Raja Midas

- September 10, 2017

Serakah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai sikap yang selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki, padanan kata yang sering digunakan untuk kata serakah adalah loba, tamak, dan rakus. Serakah bisa juga digambarkan sebagai sikap seseorang yang sudah kaya tetapi tetap ingin mengangkangi atau mengambil hak-hak orang lain.

Sikap serakah ini dengan sangat mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang kaya yang tak pernah puas dengan kekayaannya sehingga menempuh berbagai cara untuk selalu berusa menumpuk harta, meskipun cara itu disadari merugikan orang lain, bahkan tak jarang dengan sengaja ia mengeksploitasi orang-orang miskin di sekitarnya, mendirikan usaha yang justeru tambah memiskinkan dan membuat menderita orang lain.

Sikap serakah ini seringkali juga diperagakan oleh penguasa. Dalam mitologi Yunani sebagaimana ditulis oleh Komaruddin Hidayat dalam Buku Tragedi Raja Midas, sikap serakah penguasa digambarkan dalam sosok Raja Midas. Sosok raja yang rakus dan selalu membanggakan kekuasaannya. Seolah tak pernah puas dengan mengabaikan kepentingan rakyatnya, suatu hari Raja Midas pergi bersemedi berdoa pada Sang Dewa, agar tangannya diberi kekuatan magic, sehingga setiap yang disentuhnya berubah menjadi emas.

Singkat cerita, permohonan Raja Midas pun dikabulkan. Bergegaslah Raja Midas kembali ke istananya, ia pun mulai menyentuh pagar dan tembok istananya dengan tangan magic-nya sembari membaca mantra, dalam sekejap pagar dan tembok istana itu berubah menjadi emas. Begitulah Raja menyentuh seluruh sisi istana dan isinya, sehingga istananya kini berubah menjadi istana emas.

Raja Midas pun bertepuk dada, berdiri pongah  dan bangga memandang istana emasnya.

Namun, masalah kemudian timbul, ketika Ia mulai lapar dan haus, bergegas menuju ruang makan dan tanpa pikir panjang Ia pun menyentuh makanannya, namun sebelum dimakan makanan dan minuman itu tiba-tiba berubah menjadi emas, Raja Midas kaget dan bingung, ia berteriak dan meminta tolong, hingga datanglah permaisuri yang dicintainya dengan tergopoh, ditengah kebingungan dan rasa sedih, tak sabar dipeluklah istrinya yang telah lama Ia rindukan itu, tetapi sekali lagi betapa kagetnya Raja Midas, begitu melihat kenyataan istrinya pun berubah menjadi emas.

Tragis! Setiap yang disentuh berubah menjadi emas. Raja Midas menjadi sedih, bingung, kesepian dan menyesal dan akhirnya menjadi gila. Rakyat yang dulu didzalimi Raja Midas pun mencemooh bercampur iba melihat keadaannya.

Kisah Raja Midas ini, semestinya menjadi pelajaran penting bagi setiap kita, karena sindrom Raja Midas ini bisa menimpa siapa saja yang sangat bangga dengan kekuasaan, kekuasaan yang sering disalahgunakan untuk menumpuk kekayaan. Barangkali tak sama persis dengan Raja Midas, yang lewat tangannya ia bisa menyulap apa saja menjadi emas, tetapi tangan magic itu bisa saja dimaknai sebagai sanak kerabat yang dilibatkan untuk mengangkangi semua pekerjaan, dari bagi-bagi jabatan hingga bagi-bagi proyek pekerjaan yang bisa disulap menjadi pundi-pundi emas.

Manusia yang mengidap penyakit serakah meskipun keadaannya berkecukupan secara lahiriyah, sebenarnya dia selalu kekurangan. Bahkan, dapat disebut miskin. Dia tidak pernah menemukan penyelesaian dari segala problem hidup yang diatasinya. Dia akan senantiasa dibingungkan dan dipusingkan dengan tumpukan problema yang tak ada habisnya. Sebelum ia menyadari bahwa dunia penuh permainan dan tipu daya, atau sebelum kematian menemuinya, orang yang serakah tidak akan pernah merasa cukup, meskipun secara fisik dia tidak mampu lagi berbuat apa-apa.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak Adam akan mengalami masa tua (pikun), kecuali yang dua; kerakusan terhadap harta benda, dan kerakusan terhadap (panjang) umur.” (HR. Bukhari Muslim)

Ingatlah keserakahan pasti akan berakhir. Keserakahan ibarat menggali kubangan penderitaan untuk diri sendiri. Keserakahan sama halnya dengan hanya mengejar hidup yang tidak otentik, fatamorgana, semu dan menipu. Padahal, hidup yang bermakna dan otentik itu adalah apa yang diberikan kepada orang lain, melayani masyarakat dengan niat tulus sebagai rasa syukur kepada Tuhan. 

Pengabdian yang tulus kepada rakyat, melayani tanpa pamrih sebagai penguasa akan dikenang oleh rakyat, sehingga paska berkuasa tetap dipuja dan disebut sebagai pemimpin baik, peduli dan tetap layak dihormati, pun sebaliknya jika serakah dan tamak, rakyat akan mencibir, mencemooh, dan ia akan dikenang sebagai penguasa dengan banyak sebutan buruk.