Band Lokal Metro : Cerita Perjalanan Jatuh Bangun Nafas Band

- October 30, 2017

"Tahun 2011 kami ke Jakarta. Kami pernah merasakan tidur di masjid selama sepuluh hari, mengamen untuk biaya hidup dan makan kami." Kenang Budi ketika menceritakan perjalanan Nafas Band pada Minggu, (29/10) di Cafe Mama.

Nafas Band adalah band asal Kota Metro. Mereka awalnya adalah teman satu sekolah yang memiliki hobi yang sama, bermusik. Ketika kelas 2 SMP kemudian mereka tertarik untuk membentuk sebuah band, Liberal begitu nama yang dipilih untuk band mereka kala itu.

Selepas SMP, mereka tak lagi satu sekolah. Meskipun begitu, mereka tetap berusaha berkumpul dan bermusik, main band. Dan tahun 2009 adalah awal cerita terbentuknya Nafas Band, kemudian diresmikan pada tanggal 14 Juni 2010. Personil Nafas Band ketika itu adalah Budi (Vokal), Dhimas/Dhian Mas putra (Drummer), Azzam Maulana (Gitar), Wanda Febriansyah (Bassis) dan Novi/Eko Novianto (Keyboard) serta Ardi yang juga sebagai Gitaris Nafas Band.

"Namun, personil kita yang tidak bisa melanjutkan adalah Ardi, karena alasan yang sangat urgen. Semoga sukses di luar sana," doa Budi untuk kawannya Ardi.

Menurut vokalis yang bernama lengkap Budi Pangestoni ini, nama Nafas Band memiliki makna penting dalam perjalanan karya mereka. Nafas adalah filosofis dan komitmen yang hendak menegaskan bahwa selama mereka masih bernafas, mereka akan terus memberikan karya terbaik.

"Kami adalah teman satu SMP, kelas 2.  Awalnya bukan Nafas, tetapi Liberal. Setelah lulus SMP, walaupun beda sekolah, kita tetap ngeband. Dan tahun 2009 menjadi tahun awal terbentuknya Nafas. Nafas Band yang kami artikan sebagai hal penting dalam perjalanan karya kami. Dan selama kami masih bernafas, kami akan memberikan karya terbaik. Dan kami percaya kesempatan itu ada dengan usaha dan do’a, serta semangat yang besar selagi manusia masih bernafas." Sejarah, komitmen dan tekad Nafas Band sebagaimana ditegaskan oleh Budi, yang digambarkan dengan nama bandnya.

Budi juga menyampaikan bahwa Nafas bukan hanya sekadar grup musik tapi juga keluarga. Untuk itu, mereka berusaha untuk selalu berpikir dewasa. "Nafas ini menyatukan kita untuk terus berkarya."

Kemudian tahun 2011, mereka mengadu nasib ke Jakarta bertemu almarhum Olga Syahputra. Mereka berharap di Jakarta mereka akan berusaha memperjuangkan mimpi mereka dengan bermodal tekad dan keyakinan, termasuk salah satunya berusaha bertemu almarhum Olga Syahputra, yang diyakini bisa membantu mewujudkan cita-cita mereka. Lewat bantuan seorang teman yang bekerja di salah satu stasiun televisi mereka pun akhirnya bertemu Olga.

"Awalnya lewat salah satu teman yang bekerja di sebuah stasiun TV yang kebetulan kenal dengan Olga, memperdengarkan lagu kami ke Kak Olga, dan ternyata Kak Olga suka dan memilih lagu Terima Kenyataan."

Di Bawah Manajemen Olga Syahputra

Lewat tangan dingin Olga Syahputra, Nafas Band akhirnya mereka menemukan ruang. Selain tampil di beberapa cafe di Jakarta, mereka juga pernah diajak untuk manggung di acara pertunjukan musik yang disiarkan langsung di TV.

Dan hal yang paling mengesankan bagi Nafas Band adalah ketika mereka menggarap album pertama mereka, Seribu Janji.

