Abdul Sang Pemimpi(n) Kota

- October 26, 2017

Dalam remang-remang lampu teras belakang rumah mewah, dua sahabat lanjut usia terlihat sedang menikmati kopi dan pisang goreng yang tersaji di atas meja besar dengan ragam hias ekspresi tanaman menjalar, khas ukiran Jepara.

"Dul, kamu kan orang kota. Punya jabatan lagi." Somad mengagetkan Abdul.

"Iya, terus kenapa?" Abdul heran, tak mengerti arah obrolan Somad.

Somad membiarkan Abdul dengan mulut ternganga beberapa saat, sembari ia meneguk kopi pahit dan mengunyah pisang goreng yang ada di hadapannya.

"Kenapa dengan orang kota?" Abdul dengan setengah melotot kembali mengulang pertanyaannya.

"Tak perlu tersinggung. Orang kota itu lebih sabar, lebih beradab karena orang kota pasti lebih terdidik dan berpengatahuan. Iya to?"

"Iya, terus kenapa dengan orang kota sebenarnya?"

"Sabar to Dul, Aku tahu kau orang kampung yang baru jadi orang kota. Tapi lagak mu dah ngelebih-lebihin orang kota, meski pengetahuanmu masih kayak orang kampung yang tak sekolah, karena di kampungnya memang tak ada sekolah!"

"Sompret lah!"

"Orang kampung itu bagus loh, hidupnya masih guyub, membaur dengan warga, suka bergotong-royong, kekeluargaannya kental, sopan dan suka memberi pertolongan walaupun mereka memiliki keterbatasan mengakses informasi dan pengetahuan."

Abdul diam, sengaja membiarkan Somad untuk melanjutkan kata-katanya.

"Nah, kau ini punya cara pikir masih seperti orang yang terisolir dari pusat informasi dan pengetahuan, tak bisa menggunakan media sosial apalagi hendak memanfaatkannya untuk hal-hal positif dan bermanfaat. Meski lakumu sudah melampui orang kota, sehingga akhirnya terlihat norak dan bikin eneg." Lanjut Somad.

"Lah, aku ini sudah tua, Mad. Tak mungkinlah aku ikut aktif di media sosial, pake instagram terus foto-foto dan memamerkannya ke publik, seperti para Senator itu, aktif main facebook atau twitter. Biarlah mereka saja!"

"Nah, itulah masalahnya. Ootakmu tak pernah kau maksimalkan. Padahal kau jago ngitung jumlah kabing di kampung. Mestinya kau sebagai pimpinan di kota ini bisa menggunakan para pegawaimu untuk melakukan hal-hal yang menurutmu tak bisa kau lakukan itu. Jadi kerjamu bukan hanya terkesan menggusur, merobohkan bangunan, kemudian membangunnya lagi. Kau akan terlihat pintar dan visioner, dengan berusaha mencari bibit-bibit unggul di kota ini dan mendorong mereka untuk pentas di ajang kompetisi nasional dan internasional!"

"Istilah kerennya, bukan hanya membangun fisik kota tetapi juga membangun SDM-nya!" ujar Somad

"Ah, kalo itu mah sudah, Mad."

"Bacotmu, Dul. Main klaim saja kamu. Aku baru saja dengar, ada putra berbakat dari kota ini yang gagal mengikuti acara bergengsi di Malaysia, hanya karena kendala teknis. Padahal dia sudah lolos seleksi, bersaing dengan 3.000 peserta yang mendaftar dalam acara keren itu. Dia akan hadir di ajang simulasi akademis MUN (Model Persatuan Bangsa-Bangsa) internasional yang bertujuan memperkenalkan bagaimana PBB bekerja, sekaligus melatih kemampuan leadership (kepemimpinan), kemampuan analisis, dan public speaking serta melatih kemampuan para peserta untuk menyelesaikan masalah internasional dan mengembangkan kemampuan diplomasi."

Abdul mengangkat mukanya yang mulai keriput di makan usia, kaget mendengar perkataan Somad.

"Sudah, tak usah berakting kau! Norak!!"

"Sungguh, Mad. Aku tak tahu informasi itu, kenapa anak itu juga tak menghadap atau pihak sekolah melapor kalo ada kendala teknis dengan keberangkatannya! Nanti, aku panggil pihak sekolah, kenapa tak melapor."

"Kau ini, Dul. Selain banyak bacot dan jago akting, rupanya jago ngelles juga! Sudah telat! Makanya jadi pemimpin itu yang aktif, kalo tak bisa aktif karena usia sudah udzur, maksimalkan tuh anak buah, biar bekerja lebih terarah. Jangan nunggu masyarakat ngadu, sumpah jabatan kalian itu sebagai pelayan, melayani. Makanya, harus proaktif. Kota ini kota pendidikan, kau sebagai pemimpin harus menunjukkan peran kota ini untuk mendorong pencapaian visi itu, minimal punya inisiatif merawat dan membina putra-putri kota ini yang memang sudah cerdas, berbakat dan berprestasi."

Abdul diam saja, mendengar nasihat Somad sahabatnya dari kampung.

Suasana hening.

Layar ditutup, lampu diyalakan. Pertunjukan selesai. Orang-orang bubar dan kembali ke rumah masing-masing.

Tale yang baru pertama kali melihat pertunjukan drama, bertanya-tanya apakah pertunjukan yang baru saja disaksikannya itu, nyata atau bohongan.


Rahmatul Ummah, Penyuka sandiwara radio dan sedang belajar menulis naskah drama kepada Gundul. Tinggal di Yosomulyo.





Advertisement