Pentil Sepeda

- September 26, 2017
Belakangan, kesadaran terhadap pola hidup ramah lingkungan mulai meningkat, salah satu caranya adalah dengan bersepeda. Bahkan, di beberapa daerah sepeda bukan lagi hanya sekedar digunakan untuk berolahraga di akhir pekan, beberapa orang menjadikannya sebagai sarana transportasi alternatif untuk pergi ke tempat kerja dan sebagiannya lagi telah menjadikan sepeda sebagai gaya hidup.

Berbagai komunitas sepeda pun lahir untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup tersebut, mulai dari orang tua hingga anak-anak larut dalam euphoria bersepeda. Komunitas Sepeda Ontel, Sepeda Fixie hingga Sepeda Gunung, bagi yang baru bersepeda memiliki banyak pilihan komunitas untuk bergabung.

Awal tahun 2009, adalah pertama kali saya bergabung dengan komunitas sepeda. Ketika itu saya memilih bergabung dengan Komunitas Metro Adventure Cycling Club (MadCyc), komunitas pecinta sepeda gunung. MadCyc memiliki agenda kumpul seminggu dua kali, Sabtu dan Minggu pagi di pojok Taman Kota.

Jumlah anggota MadCyc sedikit, dan sayalah yang paling yunior di komunitas,  pengetahuan soal track (jalur sepeda) hingga pengetahuan soal sepeda pun paling minim. Pengalaman gowes pertama , saya jalani hanya dengan berbekal percaya dan pasrah dengan para senior di MadCyc, "apapun yang terjadi di jalanan mereka tak mungkin tega membiarkan dan meninggalkanku," begitulah kira-kira sangkaan baik yang terlintas di pikiranku terhadap para senior waktu itu.

Saya pun akhirnya di ajak menempuh rute yang lumayan membuat napas ngos-ngosan dan dengkul seperti nyaris copot, melintasi sawah, menyebarangi kali, mendaki jalanan berbukit dan turunan yang lumayan curam dengan kondisi jalanan tanah yang tak rata. Acara gowes pertama saya yang dimulai jam 6 pagi dan berakhir hampir jam 12 itu pun mulus saya jalani, meskipun di beberapa titik saya harus menuntun sepeda karena tak sanggup menggowes-nya.

Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan, pada pengalaman gowes pertama tersebut, beberapa di antaranya adalah penting untuk tidak mengeksploitasi tenaga di awal, sehingga tetap bernapas panjang hingga finis, setiap ada jalanan mendaki pasti di depan ada jalanan menurun, setiap kali melewati turunan wajib menjaga keseimbangan, termasuk pelajaran pentingnya, sebagai pemula tak perlu banyak bertanya tentang panjang-pendek rute perjalanan, karena sebagai pemula semangatnya akan melemah dan menyerah akhirnya sebelum gowes begitu tau rute gowes jauh dan berat.

Begitulah pengalaman pertama yang mengesankan dan cukup membuat seluruh badan pegel, tetapi tak membuat jera. Bersepeda ternyata mengajarkan banyak hal, bukan hanya soal pola hidup yang sehat, tetapi juga soal pelajran tentang hidup. Jika selama ini banyak mendengar dan membaca soal filosofi bersepeda, menjalani dan menikmatinya langsung adalah sesuatu hal yang beda, gagal menjaga keseimbangan diturunan resikonya adalah jatuh dan lecet-lecet, gagal mengatur ritme nafas dan tenaga saat di tanjakan, maka bersiaplah dorong sepeda hingga ke puncak.

Ada pengalaman menarik di hari kedua, ketika saya sedang bersemangat gowes,  menyiapkan beberapa kebutuhan, seperti salep pereda rasa nyeri, balsem, air minum dan pisang rebus yang menyesaki tas punggung saya, sial tak bisa ditolak, ban sepeda kempis.

Setelah dipompa berkali-kali dan di bawa ke tempat tambal ban, ban sepeda tersebut tak kunjung juga terisi angin. Setengah tak bersemangat saya menelpon senior di MadCyc, bahwa saya itu hari tak ikut bergabung karena alasan ban sepeda tak bisa dipompa, dan saat mengubungi mereka itulah saya menjadi tahu bahwa pentil ban sepeda itu ada dua jenis, pentil presta (kecil) dan pentil schrader (besar), dan pompa harus menyesuaikan jenis pentil itu. Saya senang, masalah pertama menjadi teratasi meski saya tak bisa bergabung gowes di hari kedua.

Hingga kini, soal pentil ban sepeda itu begitu lekat di ingatan saya, menjadi pelajaran penting bahwa ada banyak hal yang dianggap kecil dan tak berharga dalam hidup ini, tetapi justeru sangat vital dan menentukan, tanpa mereka semuanya bisa gagal dan berjalan tidak normal, sehingga mereka juga wajib diperlakukan setara dan mendapatkan penghargaan yang adil.

Dibandingkan frame yang harganya puluhan juta, pentil sepeda yang kecil barangkali hanya se harga 35 ribu, bahkan kadang tak perlu beli, karena sudah dapat sepaket dengan ban. Namun, siapa sangka benda kecil yang sering disepelekan dan tak 'berharga' tersebut, sama vitalnya dengan frame yang seharga sepeda motor 'laki' itu. Jika pentil sepeda rusak, maka semahal apapun fram, shock, roda, atau rem sepeda, maka sepeda tersebut tidak akan bisa berfungsi normal, bannya tak bisa terisi angin, dipaksa untuk dinaiki, rodanya akan bengkok dan rusak.

Maka, semua pesepeda paham bagaimana menghargai pentil sepeda yang kecil itu, dibelikan penutup yang bagus, stok udara di ban selalu dikontrol, jangan sampai ban bocor di area dekat pentil, karena akan sulit menambalnya.



Advertisement