Evan Dimas, Proses Kreatif, dan Jalan Nasib

- October 29, 2017
Kolom: M, Alfan Alfian, Omah1001
Katakan ini kolom sela sebagai hiburan akhir pekan. Komentar para pembaca terhadap kolom saya, sebelum kolom lanjutan kali ini, tak disangka cukup meriah. Kolom itu berjudul “Zaman Omong Kosong”. Ada yang komentar serius ketika pembaca ketemu saya di jalan. Ada yang cukup berkomentar lewat sosial media.

Antara lain, dari sekian komentar itu, karena penulis buku yang tengah saya perbincangkan substansinya dalam kolom “Zaman Omong Kosong” bernama Evan Davis, banyak yang nyeletuk, dia apanya Evan Dimas?

Tentu saja Evan Dimas, tak lain, pemain sepak bola itu. Maka, jawaban saya cukup pendek: “Wk wk wkkk … dia mah pemain bola.” Lantas disahut pula dengan: “Wk wk wkk … oh kirain sodaranya.”

Masalah kemiripan nama memang, dalam hal-hal tertentu, fenomenal. Di kita bahkan ada yang serius mengurus asosiasi persamaan nama se-Indonesia, bahkan sedunia.  Misalnya perkumpulan Asep, perhimpunan Joko, atau persatuan Endang.

Bahkan, beberapa hari lalu, penulis Eka Budianta menulis di Kompas (14/10/2017) “Membangun Bangsa Berbudi”, berkisah tentang perburuannya mencari sesama saudara sebangsa yang juga punya nama Budianta. Ternyata memang banyak, di berbagai tempat dan ragam profesi.

Bahkan, terhadap saya pun sering banyak yang nanya, “Anda itu apanya Dr. Alfian almarhum yang pakar ilmu politik itu? Apakah masih saudaranya? Keponakannya barangkali?”

Dr. Alfian yang kita maksud lahir di Solok, Sumatera Barat, 9 Oktober 1940, meninggal di Oeynhausen, Jerman, 25 November 1992. Dia termasuk ilmuwan politik perintis di Indonesia. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana mudanya di Universitas Nasional (1962), melanjutkan studinya di University of Wisconsin AS hingga meraih gelar MA pada 1964. Lima tahun kemudian, dia menggondol gelar doktor dengan disertasi “Islamic Modernism in Indonesian Politics: The Muhammadiyah Movement During the Dutch Colonial Period (1912-1942)”.

Ketimbang repot, saya jawab iya. Setidaknya, “saudara se-almamater”. Dr. Alfian pernah kuliah di Universitas Nasional (Unas), mengajar di kampus ini, bahkan untuk mengabadikannya, salah satu ruangan di FISIP Unas bernama Ruangan Alfian (selain juga Ruang Deliar Noer, Dahlan Ranuwihardjo, dan Masjid Sutan Takdir Alisjahbana).

Para pembaca yang berkomentar soal nama pengarang itu tak salah, bahkan penting dan lazim saja. Guru bahasa Indonesia saya ketika SMA, Bu Suci, menegaskan ke para muridnya bahwa kalau kamu membuat resensi buku, ingat dua hal.

Satu, dimensi intrinsik alias apa substansi, benang merah, hal-hal yang diuraikan, kelebihan, keterbatasan, dan apa saja pertanyaan yang bisa kamu hadirkan dari buku itu.

Dua, dimensi ekstrinsik. Pengarangnya. Siapa dia? Bagaimana rekam jejaknya, baik perihal profesinya, minatnya, dan hal-hal yang perlu kamu ketahui dan informasikan ke pembaca resensimu.

Jadi, dua-duanya penting: ya pengarangnya, ya apa yang disampaikannya.

Buku-buku memang menjadi etalase pemikiran, gagasan, imajinasi, dan hal-hal yang perlu disampaikan pengarangnya kepada majelis pembaca. Kalau pembaca jeli dan setidak-tidaknya terpikat oleh pengarang, dia akan tergerak dengan sendirinya mencari tahu kedalaman dimensi ekstrinsiknya.

