Rendah Hati

- September 12, 2017

Rendah hati berbeda dengan rendah diri, percaya diri pun berbeda dengan sombong. Rendah hati adalah sikap dan sifat pribadi yang bijak, dapat memosisikan sama antara dirinya dengan orang lain, merasa tak lebih pintar, lebih mahir, lebih baik atau lebih mulia dan tinggi. Orang yang memiliki sifat rendah hati, bisa menghargai orang lain dengan tulus.

Rendah hati berarti mengakui keterbatasan dan kekurangan diri, sehingga ia memerlukan orang lain untuk membantunya, lawan rendah hati adalah tinggi hati atau sombong.

Kerendahhatian ini, dicontohkan oleh Imam Syafi'i setiap kali memberikan pengantar atas karya-karyanya, semisal bisa kita baca salah satunya lewat kalimat: “jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku," dalam pengantar Kitab al Umm, karya beliau yang terbesar.

Bahkan, bukan hanya Imam Syafi'i, empat Imam Madzhab lainnya dikenal memiliki sikap rendah hati yang luar biasa, tak jarang mereka dengan jujur saling memuji dan mengungkapkan kelebihan dan keahlian masing-masing, meskipun di antara mereka ada yang terpaut sangat jauh usianya, bahkan ada yang berstatus guru dan murid.

Para ilmuwan umumnya memahami, semakin banyak yang mereka ketahui, semakin paham mereka bahwa sesungguhnya semakin banyak  yang mereka tidak tahu, pengetahuannya ibarat setetes air di tengah samudera.

Berbeda halnya dengan mereka yang sombong, selalu merasa di mana pun tempat dan waktu tak ada orang yang melebihi dan melampuinya. Sikap yang persis dipertunjukkan oleh Iblis, ketika menepuk dada merasa lebih mulia daripada Adam, hanya lantaran Iblis berasal dari api dan Adam berasal dari tanah, atau seperti Fir'aun, penguasa yang mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa absolut serupa Tuhan, seakan kekuasaannya tanpa batas dan akhir.

Sikap superior Iblis dalam kisah awal mula penciptaan Adam, saat ini banyak dipertontonkan dalam perilaku manusia modern, meski dalam konteks yang berbeda-beda.

Ilmuwan merasa lebih mulia dari tukang kebersihan di kampus, penjual beras lebih mulia daripada petani, penumpang ojek lebih mulia daripada tukang ojek. Merasa lebih mulia lantaran perbedaan profesi, perbedaan penampilan atau barangkali karena perbedaan pengalaman dan pengetahuan.

Padahal, saat Tuhan menegaskan kemuliaan, Tuhan tak pernah menunjuk penampilan (profesi, jabatan dan materi) atau bahkan pengetahuan (ilmu), melainkan Tuhan menunjuk pada hati dan amal kebajikan yang dilakukan. "Sungguh Tuhan tak menilai (kemuliaan) itu dari jasad (material) dan tidak pula pada penampilan (retorik dan gaya), tetapi Tuhan itu menilai hati (qulb) dan kebajikan (amal)." (Al Hadits).

Amal dan iman senantiasa bergandeng, pun sama halnya dengan pengetahuan (ilmu atau alim) yang selalu bergandeng dengan kebijaksanaan (hakim), nyaris tak ada iman tanpa amal, sebagaimana juga ilmu tanpa sikap yang bijak, oleh karena itu ilmu dikenal juga dengan kearifan (dari kata 'arafa) artinya arif (orang yang dikenal), bijak sebagai orang yang berilmu.

Tak ada pengetahuan (ilmu) yang memerintahkan untuk merendahkan atau menganggap sepele orang lain, tak ada juga panutan atau ajaran dari para ilmuwan yang mengajarkan setiap muridnya untuk menilai orang mulia dan hina karena perbedaan latar belakang profesi dan pendidikannya. Pengetahuan justeru mengajarkan kerendahhatian, kesederhanaan dan kesantunan dalam setiap berucap dan bersikap.

Klaim Iblis lebih mulia daripada Adam, hanya karena perbedaan muasal dari tanah dan api, jangan sampai kita tiru lewat praktik-praktik mengklaim diri lebih mulia dari orang lain hanya karena perbedaan profesi, perbedaan pedidikan, perbedaan latar belakang suku, agama atau warna kulit.

Mengukuhkan superioritas hanya karena perbedaan latar tersebut, bukan hanya setali tiga uang dengan perilaku Iblis, melainkan juga menegaskan bahwa sejatinya kita adalah orang yang anti-perbedaan, menolak sunnatullah sekaligus gagal memaknai pluralitas dan multikulturalitas, dimana perbedaan semestinya diakui sebagai sebagai sesuatu yang niscara dan bisa mencipta harmoni-keindahan.

Tabik.