Sirkus Pohon; Humanisme dan Badut Politik Di Antara Ritme yang Gagal

- September 04, 2017

Novel ini secara apik dimulai dengan menceritakan keberadaan beberapa pohon di halaman rumah lelaki Melayu yang pengangguran, Sobridin. Lelaki ysng hanya punya ijazah sekolah dasar, sehingga kesulitan mencari kerja. Ingin protes terhadap iklan lowongan pekerjaan, yang diskriminatif terhadap lulusan SD, tetapi tak cukup memiliki keberanian menyuarakan protesnya itu, karena Ia menyadari semua karena kesalahannya tak sekolah serius, melawan nasihat orang tua, mengkhianati guru dan bergaul dengan temannya Taripol yang bergajul.

Halaman awal karya ke-10 Andrea Hirata memang sudah cukup memicu rasa penasaran, selain menceritakan beberapa pohon dengan keragaman karakter masing-masing pohon. Di ruang lain, dengan cukup ciamik Andrea Hirata menyuguhkan kisah lain, soal dua anak kelas 5 SD, Tara dan Tegar, yang bertemu di Taman Bermain Pengadilan Agama, ketika orang tuanya sama-sama mengikuti sidang perceraian. Tara dan Tegar yang kemudian baru bertemu lagi setelah kelas akhir SMU dan baru saling mengenali setelah mereka lulus dan dipertemukan dalam satu pekerjaan yang sama. Sirkus Keliling!

Kisah dalam novel ini, betul-betul menyuguhkan perjalanan yang penuh perjuangan. Kisah tentang kejelataan yang nyaris membuat putus asa, pertobatan, humanisme hingga penantian dan kesetiaan, yang dipeluk dan didekap dengan penuh keyakinan, sebagai cinta yang pasti bersama. Termasuk juga sindirian halus bagi para politisi yang masih saja percaya hal-hal mistik dan hobi merusak tanaman dengan memasang poster atau alat peraga kampanye di pohon.

Humanis

Sirkus Pohon ini juga berhasil menghidangkan realitas sosial dengan baik. Lingkungan yang selalu penuh kecurigaan terhadap orang-orang yang distereotypekan jahat, karena Ia pernah terlibat atau menjadi pelaku kejahatan. Potret realitas tersebut disuguhkan dalam cerita Taripol yang "terlibat" pencurian corong TOA yang diinisiasi oleh Geng Granat dengan Taripol sebagai gembongnya. Masyarakat tak lagi mau menerimanya, bahkan keluarganya sendiri mengusirnya dari rumah, khalayak selalu menatapnya penuh kecurigaan, para orang tua tak sudi anak-anaknya berkawan-karib dengannya, apalagi sampai memilihnya menjadi menantu. Pekerjaanku menjadi semakin sulit didapat.

Begitulah gambaran kehidupan umumnya, sangat tak adil bagi mereka yang hanya lulusan SD terlebih telah dicap sebagai penjahat atau anggota dari geng pencuri.

Namun, Sirkus Pohon ini justeru membalik logika yang umum itu, bahwa lulusan SD dan orang yang pernah terlibat kejahatan berhak juga mendapatkan kepercyaan dan pekerjaan, bahkan berhak pula mendapatkan cinta. Ketika Hobri yang bolak-balik melamar pekerjaan dan berakhir dengan penolakan, dketia ia berada dalam posisi yang sangat terpuruk, justeri di  saat itulah, ia mendapatkan pekerjaan, kepercayaan termasuk juga mendapatkan cinta yang telah lama ia pemdam kepada penjaga toko, Dinda namanya.

Lihatlah dialognya yang sangat menggugah, Sobridin diwawancara ketika melamar kerja (hal. 47 - 52).  Sedikit penulis kutip,

"Apakah Ibu percaya kepadaku?"
"Apakah Bung percaya kepada Bung sendiri?"
Aku terkesiap.
"Ibu akan mendengar hal-hal buruk yang dikatakan orang tentangku."
Ibu tersenyum.
"Orang-orang yang berkata tentang diri mereka sendiri, melebih-lebihkan, orang-orang yang berkata tentang orang lain, mengurang-ngurangi."

Begitulah penggalan dialog Sobridin dengan Ibu Bos, pemilik Sirkus Keliling. Meski masih tergambar keragu-raguan Sobri, Ibu Bos berusaha meyakinkannya bahwa ketika Ia mampu percaya pada dirinya sendiri, tak perlu hirau dengan pandangan orang lain yang selalu berusaha menjelekkannya.

Kritik telak atas realitas sosial, di mana masih banyak orang yang selalu berkata buruk atas pribadi orang lain, apalagi jika orang tersebut menjadi rival abadinya dalam berebut pekerjaan atau pengaruh, hingga menjadi sangat sulit bagi orang tersebut (apalagi dia mantan orang yang memang pernah dinilai jahat) untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.  

