Sekolah Moral

- September 29, 2017
 

Anak-anak usia sekolah menengah pertama itu dengan santai menghisap dan menyemburkan asap di rumah penduduk dekat sekolahnya. Tak ada rasa canggung, meski beberapa orang tua memperhatikan, bahkan saat guru mereka lewat tak ada rasa sungkan apalagi takut, tetap jojong merokok, mereka terlihat sangat mahir dan terbiasa.

Pemandangan seperti menjadi pemandangan yang tak asing, terjadi setiap hari setiap kali saya mengantar anak sekolah.

Salah? Tentu saja tidak, di era generasi milenial di mana kenyamanan dan kebebasan harus dinikmati secara terbuka sebagai hak, di mana orang tua dianggap kolot ketika masih memegang teguh tradisi nenek moyangnya soal sopan santun dan menghormati dan orang tua tiba-tiba menjadi ikut menjadi milenialis (sebutan untuk pengikut era milenial) dengan rasa bangga melihat anaknya yang masih usia sekolah dasar sudah bisa membawa sepeda motor, dan merasa anak-anaknya baru menjadi "laki-laki" ketika pandai berkelahi dan tentu saja merokok.

Salah? Sekali lagi tidak! Ketika sekolah sudah kehilangan fungsinya, karena dirampas otoritasnya oleh para orang tua atau wali murid, untuk memberikan hukuman kepada siswa-siswa yang melanggar aturan sekolah. Dan, sekolah sudah mulai lumpuh perannya untuk mencerdaskan, bahkan hanya sekadar untuk mendapatkan nilai bagus. Sehingga harus memasrahkan siswa-siswanya untuk percaya dan memilih tempat-tempat les, kursus dan bimbel ketika akan menghadapi ujian kelulusan, apalagi hendak menanamkan kemandirian, sopan-santun dan moral.

Salah itu, ketika kita sudah kewalahan mengatasi tuntutan anak yang menginginkan ini dan itu. Ketika anak, sudah membuat kita malu karena sudah mulai mencuri untuk memenuhi kebutuhan rokoknya. Ketika anak sudah mulai meninggikan suaranya berlipat-lipat lebih tinggi dari suara kita sebagai orang tua, ketika gagal memenuhi keinginannya membeli sepeda motor dan hape yang mahal yang menurutnya menjadi ukuran 'kegagahan'nya sebagai generasi milenial.

Salah itu ketika kita mulai menyalahkan diri sendiri dan meratapi nasib, ketika anak sudah tak lagi hanya sekedar menghisap rokok, menjerit dan merintih-rintih dengan bulir-bulir keringat yang menderas dari setiap pori-pori kulitnya karena sakau, candu.

Ketika kita mulai mencari kambing hitam dan menuding orang lain sebagai biang kerok dari keterpurukan moral anak kita, menuding sekolah tak bertanggungjawab, menuding anak kita salah bergaul, teman-temannyalah yang merusak kehidupannya, dan kita tidak pernah bertanya "di manakah kita saat itu, ketika anak-anak belum separah itu, belum menjadi anak yang durhaka yang berani membentak-bentak orang tuanya, sebelum anak-anak itu belum menghisap obat-obatan yang akhirnya menghilangkan kewarasannya?"

Salah itu ketika kita menganggap sekolah sudah tak berhasil mendidik anak-anak kita dan mulai melirik pondok pesantren sebagai pelarian, seolah-olah pondok pesantren hanyalah pantas sebagai tempat terakhir sekolah anak kita, itupun karena sekolah-sekolah umum sudah tak mampu mendadani moralnya, pesantren adalah tempat anak nakal.

Kita seringkali abai, bahwa sekolah bukanlah faktor tunggal yang bisa membentuk cara pikir, cara ucap dan sikap anak kita, ada masyarakat di mana si anak bergaul-bermain, ada keluarga di mana si anak kembali, keluarga tempat mengadu, curhat dan melepas penas, dan kita gagal memaksimalkan peran dan fungsi, baik sebagai anggota masyarakat yang wajib peduli bukan hanya kepada anak kita tetapi juga kepada anak orang lain, maupun sebagai keluarga yang mestinya menjadi tempat nyaman untuk bercerita, berkeluh kesah, dan berbagi masalah si anak.

Kita terlalu sering tuna-kepedulian untuk mengajarkan anak dengan tindakan, kita hanya tahu bahwa pelajaran bagi anak itu adalah memarahinya dengan kata-kata yang membuatnya terluka. Barangkali teramat sedikit orang tua mengajarkan anaknya bersyukur dengan belajar berbagi mendatangi orang-orang susah, anak-anak yatim dan para anak-anak usia sekolah di lampu-lampu merah. Bahwa, ada banyak di luar sana orang yang bernasib jauh lebih buruk dari keadaan si anak.

Barangkali tak ada yang mengajaknya anaknya berjalan, kemudian membebaskan anak-anak itu memberikan penilaian terhadap anak-anak seusianya yang merokok, yang kebut-kebutan di jalan padahal belum punya SIM. Mengajak anak-anaknya ke Lapas Narkoba dan pusat-pusat rehabilitasi dan membiarkan anaknya memahami langsung apa dampaknya mengonsumsi obat-obatan terkutuk itu.

Barangkali kita terlalu sering melihat, ada banyak pendidik dan orang tua yang suka meminta anak-anak berderma dengan mengumpulkan sebagian uang jajannya untuk disumbangkan ke panti asuhan, tetapi kita jarang melihat pendidik yang mengajak anak-anak itu terlibat berbagi, sehingga bisa tersambung rasa simpati dan empati.

Ada banyak pelajaran pada setiap tempat dan waktu dalam kehidupan yang bisa mengguggah kesadaran, untuk bersyukur, berempati dan bersimpati. Ada banyak cara untuk mengajarkan kebaikan dan kebenaran kepada anak, dengan mengajak mereka melihat dan menilai kehidupan, mengerti hal-hal buruk dan akibatnya seandainya hal buruk itu mereka yang melakukan.

Untuk bisa paham sakitnya dampak dari ucapan mencaci dan sikap buruk kepada orang lain, sebenarnya tak perlu banyak membaca buku dan menghabiskan waktu di bangku sekolah, cukup kita memosisikan diri sebagai korban yang terkena dampak dari cacian dan perilaku buruk itu.

Selain pesantren, sungguh saya memang lebih percaya kehidupan di luar institusi pendidikan formal untuk bisa mengajarkan nilai dan moralitas. Sekolah itu adalah kehidupan itu sendiri, bukan sekat-sekat ruangan kecil yang lebih sukses menjadikan kita picik dan kerdil justeru dengan selalu merasa lebih pintar.