kini sedang duduk di semester 7 dan berjuang menyelesaikan kuliahnya IAIN Metro ini.*(RU/Omah1001.net)


0 komentar