 “... kini aku mengerti mengapa Taripol tak pernah berhenti mencuri. Aku juga tahu ada berapa lagu yang mengisahkan susahnya orang yang terlanjur cemar namanya untuk diterima kembali...” Jerit batin Sobridin di bagian yang lain. (hal. 46).

Maka, cara pandang berbeda dalam Sirkus Pohon ini, terhadap keburukan si pelamar kerja (padahal dia sendiri telah mengakui kejahatannya), termasuk pengalaman yang tidak dimasukkan sebagai syarat utama untuk diterima bekerja adalah cara pandang lebih ramah dan humanis, apalagi jika dibaca secara seksama, tergambar jelas bahwa percaya diri, bertanggung jawab dan kemauan keraslah yang mesti menjadi modal bekerja.

Badut Politik

Sisi lain yang layak diapresiasi dalam Sirkus Pohon ini adalah sindirian Andrea Hirata atas lelaku para politikus mulai dari calon presiden hingga calon kepala desa yang selalu berebut untuk memasang posternya di pohon (baca; pohon delima) sekaligus perilaku mistik mereka.

Pohon dan hal-hal yang berbau klenik memang sangat akrab dengan dunia politikus. Meskipun motifnya tak sama persis dengan apa yang diceritakan dalam novel Sirkus Pohon ini. Namun, hampir di setiap momentum Pemilu, wajah para politikus nyaris tak pernah bisa dilepaskan dari urusan pohon. Tak lengkap rasanya Pemilu, tanpa memajang posternya di pohon. Singkatnya, di mana ada pohon di situ ada wajah politikus. Begitupun halnya dengan perdukunan, bukan berita baru, para politikus yang bolah-balik datang ke paranormal dan dukun.

Pada bagian ini, nampak keinginan kuat dari penulis novel ini menyajikan paradoks-paradoks tingkah politikus, di satu waktu sering terlibat dalam kegiatan atau gerakan menanam pohon, tetapi pada waktu yang lain mereka justeru sering merusak pohon-pohon penghijauan, menyakiti tanaman. Pada satu sisi ingin tampak cerdas, namun pada sisi lain justeru tuna-pengetahuan, irrasional dan tidak logis. Sehingga layaklah dilabeli sebagai badut politik, yang hanya berperan seolah-olah. Seolah-olah baik, seolah-olah peduli, tapi hanya topengnya, berbanding terbalik dengan badut sirkus.

Begitulah, novel Sirkus Pohon ini berhasil menjadi kitab yang bisa diinterpretasikan secara beragam, sayang di beberapa bagian ada beberapa hal yang mengganggu karena (barangkali) terlalu asyik bermain dengan waktu. Novel ini tak mulus mengatur ritme dan jeda waktu antara masa tahanan Taripol (vonis 1 tahun) dan masa kerja Hobri. Kreancuan itu bisa ditelusuri dari mulai waktu Hobri yang terusir dari rumahnya kemudian diterima cintanya oleh Dinda, dan pada saat yang bersamaan juga diterima kerja di sirkus keliling (hal. 43 – 52), momentum yang sangat membahagikan bagi Hobri dimana Taripol, sahabatnya, baru menjalani masa tahanan dua bulan (hal. 43).

Masa kerja yang dijalani Hobri tentu bukanlah masa yang singkat, sampai ia mampu membeli tanah, membangun rumah (hal. 91), dan menempatinya (hal. 115), apalagi ketika itu usaha sirkus pohon baru dirintis kembali, kejanggalan tambah merusak ritme ketika dihubungkan dengan jumlah lukisan Tara yang telah mencapai 86 (hal. 114), melukis sejak kelas 5 SD. Ketika Hobri diterima bekerja, jumlah lukisan Tara itu sudah menghasilkan 48 wajah dan Tara sedang duduk di kelas 2 SMP (hal. 93).

Lantas kenapa tiba-tiba berbelok ke cerita Taripol. Taripol bebas dan bergabung bekerja di sirkus keliling millik Ibu Bos (hal. 177), justeru ketika Tara dan Tegar telah duduk di kelas 3 SMA (hal 113 – 114 dan hal. 118), artinya hampir 4 tahun sejak Hobri diterima bekerja, ketika Tara menjadi mandornya, dan sedang duduk di kelas 2 SMP.

Gangguan berikutnya adalah, rentang masa kampanya pemilihan kepala desa yang terlalu mengada-ngada. Sangat lama dan tak masuk akal, menjadikan Novel Sirkus Pohon ini menjadi tak asyik karena terkesan memaksakan diri, membahas hal-hal yang tak ditulis dengan basis data yang memadai, padahal berdasarkan pengakuan Andrea Hirata, ini adalah novel yang digarapnya paling lama di antara sembilan novelnya yang lain, termasuk Laskar Pelangi yang menghebohkan itu.


Akhirul Kalam, Novel Sirkus Pohon ini tetap layak dibaca oleh kawan-kawan semua terutama untuk menjawab hal-hal yang saya sampaikan tadi, apakah saya yang keliru menghitung, atau novel ini memang gagal dibandingkan novel-novel lain karya Andrea Hirata.
Advertisement