E-Book: Cara Murakami Merayakan Ketakpastian Modernitas

- October 08, 2017
E-Book: Cara Murakami Merayakan Ketakpastian Modernitas, Omah1001
Membaca Novel (Baca di sini Dunia Kafka) karya Haruki Murakami serasa jiwa terbawa masuk dalam lanskap teks yang begitu kaya. Kita seolah diajak berkeliling ke dunia antah-berantah, dunia imaji, dunia yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bahasanya sederhana namun sarat dengan letupan makna yang dalam. Setidaknya impresi seperti itulah yang saya rasakan selepas membaca novelnya: Dunia Kafka (Kafka on the Shore) yang di terbitkan versi terjemahnya pertama kali oleh Pustaka Alvabet (2011).

Dunia Kafka sarat dengan absurditas, surealisme, metafora, imajinasi yang kadang liar. Bisa dikatakan kita sedang berlayar dalam ruang yang mustahil dijamah akal manusia. Berbeda dengan Dengarlah Nyanyian Angin dan Norwegian Wood yang cenderung realis, Dunia Kafka dipenuhi dengan aura magis bahkan surealis yang bertaburan di dalam cerita, agak mirip dengan IQ84 yang juga surealis.

Dunia Kafka sangat kompleks jalinan ceritanya. Ada dua plot yang mengisi lembar demi lembar halaman novel itu. Kedua plot itu diceritakan secara begantian. Plot pertama, bercerita ihwal seorang bocah lelaki 15 tahun bernama Kafka Tamura yang dikutuk oleh sang ayah, yang kemudian kabur dari rumahnya di Tokyo yang dengan alasan yang tak dapat ia jelaskan ia pergi ke kota kecil Takamatsu. Ia adalah representasi keterasingan anak urban yang keluarganya mengalami broken home.

Namun, di tengah kekacauan tersebut Kafka tetap bersikap tegar, terutama karena bantuan moral dari cerminan metafisis dirinya yang disebutnya sebagai bocah laki-laki benama Gagak. Pendeknya, Ia kabur dari rumah dengan alasan mencari ibu dan kakak angkatnya yang meninggalkannya kala ia berumur empat tahun.

Di dalam bus ia bertemu Sakura, gadis 21 tahun yang kemudian menjadi kakaknya, entah kakaknya yang dulu diadopsi orang tuanya atau bukan, sebab tak diterangkan ihwal kakak angkat itu, setidaknya yang saya temukan. Dan yang lebih parah, kakak angkatnya itu membikinnya ereksi.

Lantas, selepas kejadian aneh yang tak dapat di ingatnya, ia telah berlumur darah yang entah karena apa, tapi ada kaitannya dengan kakek Nakata yang baru saja membunuh Johny Walker, ayah Kafka, karena kucing.

Di Takamatsu, ia pergi ke perpustakaan Komura dan bersua dengan Oshima, seorang wanita yang mempunyai kelainan seksual yang membuatnya lebih mirip laki-laki; dan Nona Saeki, perempuan paruh baya yang adalah ibu kandung Kafka.

Pada plot yang lain, novel ini bercerita ihwal seorang kakek bernama Satoru Nakata yang bisa dikatakan mengalami kelainan atau katakanlah keterbelakangan mental, ia tak bisa membaca namun ajaibnya bisa bicara dengan kucing, membuat hujan ikan makarel, hujan lintah, gileee! Lelaki tua bersahaja ini hidup tanpa hasrat, ia menjalani hidupnya apa adanya, mengalir, tanpa beban. Di masa uzurnya ia mendapat santunan dari dana kompensasi Gubernur ala kadarnya, dan sesekali menerima upah dari jasa mencari kucing yang hilang, pekerjaan yang didapatinya karena kelebihan dapat bicara dengan kucing!
Hingga pada suau ketika, ia mencari kucing bernama Goma yang tanpa ia sadari telah membawanya pada suatu pembunuhan mengerikan. Ia membunuh laki-laki “aneh” bergaya eropa abad pertengahan bernama Johny Walker (merk whisky) dengan menghujamnya secara sadis dengan mata pisau yang ditusuk ke dadaya dua kali, mengerikan. Peristiwa ini membawa nalurinya untuk pergi ke barat, yang mempertemukannya dengan seorang sopir truk muda bernama Hoshino.

Nah, meskipun Hoshino ini karakter minor namun perannya sangat penting dalam cerita ini. Dialah yang bakal mengakhiri segala keanehan, keganjilan, dan absurditas yang terjadi dengan menutup “batu masuk” ke dunia metafisis yang disebut limbo, sebuah dunia pasca-kematian, antara kehidupan dan kematian. Dunia inilah, barangkali, tempat dimana separuh jiwa Nakata dan nona Saeki singgah. Sebuah dunia dimana waktu bukanlah unsur, sebuah pembeku kenangan.