" Di bawah managemen Kak Olga Syahputra,  sempat mengeluarkan album pertama, Seribu Janji, bahkan sempat dipasarkan di Malaysia. Namun, nasib belum berpihak. Kak Olga sakit, dan akhirnya dipanggil yang maha kuasa," ujar Budi sedih.

Kepergian Olga Syahputra sempat membuat mereka down, betul-betul merasa di posisi yang sangat pailit. Meski mereka merasa harus tetap bertahan dan optimis, bahwa suatu waktu mereka bisa merebut hati masyarakat tanah air.

Paska Kepergian Olga

"Paska kepergian Olga kami sempat bingung. Tahun 2013 kami pulang ke Metro dan sempat vakum selama setahun. Namun, kami harus kembali bangkit, menyusun strategi lagi, tahun 2014 balik ke Jakarta, karena harus menyelesaikan beberapa project ngamen dari beberapa cafe di Jakarta. Dan Al hamdulillah, antusiasme warga Jakarta dan tak asing dengan genre Pop Melayu, membangkitkan semangat kami kembali."

Merasa menemukan semangat itu kembali mereka kembali ke Kota Metro. Budi sebagai vokalis kebetulan juga bertemu rekannya yang hobi musik, Abe Permana, pemilik Audio Visual 99. Dari pertemuan itulah, Budi banyak menceritakan soal Nafas Band yang sempat down dan kehilangan semangat.

"Kenal Nafas Band lewat Budi, menurutnya Nafas waktu itu betul-betul down. Setelah berjuang di Jakarta dan pulang ke Lampung. Walaupun sebenarnya mereka sudah cukup bahagia karena telah meluncurkan album pertamanya. Dan Budi cerita dan menyampaikan harapannya, ingin tetap bertekad agar Nafas tetap berkarya. Budi menginginkan Nafas seperti dulu," papar Abe soal perkenalan dan awal keterlibatannya di Nafas Band.

Menurut Abe, berkah dari pertemuan itu Nafas Band kembali bersemangat. Pertengahan 2016, mereka sudah menggarap video klip, album kedua Samawa. Lagu yang mengangkat tema pernikahan.

"Samawa ini sudah disebarkan di medsos, Youtube, dan sudah ditonton 21 ribu penonton dalam 9 bulan," tambah Abe.

Senada dengan Abe, Budi juga menjelaskan alasan mengangkat tema pernikahan.
"Zaman sekarang banyak orang mulu-mulu, putus nyambung. Samawa ini adalah ajakan untuk move on dan serius, menikah saja, karena menikah itu adalah tujuannya, tujuan yang baik," terang Budi.

Berkah lain dari kebersamaan yang mereka bangun menurut Budi adalah, tahun 2017 ini mereka dipertemukan dengan Dhea, alumni D'Academy 3 (DA3) Indosiar. Dari pertemuan singkat tersebut, mereka telah membangun komitmen untuk berkolaborasi, bekerjasama dalam meluncurkan album ketiga mereka.

" Dea adalah jebolan DA3, 20 besar. Pertemuan singkat sebenarnya, tapi kita sudah merasa cocok dan sepakat kolaborasi mengeluarkan album Taqdir Cinta. Ini adalah album ketiga dalam perjalanan Nafas Band, tapi menjadi album pertama yang digarap secara kolaborasi bersama Dhea, dan rencaka akan kita luncurkan awal tahun 2018." Jelas Budi.

Ditanya soal harapan dan komitmennya dalam bermusik ke depan, Budi menjawab bahwa berdasarkan suka duka perjalanan mereka, maka semua komunitas atau grup band tak boleh menyerah, teruslah berjuang. " mari kita sama-sama berjuang!" Ajaknya.

"Lewat pengalaman kami di Jakarta, kami ingin merubah mindset, merubah cara pikir bahwa anak band tidak mesti ke Jakarta. sekarang media sosial sudah sangat terbuka, kita bisa berkarya dari daerah kita masing-masing, dan mengangkat nama daerah untuk bisa go nasional. Tidak kebayang kan jika semua band pergi ke Jakarta." Budi menutup obrolan.

Bravo Nafas Band, jayalah terus musik Indonesia! (RU/Omah1001.net)