Tanggungjawab

- September 13, 2017

Pernahkah terpikir, bahwa dalam kesalahan orang lain ada kesalahan kita, kesalahan karena membiarkannya salah atau tak mampu membuatnya menjadi benar. Tak ada segala sesuatu yang berdiri sendiri, selau hadir berpasangan, baik-buruk, miskin-kaya, tinggi-rendah, dan seterusnya. Pasangan-pasangan tersebut bukan untuk membandingkan mana yang terbaik, tetapi saling melengkapi, saling menguatkan dan saling memberi manfaat.

Bila tak ada yang buruk, kemana yang baik hendak mengajak, andai tak ada yang miskin bagaimana yang kaya hendak berderma?

Begitulah. eksistensi kemanusiaan kita selalu diukur dengan sejauhmana kita berguna dan bermanfaat bagi orang lain, bagaimanapun keadaan dan apapun profesi kita. Orang baik tentu akan lebih bermanfaat ketika kehadirannya bisa membuat orang yang kurang atau tidak baik menjadi baik, tak terbayangkan betapa sedih dan tak bergunanya si kaya, tatkala orang-orang miskin tak lagi mau menerima bantuannya.

Maka, sungguh benarlah seruan Tuhan yang menegaskan predikat khairu ummah kepada manusia yang keluar untuk menyeru sesamanya kepada kebaikan (ma'ruf) dan menghalangi orang lain melakukan kerusakan atau keburukan (munkar), tentu dengan cara yang hikmah (bijak), nasihat yang baik dan dialog yang santun.

Setiap orang wajib mengambil peran dan tanggungjawab, selama ia masih mau disebut sebagai sebaik-baik manusia (khairunnas), manusia yang dibutuhkan keberadaannya karena banyak memberi manfaat atas sesamanya, ada-nya membuat bahagia dan setiap orang akan merasakan kehilangan dengan ketiadaannya.

Bukan sebaliknya, sebagaimana istilah populer di kalangan santri wujuduhu ka’adamihi, keberadaannya sama dengan ketiadaannya. Realitasnya ada, tapi sama saja dengan tidak ada. Hidup tapi tak berguna, tidak punya kontribusi sedikit pun, ada yang menyebut manusia seperti ini manusia mubah, adanya tidak menambah, perginya tidak mengurangi. ada tak membuat bahagia, hilang tak membuat sedih.

Bahkan, ada yang lebih parah lagi adamuhu khairun min wujudihi, ketiadaannya lebih baik daripada keberadaannya. Kehadirannya tidak diharapkan, bahkan orang lain sangat senang jika dia tidak ada. Sering membuat onar, menjadi biang kerok dari setiap masalah. Manusia seperti ini, bukan hanya gagal menjadi penyelesai masalah, melainkan justeru lebih sering ada sebagai  masalah yang harus diselesaikan.

Nah, barangkali takaran eksistensi kemanusiaan minimalis adalah, jika tak bisa membuat orang lain bahagia, maka minimal tak membuatnya susah. Jika tak mampu membantu orang lain menyelesaikan masalahnya, minimal tak menjadi biang kerok yang justeru memperumit masalah tersebut.

Akan lebih baik, andai setiap kita sadar, bahwa dalam kemiskinan, kebodohan, kejahatan dan kejelekan orang lain tertulis tanggungjawab kita masing-masing, maka persoalan umat dari berbagai segmentasinya akan bisa ditunaikan dan diselesaikan secara baik, karena semua orang akan lebih banyak bicara tanggungjawab daripada terus menyalahkan dan mengutuk kegelapan.

Maka, tepatlah kiranya apa yang disampaikan Rasulullah, bahwa "ketika kamu melihat sesuatu yang munkar (buruk), maka rubahlah dengan pelukan penuh kasih, jika kamu tak memiliki kemampuan nasihatilah dia dengan nasihat yang baik, jikapun engkau tak sanggpup jua, maka doakanlah ia dengan penuh kasih sayang, semoga menjadi orang baik, tetapi ingatlah, merubah sesuatu hanya dengan berdoa adalah selemah-lemah iman."

Manusia adalah satu kesatuan yang utuh, meniadakan dan tak menganggap penting orang lain, sama artinya menghilangkan bagian-bagian penting kemanusiaan. Tak ada kehidupan yg layak diamputasi, setiap yg tercipta memiliki hikmah dan pelajaran sendiri-sendiri, apapun kealpaan manusia, di situ ada tanggung jawab manusia lainnya yg tak selesai.

Terlalu sering kita menyalahkan orang lain tanpa mau disalahkan. Suami menyalahkan istri, istri menyalahkan suami, orang tua menyalahkan anak, anak menuduh orang tua kolot, penguasa menyalahkan rakyat, rakyatpun terjebak pada krisis kepercayaan terhadap kekuasaan. Alangkah indahnya, tatkala kita berebut untuk berkata: "Oow... ternyata ini salahku, ada tanggungjawab yang tak ku tunaikan!!"

Maka tanggungjawab yang tak kalah pentingnya adalah, mengobati rasa yang "kesemutan" atau bahkan telah "mati" dengan sekuat tenaga menepuk dan mengagetkannya dengan kata-kata, "ini tanggungjawabku! keberadaanku tidaklah sama dengan ketiadaanku!!"