Meskipun terdapat dua plot yang berbeda, dengan perspektif yang berbeda pula, namun ada benang merah alias keterkaitan yang menyatukannya. Secara harfiah kita akan menemukan ketersambungannya menjelang tengah cerita dimana alurnya menjadi semakin terkuak. Alur cerita memang maju mundur, belum lagi plot yang berbeda, membutuhkan kesabaran untuk terus membuka halaman demi halaman sampai akhir. Mungkin secara kontekstual kita dapat menafsirkan kaitan metafisis yang menyambungkan Kafka Tamura dengan Satoru Nakata.

Novel ini menggabungkan unsur-unsur mitologi dari setiap peradaban, saya pikir. Kafka adalah bentuk mimesis dari eodipus-complex (yunani) yang dengan hasrat purbanya mengawini ibu kandungnya, bercinta dengan kakaknya, dan membunuh ayah kandungnya. Ia adalah representasi ego terbelah yang mengkastrasi dirinya sendiri. Ia terasing dari, meminjam istilah Jacques Lacan, yang-Simbolik berupa tatanan sosial dengan melarikan diri dari sekolah, keluarga, dan lingkuangannya.

Di satu sisi, Kafka juga bisa dipandang sebagai representasi modernitas (barat) dengan bertaburnya Beethoven, Radiohead (musik), suka membaca buku; dengan kata lain kemajuan. Sementara itu, Nakata bisa dipandang sebagai representasi tradisional sebagai olok-olok terhadap modernitas yang mengasingkan manusia urban. Gabungan unsur timur dan barat ini yang kemudian menghasilkan skema cerita yang begitu eksentrik dengan bunga surealisme.

Namun, novel ini juga bisa dipandang sebagai dekonstruksi nalar modernitas yang cenderung mengharapkan kepastian, efisiensi, tunduk pada nalar-intrumental. Murakami dengan dunia imajinalnya membangun dan merayakan ketakpastian dengan surealisme-nya sebagai sebuah anti-thesis modernitas.

Adegan seks memang terpampang dengan teramat vulgar, mungkin beberapa pembaca kita agak terganggu dengan ini. Namun, adegan sex itu pun bisa ditafsirkan sebagai olok-olok terhadap kehidupan urban yang cenderung bebas. Selain itu, tak ada konflik yang cukup berarti dalam setiap narasinya, serasa datar, tapi kita akan terobati dengan rasa penasaran untuk menguak tiap misteri yang menggantung pada tiap babnya sehingga tak ada alasan untuk menyerah menghadapi teks yang kadang membingungkan logika kita, barangkali itulah geniusnya Murakami.

Selain itu, selera humornya itu loh! Ada Johny Walker (merk whisky) yang menggorok leher kucing-kucing dan memakan jantungnya mentah-mentah (ini mah horror), Kolonel Sanders (kakek di logo KFC) yang jadi mucikari, seorang sopir komunis yang bicara kontradiksi proletar-borjuis, mahasiswa filsafat yang cantiknya minta ampun namun jadi mesin pemuas seks, dua wanita feminis yang terkena skak-mat oleh bantahan sinis Oshima.

Ya, semua ada di Dunia Kafka! Dari Kapitalisme, Komunisme, hingga Feminisme, dan itu jadi bahan olok-olok yang dengan cerdik dimanfaatkan oleh Murakami sebagai sisipan cerita yang mengundang gelak tawa. Bagi saya yang paling bikin tertawa adalah ulah Nakata yang ditemani partner mudanya, Hoshino, percakapan mereka benar-benar lucu!

Yah! Begitulah novel ini, kompleks banget, bisa dikatakan sebagai novel posmodern yang berhasil memaparkan keterasingan masyarakat urban, di sertai unsur magis yang tak masuk akal, tapi itulah yang bikin gak bosan. Barangkali begitulah hidup ini, kadang manusia berada pada batas keputusa-asaan dan harapan, manusia bergerak antara mimpi dan realitas, ada Cinta yang menggetarkan, meneduhkan, tapi juga dengan segala konsekuensi rasa sakit dan trauma yang tak terperikan.

Di situlah kita di tempa untuk menghadapi segala resiko yang di bawa oleh dunia ini, realitas yang berada dalam genggaman kesadaran kita. Maka, dalam rentetan alur kehidupan ini, kapanpun kematian akan menjemput, karena kita—meminjam kosa kata Martin Heidegger—sedang ber-ada-menuju-kematian (Sein-zum-Tode). Tapi tak hanya menunggu dan tak berbuat apa-apa, karena potensialitas kematian itulah kita jadi hidup terus, hidup kembali, meski berkali-kali jatuh tersungkur. Sebagaimana Hannah Arendt, sang filsuf perempuan yang melawan politik totalitarianisme dengan Banality of Evil-nya itu, yang mencirikan manusia dengan natalitas, yaitu kemampuannya untuk lahir kembali atau memulai suatu permulaan baru. Dalam kematian yang tampak itulah, kita selalu berjuang menemukan kebaruan, seperti penciptaan yang terus-menerus. Inilah yang barangkali, membuat hidup berasa “lahir kembali”. Sebagaimana akhir dari perjalan panjang teks yang saya telan dalam novel ini: “kau akan menjadi bagian dari dunia yang baru.”

Peresensi: Hendra Setiawan