Misalnya, karena terpikat Tasawuf Modern, Lembaga Budi, Falsafah Hidup, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Merantau ke Deli, timbullah minat pembaca untuk tahu lebih lanjut, siapa sebenarnya Buya HAMKA? Karena terpikat novel-novelnya, antara lain Rumah Kaca, Bumi Manusia, dan sebagainya termasuk Arus Balik, timbullah minat pembaca untuk tahu lebih lanjut, siapa sebenarnya Pramoedya Ananta Toer?

Maka, ingin tahulah kita, siapa sesungguhnya pengarang buku kumpulan esai bagus ini, Slilit Sang Kiai. Mengapa ada Emha di depan Ainun Nadjib?

Belum lagi sederet keingintahuan kita lebih lanjut pada J.K. Rowling, mengapa Harry Potter diselesaikan pada novelnya yang kesekian? Pun, mengapa Kazuo Ishiguro memenangkan Hadiah Nobel bidang sastra tahun ini (2017)? Siapa sejatinya dia?

Fiksi atau bukan fiksi (dan barangkali koleksi bukumu lebih banyak jenis fiksi), tetap saja memerlukan kecermatan pembacanya terhadap, dalam intensitas tertentu, pengarangnya. Memang, pengarang sering menyembunyikan nama aslinya, tentu dengan maksud-maksud tertentu.

Sampai sekarang, saya belum tahu mengapa Arswendo Atmowiloto pakai nama samaran Titi Nginung dalam novelnya, Opera Jakarta? Mengapa pula konon, Muhammad Natsir pakai nama lain A. Muchlis dalam artikel-artikel polemiknya dengan Bung Karno?

Tak semua buku mencantumkan ringkasan singkat pengarangnya. Tetapi, banyak yang menyisipkan “tentang penulis” di bagian awal atau akhir buku. Nah, Evan Davis, sang penulis Post Truth (2017), yang saya bahas pada kolom lalu, tak muncul ringkasan ekstrinsiknya. Di sampul belakang hanya disebut, dia itu “presenter radio dan televisi”.

Tapi, di zaman kita, melacaknya begitu mudah. Kita bisa klik di google, dan muncullah pilihan biografisnya. Misalnya, tersembullah cepat sekali nama itu di wikipedia. Kita baca, dan oh, dia itu Evan Harold Davis lengkapnya. Lahir 8 April 1962 di Malvern, Worcestershire. Dia ahli ekonomi Inggris. Juga seorang jurnalis dan presenter di BBC. Bla, bla, bla…

Dari latar belakang sedemikian, maka pembaca jadi maklum adanya, ketika dia pun banyak menguraikan masalah post-truth dengan ilustrasi-ilustrasi ekonomi. Dari pengetahuan dimensi ekstrinsik, pembaca bisa membayangkan bagaimana kira-kira pengarang berproses kreatif.

Pengetahuan tentang proses kreatif pengarang tak semua didapat dari buku. Tetapi, terutama bisa didapat dari ragam pemberitaan tentangnya. Atau, barangkali pernah ada yang mewawancarainya.

Pernah dulu ada buku tentang kumpulan proses kreatif para pengarang Indonesia yang diedit oleh Pamusuk Eneste. Bukunya ada beberapa jilid. Para pengarang terkemuka saling berkisah.

Bagaimana mereka menemukan ilham, dan menuliskannya di buku itu. Kadang-kadang yang dia ceritakan jalan hidupnya yang absurd, karena cita-cita mereka tak pula hendak jadi pengarang.

Arswendo pernah mau daftar sekolah ke Bandung. Tapi dia “kepancal sepur” alias ketinggalan kereta di Stasiun Balapan. Kalau tak ketinggalan, barangkali dia tak mampir jadi pengarang.

Juga mirip nasib saya. Karena ketinggalan ijazah, maka saya terlambat mendaftar Jurusan Seni Rupa ITB. Banknya sudah tutup ketika saya sampai di lokasi. Ketimbang menyesali, saya malah asyik bercengkerama dengan buku-buku dan majalah-majalah di emperan Masjid Salman, dan ketemulah saya dengan tulisan Fazlur Rahman dan para “pendekar” lain di jurnal Ulumul Qur’an zaman itu.

Saya tak bersedih.

Kalau saja saya diterima jurusan itu dan lantas jadi aktivis seni rupa, mungkin saya tak akan menulis artike-artikel, buku-buku, seperti dewasa ini.

Itulah jalan nasib. (rilis.id)


M. Alfan Alfian, Alumni HMI. Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. Juga Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute.