E-Book: Jagad Diri

- October 05, 2017
E-Book: Jagad Diri, Omah1001
Buku yang berjudul asli Ma'rifah al Dzat tulisan M.T. Mishbah Yazdi yang kemudian diterjemahkan menjadi Jagad Diri ini adalah buku yang bisa menjadi pengantar untuk bisa memahami aliran filsafat intuisionisme. Buku ini dalam versi PDF bisa anda baca dalam link yang di share pada bagian akhir tulisan ini.

Berikut review singkat Buku Jagad Diri yang terdiri dari 4 (empat bab) ini disajikan oleh saudara Dex Abdul Khadir Khaidar untuk anda.

Pertama, Kesempurnaan. Terdapat banyak perbedaan pandangan tentang defenisi dari kesempurnaan itu sendiri,namun dalam pembahasan tersebut kesempurnaan didefenisikan sebagai suatu kekuatan(daya) yang ada dalam  suatu wujud(eksistensi) yang dengan daya tersebut ia dapat menjadikan sebagai factor pendorong untuk melakukan  gerak dalam meraih kesempurnaan hakiki,namun jika kesempurnaan tersebut dibandingkan dengan wujud yang lain maka terdapat perbedaan anatara kesempurnaan pada setiap wujud  dan pada saat yang sama ia tidak dianggap sebagai kesempurnaan  ketika dibandingan dengan wujud yang lain

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa kesempurnaan itu sendiri bergradasi atau bertingkat, kesempurnaan yang ada  pada hewan tidak sama seperti kesempurnaan yang ada pada manusia atau kesempurnaan yang ada pada tumbuhan, perbedaan tersebut terletak pada batasan esensial yang ada pada suatu wujud itu sendiri, wujud itu akan mengalami perubahaan jika ia bias keluar dari batasan itu sendiri

Suatu gerak menyempurna adakalamya bersifat alami dan nonalami. Hewan dan tumbuhan dalam gerak menyempurna bersifat alami mengingat karena hewan dan tumbuhan tidak dapat menyadari keberadaan dirinya dalam melakukan gerak itu sendiri, berbeda halnya dengan manusia, manusia dalam proses gerak menuju kesempurnaan sangatlah bergantung pada daya persepsi atau pengetahuan yang ia meiliki sehingga dengan pengetahuan itu dapat memberi kesadaran pada manusia lalu melahirkan kehendak untuk memilih jalan mana yang mesti ia tujuh dalam meraih kesempurnaan insaninya.

Kedua, Fitrah. Di dalam diri manusia terdapat beragam tendensi ataukecenderungan yang beragam kecenderungan tersebut sebagai daya atau faktor pendorong dalam proses  meraih kesempurnaan.

Didalam diri manusia terdapat tendensi atau kecenderunganuntuk mengenali dan mengetahui. Fakta ini telah terjadi pada manusia dalam masa kekanak-kanakan, ia akan selau bertanya pada ibunya “Bu, ini apa? Bu, itu apa?" dan seturusnya, semakin banyak informasi yang ia dapat maka semakin banyak pula pertanyaan yang ada di kepalanya, sasaran dari rasa ingin tahu tersebut  tetap eksis dan selalu mencari kepuasan dalam rasa keingintahuan yang tak ada batasnya.

Alat yang digunakan dalam tendensi tersebut adalah melalui indra lahiriahnya, imajinasi dan akal dengan alat yang dimiliki tersebut (manusia) dapat mengenali hubungan yang mengikat  antara dua objek yang di hadapanya, ia lantas menyimpuklan adanya hubungan kausalitas antar objek yang satu dengan objek yang lainnya, dengan  adanya tendensi rasa keingintahuan tersebut manusia tidak akan merasa puas dengan pengetahuan yang ia dapatkan sebelumnya dan terus berusaha menyingkap rahasia yang ada di alamini, karena dalam proses mengenali suatu objek atau kejadian hanya dapat dikenali dari segi sebabnya maka proses pengenalan pengetahuan manusia akan berakhir pada sebab primer semua objek yang ada di hadapnnya

Manusia itu secara fitrah memang memiliki beberapa kecenderungan selain kecenderungan untuk ingin tahu, manusia juga punha kecenderungan berkuasa, kecenderungan cinta dan penghambaan, kecenderungan mencari kenikmatan, dan kecenderungan yang tak terbatas.

Di Buku ini, dapat kita simpulkan bahwa di dalam lubuk hati yang paling dalam adanya tendensi di dalam diri manusia cenderung kearah yang tak terbatas ia meliputi tendensi mengathui, berkuasa, cinta dan kebahagian, pemuasan dari beragagam tendensi tersebut hanya terpuaskan apabila manusia berhubungan dengan sumber Sang Pemilik kebahgaiaan, ilmu kekuasaan dan cinta, sebab di dalam diri manusia terdapat kecenderungan atau keinginan terhadap sesuatu yang sempurna yang  tak terbatas, maka mestinya ada suatu objek yang sempurna dan yang tak terbatas itu.

Ketiga, Kedekatan Ilahiah. Dalam pembahasan bab sebelumnya, Buku ini telah menjelaskan bahwa dalam memenuhi segala kecenderungan yang ada pada manusia tidak lain adalah hanya kepada Yang Maha Tak Terbatas. Allah-lah yang dapat memenuhi segala kecenderungan yang ada pada manusia, sebab di dalam diri manusia itu ada kecenderungan tak terbatas, maka yang menjadi pengobat  adalah sesuatu yang tak terbatas dan yang sempurna juga yakni Allah. Untuk menuju kepada yang tak terbatas juga mestinya membangun kedekatan hubungan  dengan Yang Maha Tak terbatas itu sendiri, karena dalam pandangan Islam,  Allah-lah jalan sekaligus tujuan yang dituju, adapun cara yang mendekatkan diri pada Allah adalah dengan  menjadi hamba yang tunduk, di mana pengetahuan sesorang telah sampai pada mengenal Allah dan kemudian hatinya telah meyakini berdasarkan capaian pengetahuyan itu,

Keempat, Kehendak dan Persepsi. Dari pembahasan 3 (tiga) bab sebelumnya, dijelaskan bahwa proses perjalanan menuju kesempurnaan, pada substansinya adalah proses pensucian jiwa atau diri manusia. Dalam gerak menuju kesempurnana pengenalan secara makrifat atau pengetahuan tentang Allah sangatlah urgen sebelum  seseorang melakukan jalan penyucian diri dan bergerak menuju Allah, karena pengenalan secara  pengetahuan akan menghasilkan keyakinan yang tanpa ada keraguan sehingga melahirkan kehendak dalam melakukan proses penyucian diri itu sendiri, atau dengan bahasa Islam, ilmu akan memperkokoh iman sesorang dalam merealisasikan kehendak dan dalam mengamalkan setiap tindakan.


Download pdf-nya DI SINI